Abu Ad-Dahda Radhiyallahu ‘Anhu: Sosok Sahabat Nabi yang Cerdas dan Zuhud

Abu Ad-Dahda

Di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terdapat sosok yang dikenal bukan hanya karena kedekatannya dengan ilmu, tetapi juga karena kezuhudan, kebijaksanaan, dan nasihat-nasihatnya yang menyentuh hati. Sosok tersebut adalah Abu Ad-Dahda radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat mulia yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.

Nama Abu Ad-Dahda mungkin tidak sepopuler beberapa sahabat besar lainnya di kalangan masyarakat umum, namun warisan ilmu, keteladanan akhlak, dan pandangan hidupnya telah menjadi inspirasi bagi banyak generasi muslim sepanjang zaman. Beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang memiliki kecerdasan, kedalaman ilmu agama, serta kemampuan memberikan nasihat yang sarat makna.

Perjalanan hidup Abu Ad-Dahda juga menunjukkan bagaimana Islam mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih matang secara spiritual. Dari seorang pedagang yang sibuk dengan urusan dunia, beliau kemudian menjadi seorang ahli ibadah, pencinta ilmu, sekaligus guru bagi banyak kaum muslimin.

Melalui kisah hidup Abu Ad-Dahda, kita dapat belajar tentang pentingnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, menjaga hati dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu siapakah sebenarnya Abu Ad-Dahda? Bagaimana perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu sahabat yang dikenal dengan kebijaksanaannya? Mari kita mengenal lebih dekat sosok mulia ini.


Siapa Abu Ad-Dahda?

Nama asli beliau adalah Uwaimir bin Amir bin Mâlik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka‘b bin Khazraj bin Al-Harits bin Khazraj. Ada pula yang berpendapat bahwa nama beliau adalah Amir bin Mâlik, sedangkan Uwaimir merupakan julukannya. Namun, beliau lebih dikenal dengan kunyah Abu Ad-Dahda karena anak pertamanya bernama Ad-Dahda, seorang anak perempuan.

Abu Ad-Dahda adalah salah seorang sahabat dari kaum Anshar yang berasal dari kabilah Khazraj. Sebelum memeluk Islam, beliau menganut agama Yahudi. Beliau lahir di Madinah, Arab Saudi, sekitar 44 tahun sebelum Hijriah (580 Masehi), dan wafat di Damaskus, Suriah, pada tahun 32 Hijriah, pada masa kekhalifahan Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Ibunya bernama Mahabbah binti Wâqid bin Amir bin Ithnâbah. Sementara itu, istrinya bernama Hujaimah bintu Huyay Al-Washabiyah. Beliau adalah wanita kedua yang dinikahi oleh Abu Ad-Dahda setelah istri pertamanya, Khairah binti Hadrad, meninggal dunia.

Untuk membedakannya dengan Khairah, Hujaimah dikenal dengan nama Ummu Ad-Dahda Ash-Shugra (yang lebih muda). Beliau merupakan seorang wanita dari kalangan tabi'in yang memiliki pemahaman agama yang mendalam. Bahkan, Hujaimah disebut sebagai salah satu murid kesayangan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam mempelajari hadits.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Abu Ad-Dahda dengan Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Karena persaudaraan tersebut, Salman pernah menginap di rumah Abu Ad-Dahda.


Kehidupan Sebelum Masuk Islam

Sebelum cahaya Islam menyentuh hatinya, Abu Ad-Dahda radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai seorang pedagang yang cukup berhasil di kota Madinah. Beliau memiliki kemampuan berdagang yang baik dan termasuk orang yang disegani di tengah kaumnya.

Pada masa itu, sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, Abu Ad-Dahda masih memegang keyakinan nenek moyangnya. Di rumahnya terdapat patung yang dijadikan sesembahan, sebagaimana tradisi penyembahan berhala yang masih berkembang di sebagian masyarakat saat itu.

Selain dikenal sebagai seorang pedagang, Abu Ad-Dahda juga memiliki kecerdasan, keteguhan pendirian, dan kemampuan berpikir yang matang. Sifat-sifat inilah yang kelak menjadi salah satu sebab mudahnya beliau menerima kebenaran ketika hidayah Islam datang kepadanya.

Sebelum memeluk Islam, Abu Ad-Dahda juga dikenal memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar. Persahabatan inilah yang kemudian menjadi salah satu jalan yang mengantarkan Abu Ad-Dahda kepada hidayah Islam.


Proses Masuk Islam

Abdullah bin Rawahah adalah sahabat dekat Abu Ad-Dahda. Namun, ketika Abdullah telah memeluk Islam, Abu Ad-Dahda masih tetap dengan keyakinannya. Meski demikian, persahabatan keduanya tidak pernah terputus.

Pada suatu hari, Abu Ad-Dahda menghabiskan waktunya di toko. Ia sibuk berjual beli dan mengawasi para pekerjanya. Menjelang sore, ia pun pulang ke rumah dengan membawa rasa lelah setelah seharian beraktivitas.

Betapa terkejutnya Abu Ad-Dahda ketika mendapati istrinya duduk di dekat pintu kamar tempat patung sembahannya, sambil menangis. Raut ketakutan tampak jelas di wajah istrinya.

“Ada apa?” tanya Abu Ad-Dahda.

“Temanmu, Abdullah bin Rawahah, tadi datang ke sini,” jawab istrinya di sela isak tangis. “Dia menghancurkan patung sembahan kita.”

Abu Ad-Dahda segera menoleh ke kamar patung. Ia terkejut ketika melihat patung itu telah hancur berkeping-keping. Dengan penuh emosi, ia berniat mencari Abdullah bin Rawahah karena menurutnya sahabatnya itu harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Kemudian, ia memungut dan mengumpulkan pecahan berhala itu seraya berkata, “Betapa bodohnya kalian! Mengapa kalian tidak melawan? Mengapa kalian tidak membela diri kalian sendiri?”

Ummu Ad-Dahda lalu berkata, “Jika mereka mampu memberi manfaat dan menolak bahaya bagi orang lain, tentu mereka juga mampu melakukannya untuk diri mereka sendiri.”

Mendengar perkataan istrinya, Abu Ad-Dahda pun berpikir, “Seandainya patung itu benar-benar tuhan, tentu ia mampu membela dirinya sendiri.”

Setelah itu, ia meninggalkan patung tersebut dan tetap berusaha mencari Abdullah. Sebelum pergi, Abu Ad-Dahda berkata kepada istrinya, “Tolong siapkan air di tempat mandi untukku. Siapkan juga pakaian dan perlengkapannya.”

Setelah bersiap, ia pun pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat kedatangan Abu Ad-Dahda, Abdullah bin Rawahah berkata, “Wahai Rasulullah, itu Abu Ad-Dahda. Menurutku, ia datang untuk menuntut balas kepada kami.”

Rasulullah menjawab, “Kedatangannya adalah untuk memeluk Islam. Sesungguhnya Rabb-ku telah menjanjikan kepadaku bahwa Abu Ad-Dahda akan memeluk Islam.”

Sejak detik pertama Abu Ad-Dahda beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ia beriman dengan sebenar-benarnya keimanan. Ia sangat menyesal karena terlambat memeluk Islam. Sementara itu, sahabat-sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang agama Allah. Mereka telah menghafal Al-Qur’an, tekun beribadah, dan senantiasa menanamkan ketakwaan dalam diri mereka.

“Aku harus mengejar ketertinggalanku,” ucap Abu Ad-Dahda pada suatu ketika.

Tekad itu benar-benar ia buktikan. Siang dan malam, ia bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan memperbanyak ibadah. Untuk sementara waktu, ia bahkan mengurangi kesibukannya dengan urusan dunia.

Abu Ad-Dahda mencurahkan perhatiannya kepada ilmu seperti orang yang kehausan. Ia mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Siang dan malam, ia berusaha memahami kandungan Al-Qur’an.

Ketika ia merasa bahwa perdagangannya mulai menghalangi ibadah dan menghadiri majelis-majelis ilmu, ia pun meninggalkannya tanpa ragu dan tanpa penyesalan.

Abu Ad-Dahda termasuk orang yang sangat beruntung karena dapat belajar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam waktu yang relatif singkat, ia bahkan mampu menyamai sahabat-sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam.

Banyak sahabat yang merasa kagum karena Abu Ad-Dahda telah menghafal Al-Qur’an sebagaimana mereka yang telah lama memeluk Islam. Pada masa berikutnya, ia dikenal sebagai seorang ahli hadits, ahli fikih, ahli hikmah, seorang pemikir, sekaligus sosok yang memiliki kemampuan diplomasi.


Keutamaan Abu Ad-Dahda

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Abu Ad-Dahda diangkat untuk menjadi pejabat tinggi di wilayah Syam. Namun, Abu Ad-Dahda menolak pengangkatan tersebut. Sikap itu sempat membuat Khalifah Umar merasa marah kepadanya.

Abu Ad-Dahda kemudian berkata, “Jika Anda menghendaki aku pergi ke Syam, maka aku bersedia pergi untuk mengajarkan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah kepada mereka, serta menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.”

Khalifah Umar pun menyukai usulan Abu Ad-Dahda tersebut. Setelah itu, Abu Ad-Dahda berangkat menuju Damsyik.

Setibanya di sana, ia mendapati sebagian masyarakat telah terlena oleh kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Pemandangan itu sangat menyedihkan hatinya. Maka, Abu Ad-Dahda memanggil orang-orang untuk berkumpul di masjid, lalu berdiri dan berpidato di hadapan mereka.

Beliau berkata:“Wahai penduduk Damsyik! Kalian adalah saudara-saudaraku seagama, tetangga senegeri, dan pembela dalam menghadapi musuh bersama.

Wahai penduduk Damsyik! Aku merasa heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak menyukai diriku? Padahal, aku tidak mengharapkan balasan apa pun dari kalian. Nasihatku adalah untuk kebaikan kalian, sedangkan kebutuhanku bukan berasal dari kalian.

Aku tidak suka melihat para ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap berada dalam kebodohannya. Aku hanya menginginkan agar kalian melaksanakan segala perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

Aku juga tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak menggunakannya untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang megah, tetapi tidak kalian tempati. Kalian pun mencita-citakan sesuatu yang belum tentu dapat kalian capai.

Bangsa-bangsa sebelum kalian juga pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan memiliki cita-cita setinggi-tingginya. Namun, tidak lama kemudian harta yang mereka kumpulkan habis, cita-cita mereka hancur, dan bangunan-bangunan megah yang mereka dirikan akhirnya runtuh, lalu berubah menjadi kuburan.

Wahai penduduk Damsyik! Inilah kaum ‘Ad, kaum Nabi Hud ‘alaihis salam, yang dahulu memenuhi negeri antara Aden dan Oman dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani membeli peninggalan kaum ‘Ad itu dariku dengan harga dua dirham?”

Mendengar pidato Abu Ad-Dahda tersebut, orang-orang pun menangis hingga suara isak tangis mereka terdengar sampai ke luar masjid.

Sejak hari itu, Abu Ad-Dahda senantiasa menghadiri majelis-majelis masyarakat Damsyik dan mendatangi pasar-pasar. Jika ada orang yang bertanya kepadanya, beliau menjawabnya. Jika bertemu dengan orang yang belum memahami ilmu, beliau mengajarinya. Jika melihat orang yang lalai, beliau mengingatkannya.

Abu Ad-Dahda memanfaatkan setiap kesempatan untuk berdakwah, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepadanya.


Memiliki Sifat Zuhud

Abu Ad-Dahda tidak meninggalkan perdagangan sepenuhnya. Beliau hanya meninggalkan kecintaan terhadap dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya, sesuap nasi sudah cukup untuk menguatkan tubuh, dan sehelai pakaian kasar sudah cukup untuk menutupi badan.

Pada suatu malam yang sangat dingin, sekelompok tamu bermalam di rumahnya. Abu Ad-Dahda menjamu mereka dengan makanan hangat, tetapi tidak menyediakan selimut bagi mereka.

Ketika hendak tidur, para tamu itu mulai mempertanyakan selimut. Salah seorang di antara mereka berkata, “Biarlah aku menanyakan hal ini kepada Abu Ad-Dahda.”

Orang yang lain berkata, “Tidak perlu.”

Namun, orang tersebut tetap bersikeras dan tidak menghiraukan saran temannya. Ia pun berjalan menuju kamar Abu Ad-Dahda.

Ketika sampai di depan pintu, ia melihat Abu Ad-Dahda sedang berbaring, sementara istrinya duduk di sampingnya. Keduanya hanya mengenakan pakaian tipis yang tampaknya tidak mampu melindungi mereka dari dinginnya malam.

Orang itu lalu bertanya kepada Abu Ad-Dahda, “Aku melihat engkau sama seperti kami, berada di tengah malam yang dingin tanpa selimut. Ke manakah semua kekayaan dan harta bendamu?”

Abu Ad-Dahda menjawab, “Kami memiliki sebuah rumah di kampung sana. Setiap kali kami memperoleh harta, kami langsung mengirimkannya ke sana. Seandainya masih ada yang tersisa di sini, termasuk selimut, tentu sudah kami berikan kepada kalian.

Selain itu, jalan menuju rumah kami yang baru sangat sulit dan menanjak. Karena itu, membawa barang yang ringan jauh lebih baik daripada membawa beban yang berat. Kami sengaja meringankan beban agar perjalanan menjadi lebih mudah.”

Kemudian Abu Ad-Dahda bertanya, “Apakah engkau memahaminya?”

Orang itu menjawab, “Ya, aku memahaminya.”


Nasehat Salman pada Abu Ad-Dahda

Salman Al-Farisi telah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Ad-Dahda’. Ada sebuah nasihat berharga yang pernah disampaikan Salman kepada Abu Ad-Dahda’. Nasihat tersebut kemudian dibenarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu agar Abu Ad-Dahda’ tidak hanya sibuk beribadah hingga melupakan waktu istirahat dan mengabaikan hak keluarganya.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah, ia berkata:

آخَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ سَلْمَانَ ، وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً . فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِى الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ، فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا . فَقَالَ كُلْ . قَالَ فَإِنِّى صَائِمٌ . قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ . قَالَ فَأَكَلَ . فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ . قَالَ نَمْ . فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ . فَقَالَ نَمْ . فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمِ الآنَ . فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ . فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ سَلْمَانُ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Ad-Dahda’. Ketika Salman bertandang ke rumah Abu Ad-Dahda’, ia melihat Ummu Ad-Dahda’ (istri Abu Ad-Dahda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang kusut. Salman pun bertanya kepadanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu Abu Ad-Dahda’ sudah tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap urusan dunia.’
Kemudian Abu Ad-Dahda’ datang dan menyiapkan makanan untuk Salman. Setelah itu, Abu Ad-Dahda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena aku sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Aku tidak akan makan sampai engkau ikut makan.’ Maka Abu Ad-Dahda’ pun ikut makan.
Pada malam harinya, Abu Ad-Dahda’ bangun untuk melaksanakan salat malam. Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah.’ Maka Abu Ad-Dahda’ pun kembali tidur.
Ketika Abu Ad-Dahda’ kembali bangun untuk melaksanakan salat malam, Salman kembali berkata kepadanya, ‘Tidurlah.’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah.’ Lalu keduanya melaksanakan salat bersama.
Setelah itu, Salman berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka, penuhilah hak masing-masing.’
Kemudian Abu Ad-Dahda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang telah terjadi. Beliau lalu bersabda, ‘Salman benar.’ (HR. Bukhari no. 1968).

Mempunyai Pohon Kurma di Surga

Kisah Abu Ad-Dahdah dan Pohon Kurma di Surga

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (no. 12482), Ibnu Hibban (no. 7159), dan Al-Hakim (no. 2194), dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Kemudian juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 965 dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu.

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِفُلَانٍ نَخْلَةً، وَأَنَا أُقِيمُ حَائِطِي بِهَا، فَأْمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِي حَتَّى أُقِيمَ حَائِطِي بِهَا.
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ.
فَأَبَى، فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَقَالَ: بِعْنِي نَخْلَتَكَ بِحَائِطِي.
فَفَعَلَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدِ ابْتَعْتُ النَّخْلَةَ بِحَائِطِي.
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ عِذْقٍ رَدَاحٍ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ.
فَأَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ: يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِي مِنَ الْحَائِطِ، فَإِنِّي قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ.
فَقَالَتْ: رَبِحَ الْبَيْعُ.
كَمْ مِنْ عِذْقٍ مُعَلَّقٍ أَوْ مُدَلًّى فِي الْجَنَّةِ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulan memiliki sebatang pohon kurma, sedangkan aku ingin membangun pagar kebunku dan pohon itu menghalangi pembangunannya. Maka perintahkanlah dia agar memberikannya kepadaku.
Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada pemilik pohon tersebut: ‘Berikanlah pohon itu kepadanya, dan sebagai gantinya engkau akan mendapatkan pohon kurma di surga.’
Namun orang itu menolak. Kemudian Abu Ad-Dahdah datang kepadanya dan berkata: ‘Juallah pohon kurmamu itu kepadaku dengan kebunku.’ Maka terjadilah transaksi tersebut.
Kemudian Abu Ad-Dahdah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku telah membeli pohon kurma itu dengan kebunku.’
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: ‘Betapa banyak tandan-tandan kurma yang lebat untuk Abu Ad-Dahdah di surga.’
Kemudian Abu Ad-Dahdah mendatangi istrinya dan berkata: ‘Wahai Ummu Ad-Dahdah, keluarlah dari kebun ini, karena aku telah menjualnya demi mendapatkan pohon kurma di surga.’
Istrinya pun menjawab: ‘Ini adalah jual beli yang sangat menguntungkan.’
Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: ‘Betapa banyak tandan-tandan kurma yang bergelantungan di surga untuk Abu Ad-Dahdah.’”

Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.” Dan dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2964.

Al-Imam An-Nawawi menceritakan sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkan jenazah Abu Ad-Dahda, salah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Setelah beliau wafat dan dimakamkan, Rasulullah bersabda tentang banyaknya pohon-pohon kurma milik Abu Ad-Dahda yang bergelantungan di surga Allah Jalla Jalaluhu.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Abu Ad-Dahda memiliki pohon kurma di surga Allah tersebut?

Al-Imam An-Nawawi menceritakan bahwa pernah terjadi perselisihan di antara dua orang dari kaum Anshar mengenai sebatang pohon kurma.

Dikisahkan, ada seorang anak muda yang hendak membuat pagar di kebunnya. Namun, di jalur pagar yang akan dibuat terdapat satu pohon kurma milik tetangganya. Anak muda tersebut kemudian meminta kepada tetangganya agar pohon kurma itu diikhlaskan dan dimasukkan ke dalam area pagar yang akan ia bangun. Akan tetapi, tetangganya tidak menyetujui permintaan tersebut. Akhirnya, anak muda itu mengadukan persoalan tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Rasulullah memanggil pemilik pohon kurma tersebut.

Rasulullah bersabda, “Berikanlah satu pohon kurma itu kepada anak muda tersebut, dan engkau akan mendapatkan satu pohon kurma di surga.”

Namun, sahabat tersebut tetap tidak mau karena sangat menyayangi pohon kurmanya.

Kisah itu kemudian sampai ke telinga Abu Ad-Dahda. Beliau pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, jika pohon kurma itu aku beli, apakah janji tersebut tetap berlaku bagiku, sehingga aku mendapatkan satu pohon kurma di surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Seketika itu juga, Abu Ad-Dahda berangkat menemui sahabat Anshar yang memiliki pohon kurma tersebut. Sesampainya di sana, Abu Ad-Dahda berkata, “Apakah engkau mengetahui bahwa Abu Ad-Dahda memiliki kebun kurma yang berisi sekitar 400 hingga 600 pohon kurma?”

Sahabat Anshar itu menjawab, “Ya, aku tahu.”

Abu Ad-Dahda kemudian berkata, “Maukah engkau menukar satu pohon kurmamu itu dengan 600 pohon kurma dari kebunku?”

Sahabat tersebut menjawab, “Tentu aku mau.”

Abu Ad-Dahda pun berkata, “Kalau begitu, aku membelinya sekarang juga.”

Akhirnya, melalui pengorbanan tersebut, Abu Ad-Dahda memperoleh satu pohon kurma di surga Allah Jalla Jalaluhu. MasyaAllah.

Para ahli sirah juga menceritakan bahwa setelah itu Abu Ad-Dahda kembali ke kebunnya. Saat itu, di dalam kebun terdapat istri dan anak-anaknya. Abu Ad-Dahda memanggil mereka seraya berkata, “Wahai Ummu Ad-Dahda, keluarlah kalian. Sesungguhnya kebun ini telah kita jual untuk ditukar dengan satu pohon kurma di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Mendengar hal itu, istrinya berkata, “Wahai Abu Ad-Dahda, sungguh beruntung dirimu.”


Nasihat Abu Ad-Dahda

Beliau radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan sedikit tertawa dan jarang berbuat hasad.” Beliau juga berkata, “Ada tiga hal yang membuatku tertawa dan tiga hal yang membuatku menangis.

Tiga hal yang membuatku tertawa yaitu:

  1. Orang yang cita-citanya hanya tertuju pada urusan dunia, padahal kematian selalu mengintainya.
  2. Orang yang lalai terhadap kematian, padahal kematian tidak pernah lalai kepadanya.
  3. Orang yang menghabiskan hidupnya dengan banyak tertawa, sementara ia tidak mengetahui apakah Allah ‘Azza wa Jalla murka atau ridha kepadanya.

Adapun tiga hal yang membuatku menangis adalah:

  1. Dahsyatnya hari kiamat
  2. Terputusnya amal
  3. Dan keadaanku di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, apakah aku akan dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam neraka.”

Beliau juga pernah berkata:

  • Wahai manusia, injakkan kakimu ke tanah. Sesungguhnya sebentar lagi tanah itu akan menjadi kuburmu.
  • Wahai manusia, sesungguhnya hidupmu hanyalah beberapa hari. Setiap kali waktu berlalu, berarti sebagian dari hidupmu telah pergi.
  • Wahai manusia, sesungguhnya sejak engkau keluar dari rahim ibumu, saat itu pula umurmu terus berkurang.

Wafatnya Abu Ad-Dahda dan Warisan Ilmunya

Syumaith bin Ajlan rahimahullah berkata, “Ketika Abu Ad-Dahda’ radhiyallahu ‘anhu hendak meninggal dunia, beliau terlihat gelisah. Ummu Ad-Dahda’ radhiyallahu ‘anha berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Ad-Dahda’, bukankah engkau pernah memberitahuku bahwa engkau mencintai kematian?’

Abu Ad-Dahda’ radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Demi Allah, benar. Akan tetapi, ketika aku yakin bahwa saat kematianku telah dekat, aku menjadi merasa berat menghadapi kematian.’ Kemudian Abu Ad-Dahda’ radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata, ‘Sekarang adalah detik-detik akhir hidupku di dunia ini. Bimbinglah aku mengucapkan laa ilaaha illallah.’ Akhirnya, Abu Ad-Dahda’ radhiyallahu ‘anhu terus mengucapkan kalimat tersebut hingga beliau meninggal dunia.”

Beliau wafat dua tahun sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yaitu pada tahun 32 Hijriah, di kota Dimasyq (Damsyik), wilayah Syam, yang sekarang dikenal dengan nama Damaskus, di negara Suriah.

[Usudul Ghâbah, 4/18–19, no. 4136]


Kesimpulan

Kisah hidup Abu Darda radhiyallahu ‘anhu memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal karena keluasan ilmu, kedalaman iman, kezuhudan terhadap dunia, serta kebijaksanaan dalam menyampaikan nasihat.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana Islam mampu mengubah seseorang dari kehidupan yang sibuk dengan urusan dunia menjadi pribadi yang mengutamakan ilmu, ibadah, dan akhirat. Abu Darda juga menjadi teladan dalam berdakwah, mendidik masyarakat, serta menunaikan hak Allah, hak diri sendiri, dan hak keluarga secara seimbang.

Nasihat-nasihat beliau tentang kematian, kehidupan dunia, dan persiapan menuju akhirat tetap relevan hingga hari ini. Dari sosok Abu Darda, kita belajar bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketakwaan, ilmu, amal saleh, dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah merahmati Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari kehidupan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin.


Comments

Popular posts from this blog

Urutan Tanda-Tanda Kiamat Menurut Hadits Shahih dan Perkiraan Rentang Waktunya

Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih