Abu Ad-Dahdah: Sahabat yang Menukar Kebun Kurma dengan Surga

Dates

Sebagian dari kita sering merasa khawatir ketika menginfakkan harta di jalan yang benar. Infak di sini dapat berupa nafkah wajib kepada istri dan anak, menunaikan zakat mal (zakat harta), maupun mengeluarkan sebagian harta untuk sedekah sunnah. Tidak sedikit hati yang diliputi rasa takut bahwa harta yang dikeluarkan akan berkurang.

Secara jumlah atau kuantitas, harta yang dikeluarkan memang tampak berkurang. Namun, perlu diingat bahwa harta yang diinfakkan di jalan Allah bisa menjadi sebab hadirnya keberkahan dalam kehidupan. Bisa jadi Allah menggantinya di dunia dengan rezeki yang lebih luas dan melimpah. Atau, Allah menganugerahkan hati yang penuh qana’ah, yaitu rasa cukup atas apa yang dimiliki, sebuah nikmat yang tidak ternilai dengan materi.

Lebih dari itu, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Dan puncak dari semua itu adalah pahala serta kenikmatan akhirat, sebuah kenikmatan yang jauh lebih agung, abadi, dan tidak dapat dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dunia.

Di antara para sahabat Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam, ada sosok yang mungkin tidak seterkenal Abu Bakr Ash-Shiddiq atau Umar bin Khattab, namun pengorbanannya menjadi pelajaran besar bagi umat Islam. Beliau adalah Abu Ad-Dahdah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat dari kaum Anshar yang dikenal karena keimanan, kedermawanan, dan keyakinannya terhadap janji Allah.


Siapakah Abu Ad-Dahdah?

Nama beliau dikenal sebagai Abu Ad-Dahdah Al-Anshari (الدحداح الأنصاري). Beliau termasuk sahabat Nabi shalallahu'alaihi wassalam dari penduduk Madinah yang menyambut dakwah Islam dengan penuh keikhlasan.

Beliau jelas termasuk kaum Anshar, yaitu penduduk Madinah yang menolong Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam dan kaum Muhajirin. Riwayat-riwayat sirah menyebut beliau berasal dari kabilah Anshar (umumnya dinisbatkan ke Khazraj/Bani al-Harith menurut sebagian ahli nasab).

Abu Ad-Dahdah dikenal sebagai seorang yang memiliki kebun kurma yang subur dan bernilai tinggi. Pada masa itu, kebun bukan sekadar harta biasa, melainkan sumber penghidupan utama bagi keluarga.


Kisah Abu Ad-Dahdah dan Pohon Kurma di Surga

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11).

‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah memberi nafkah pada keluarga. Yang tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa yg dimaksudkan dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah secara umum (baik itu di jalan Allah atau menafkahi keluarga) dengan niat yg ikhlas dan tekad yg jujur, ini semua tercakup dalam ayat di atas.

‘Abdullah bin Mas’ud menceritakan bahwa tatkala turun ayat di atas (surat Al Hadid ayat 11), Abud Dahdaa Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betul, wahai Abud Dahdaa.”
Kemudian Abud Dahdaa pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyodorkan tangannya. Abud Dahdaa pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.”

Ayat ini memperkuat pesan, yaitu bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak pernah hilang, tetapi akan kembali dalam bentuk balasan yang berlipat ganda. Dalam tafsir Tafsir Ibn Kathir disebutkan bahwa ayat ini mencakup seluruh bentuk infak yang dilakukan dengan niat yang ikhlas: untuk keluarga, untuk dakwah, untuk fakir miskin, maupun untuk kepentingan agama secara umum. Dan dalam riwayat tafsir, kisah Abu Ad-Dahdah disebut sebagai contoh nyata pengamalan ayat ini.

Ayat di atas semisal dengan firman Allah Ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)

Ayat ini bukan berarti Allah membutuhkan harta manusia, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya. Makna “meminjamkan kepada Allah” dalam ayat ini adalah menginfakkan harta di jalan Allah dengan penuh keikhlasan, tanpa riya, tanpa berharap pujian manusia, dan hanya mengharap ridha-Nya.

Suatu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita seorang pengusaha agar jangan pernah khawatir mengeluarkan harta untuk nafkah wajib, zakat atau pun sedekah yang sunnah. Lihatlah kisah tentang sahabat Abud Dahdaa Al Anshori berikut.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (no. 12482), Ibnu Hibban (no. 7159), dan Al-Hakim (no. 2194), dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Kemudian juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 965 dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu.

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِفُلَانٍ نَخْلَةً، وَأَنَا أُقِيمُ حَائِطِي بِهَا، فَأْمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِي حَتَّى أُقِيمَ حَائِطِي بِهَا.
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ.
فَأَبَى، فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَقَالَ: بِعْنِي نَخْلَتَكَ بِحَائِطِي.
فَفَعَلَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدِ ابْتَعْتُ النَّخْلَةَ بِحَائِطِي.
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ عِذْقٍ رَدَاحٍ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ.
فَأَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ: يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِي مِنَ الْحَائِطِ، فَإِنِّي قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ.
فَقَالَتْ: رَبِحَ الْبَيْعُ.
كَمْ مِنْ عِذْقٍ مُعَلَّقٍ أَوْ مُدَلًّى فِي الْجَنَّةِ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulan memiliki sebatang pohon kurma, sedangkan aku ingin membangun pagar kebunku dan pohon itu menghalangi pembangunannya. Maka perintahkanlah dia agar memberikannya kepadaku.
Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada pemilik pohon tersebut: ‘Berikanlah pohon itu kepadanya, dan sebagai gantinya engkau akan mendapatkan pohon kurma di surga.’
Namun orang itu menolak. Kemudian Abu Ad-Dahdah datang kepadanya dan berkata: ‘Juallah pohon kurmamu itu kepadaku dengan kebunku.’ Maka terjadilah transaksi tersebut.
Kemudian Abu Ad-Dahdah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku telah membeli pohon kurma itu dengan kebunku.’
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: ‘Betapa banyak tandan-tandan kurma yang lebat untuk Abu Ad-Dahdah di surga.’
Kemudian Abu Ad-Dahdah mendatangi istrinya dan berkata: ‘Wahai Ummu Ad-Dahdah, keluarlah dari kebun ini, karena aku telah menjualnya demi mendapatkan pohon kurma di surga.’
Istrinya pun menjawab: ‘Ini adalah jual beli yang sangat menguntungkan.’
Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: ‘Betapa banyak tandan-tandan kurma yang bergelantungan di surga untuk Abu Ad-Dahdah.’
Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.” Dan dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2964.

Al-Imam An-Nawawi menceritakan sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkan jenazah Abu Ad-Dahda, salah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Setelah beliau wafat dan dimakamkan, Rasulullah bersabda tentang banyaknya pohon-pohon kurma milik Abu Ad-Dahda dengan buah yang bergelantungan di surga Allah Jalla Jalaluhu.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Abu Ad-Dahda memiliki pohon kurma di surga Allah tersebut?

Al-Imam An-Nawawi menceritakan bahwa pernah terjadi perselisihan di antara dua orang dari kaum Anshar mengenai sebatang pohon kurma.

Dikisahkan, ada seorang anak muda yang hendak membuat pagar di kebunnya. Namun, di jalur pagar yang akan dibuat terdapat satu pohon kurma milik tetangganya. Anak muda tersebut kemudian meminta kepada tetangganya agar pohon kurma itu diikhlaskan dan dimasukkan ke dalam area pagar yang akan ia bangun. Akan tetapi, tetangganya tidak menyetujui permintaan tersebut. Akhirnya, anak muda itu mengadukan persoalan tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Rasulullah memanggil pemilik pohon kurma tersebut.

Rasulullah bersabda, “Berikanlah satu pohon kurma itu kepada anak muda tersebut, dan engkau akan mendapatkan satu pohon kurma di surga.”

Namun, sahabat tersebut tetap tidak mau karena sangat menyayangi pohon kurmanya.

Saat itulah Al Qur'an Surah Al Hadid ayat 11 tersebut turun. Kisah itu kemudian sampai ke telinga Abu Ad-Dahda. Beliau pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, jika pohon kurma itu aku beli, apakah janji tersebut tetap berlaku bagiku, sehingga aku mendapatkan satu pohon kurma di surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Seketika itu juga, Abu Ad-Dahda berangkat menemui sahabat Anshar yang memiliki pohon kurma tersebut. Sesampainya di sana, Abu Ad-Dahda berkata, “Apakah engkau mengetahui bahwa Abu Ad-Dahda memiliki kebun kurma yang berisi sekitar 400 hingga 600 pohon kurma?”

Sahabat Anshar itu menjawab, “Ya, aku tahu.”

Abu Ad-Dahda kemudian berkata, “Maukah engkau menukar satu pohon kurmamu itu dengan 600 pohon kurma dari kebunku?”

Sahabat tersebut menjawab, “Tentu aku mau.”

Abu Ad-Dahda pun berkata, “Kalau begitu, aku membelinya sekarang juga.”

Akhirnya, melalui pengorbanan tersebut, Abu Ad-Dahda memperoleh berlipat-lipat pohon kurma dengan buah yang bergelantungan serta harum di surga Allah Jalla Jalaluhu. MasyaAllah.

Para ahli sirah juga menceritakan bahwa setelah itu Abu Ad-Dahda kembali ke kebunnya. Saat itu, di dalam kebun terdapat istri dan anak-anaknya. Abu Ad-Dahda memanggil mereka seraya berkata, “Wahai Ummu Ad-Dahda, keluarlah kalian. Sesungguhnya kebun ini telah kita jual untuk ditukar dengan satu pohon kurma di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Mendengar hal itu, istrinya berkata, “Wahai Abu Ad-Dahda, sungguh beruntung dirimu.”


Pelajaran dari Abu Ad-Dahdah

  1. Yakin pada janji Allah
    Abu Ad-Dahdah tidak ragu sedikit pun ketika mendengar janji Allah. Baginya, apa yang diberikan di dunia akan diganti dengan balasan yang jauh lebih baik di akhirat.
  2. Keimanan yang nyata dalam tindakan
    Iman bukan hanya ucapan, tetapi diwujudkan dengan pengorbanan.
  3. Keluarga yang saling menguatkan dalam kebaikan
    Istri Abu Ad-Dahdah menjadi contoh pasangan yang mendukung perjuangan di jalan Allah.

Hikmah untuk Kehidupan Hari Ini

Di zaman sekarang, mungkin kita tidak memiliki kebun kurma seperti Abu Ad-Dahdah. Namun semangatnya tetap relevan: menggunakan harta, waktu, tenaga, dan kemampuan untuk sesuatu yang bernilai di sisi Allah.

Abu Ad-Dahdah mengajarkan bahwa harta yang kita simpan bisa habis, tetapi harta yang kita infakkan di jalan Allah akan menjadi investasi abadi.


Kesimpulan

Kisah Abu Ad-Dahdah radhiyallahu ‘anhu mengajarkan kepada kita bahwa keimanan yang sejati bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan melalui pengorbanan, keyakinan, dan ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى. Ketika banyak orang merasa berat melepaskan harta yang dicintai, Abu Ad-Dahdah justru menunjukkan bahwa apa pun yang diberikan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia.

Beliau rela menukar 600 pohon kurma yang dimilikinya di dunia demi satu pohon kurma di surga, yang kemudian Allah balas dengan pohon-pohon kurma yang berlipat ganda, penuh dengan buah-buah yang berjuntaian dan harum. Semua itu dilakukan karena keyakinan beliau bahwa janji Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah kebenaran. Sikap mulia tersebut juga didukung oleh keluarganya yang sama-sama memahami bahwa kenikmatan akhirat jauh lebih berharga daripada kenikmatan dunia.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa harta yang diinfakkan mungkin terlihat berkurang secara jumlah, tetapi pada hakikatnya akan mendatangkan keberkahan, ketenangan hati, dan balasan yang jauh lebih besar di sisi Allah. Sebab, apa yang kita simpan di dunia bisa habis, namun apa yang kita keluarkan di jalan Allah akan menjadi investasi abadi hingga akhirat kelak.


Comments

  1. MasyaAllah, tak terasa air mata menetes membayangkan kisah Abu Ad Dahdaa tersebut. Sungguh janji Allah itu memang benar selama kita tidak riya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Urutan Tanda-Tanda Kiamat Menurut Hadits Shahih dan Perkiraan Rentang Waktunya

Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih