Apakah Negara Israel Keturunan Bani Israil: Sejarah Lengkap Bani Israil
Istilah “Israel” sering menjadi topik yang menarik sekaligus sensitif, baik dalam konteks sejarah, agama, maupun geopolitik modern. Banyak orang bertanya-tanya: mengapa disebut “Israel”? Apakah nama ini merujuk pada suatu negara, bangsa, atau justru sosok tertentu dalam sejarah? Lebih jauh lagi, dari keturunan nabi siapakah bangsa Israel berasal?
Untuk memahami hal ini secara utuh, kita perlu menelusuri sejarah panjang yang berakar dari kisah para nabi dalam tradisi agama samawi, khususnya dari garis keturunan Nabi Ibrahim. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam asal-usul nama Israel, siapa tokoh yang pertama kali disebut Israel, serta bagaimana terbentuknya Bani Israil sebagai sebuah bangsa.
Pengertian Israel
Penulisan kata Israel menurut KBBI dan secara Internasional adalah Israel dibaca pakai huruf "e", tapi dalam litarasi bahasa Arab ditulis Isrā’īl (إسرائيل) dibaca pakai huruf "i".
Dalam perspektif sejarah dan agama, “Israel” bukanlah nama negara pada awalnya, melainkan nama lain dari seorang nabi, yaitu Nabi Ya'qub putra dari Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim. Nama lengkap beliau adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nama ini memiliki makna spiritual dan historis yang penting dalam tradisi agama samawi.
Asal kata Israel berasal dari bahasa Ibrani Yisra'el (יִשְׂרָאֵל), yang berakar dari kata sarah (bergumul/berjuang) dan El (Allah/Tuhan). Nama ini diberikan kepada Yakub setelah bergulat dengan sosok ilahi (Malaikat Tuhan), yang secara harfiah diartikan sebagai "dia yang bergumul dengan Allah" atau "Allah berjaya".
Berdasarkan kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dimana Kisah Yakub ini dijelaskan: Dalam Kejadian 32:28, nama Yakub diubah menjadi Israel oleh Tuhan setelah ia bergumul hingga fajar, melambangkan perjuangan dan ketekunan.
Sementara dalam versi Bahasa Arab/Islam: Dalam beberapa literatur, nama ini dikaitkan dengan Nabi Ya'qub 'Alaihissalam, di mana Isra berarti hamba dan Il berarti Allah, sehingga diartikan sebagai "hamba Allah" (Abdullah).
Kenapa disebut Bani Israil
Kata “Bani” sendiri dalam bahasa Arab berarti “anak-anak” atau “keturunan”. Jadi, istilah “Bani Israil” secara langsung berarti “keturunan Nabi Ya’qub”.
Untuk memahami asal usulnya, berikut silsilahnya:
- Nabi Ibrahim
- Nabi Ishaq (putra Nabi Ibrahim)
- Nabi Ya’qub (putra Nabi Ishaq yang disebut Israel)
- Bani Israil (keturunan Nabi Ya’qub)
Nabi Ibrahim memiliki dua garis keturunan besar:
- Dari Nabi Ismail → menjadi bangsa Arab
- Dari Nabi Ishaq → menjadi Bani Israil
Hal ini menjelaskan bahwa Bani Israil dan bangsa Arab masih memiliki hubungan kekerabatan dari Nabi Ibrahim, meskipun berasal dari jalur yang berbeda.
Awal Mula Bani Israil
Sejarah Bani Israil dimulai dari keluarga Nabi Ya’qub yang memiliki 12 orang anak laki-laki. Dari mereka inilah terbentuk 12 suku Bani Israil.
- Ruben
- Simeon
- Lewi (Levi)
- Yehuda
- Dan
- Naftali
- Gad
- Asyer
- Isakhar
- Zebulon
- Yusuf (Nabi)
- Benyamin
Dua belas anak ini kemudian berkembang menjadi kelompok besar yang menyebar dan membentuk struktur sosial tersendiri. Perlu diketahui dari garis keturunan Yehuda setelah beberapa periode lahirlah Nabi Daud yang diwahyukan Allah kitab Zabur untuk bani Israil yang beragama Yahudi, kemudian Nabi Daud mempunyai putra bernama Nabi Sulaiman, setelah Nabi Sulaiman berlanjut beberapa kenerasi hingga berakhir ke Nabi Isa yang diwahyukan Allah kitab Injil kepada bani Israil dengan agama Nasrani.
Kemudian dari garis keturunan Lewi (Levi) berlanjut beberapa periode berakhir ke Nabi Musa yang diwahyukan Allah kitab Taurat yang ditujukan untuk bani Israil yang beragama Yahudi.
Jadi pada hakikatnya Bani Israil ini sudah diajarkan Allah dengan 3 kitabullah yakni Zabur, Taurat dan terakhir Injil, akan tetapi dikarenakan keserakahannya banyak yang tidak meyakininya dan mereka disebut Allah sebagai orang yang fasik (tidak taat aturan Allah dan Rasulnya) dalam Al Qur'an surat Al maidah ayat 25.
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ٢٥
Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun, kecuali atas diriku sendiri dan saudaraku. Oleh sebab itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu". [Al Qur'an Surah Al Maidah (5) ayat 25]
Apakah Negara Israel Saat Ini merupakan keturunan Bani Israil?
Jawabannya: Tidak bisa disamakan secara langsung. Bani Israil adalah istilah etnis-religius kuno, sedangkan Israel adalah nama negara modern. Meskipun terdapat komunitas Yahudi yang secara historis dianggap keturunan bangsa Israel, penduduk Negara Israel saat ini adalah campuran dari berbagai latar belakang, menjadikannya entitas geopolitik modern. Jadi meskipun memiliki hubungan historis, keduanya berbeda dalam konteks dan makna.
Israel ialah sebuah negara yang dikelilingi oleh Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Gurun Pasir Sinai. Ibu kota Israel ialah Yerusalem. Israel adalah nama negara yang diinisiasi oleh zionisme internasional untuk menampung yahudi.
Zionis adalah penganut paham dan gerakan Zionisme. Zionisme ini berasal dari kata Zio, yaitu nama bukit yang ada di kawasan Jerusalem (Al-Quds). Zionisme adalah gerakan nasionalis Yahudi Internasional yang menghasilkan negara Israel di Wilayah Palestina.
Sejarah Bani Israil dari Masa ke Masa
1. Masa Nabi Yusuf
اَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَّرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ١٢ قَالَ اِنِّيْ لَيَحْزُنُنِيْ اَنْ تَذْهَبُوْا بِهٖ وَاَخَافُ اَنْ يَّأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَاَنْتُمْ عَنْهُ غٰفِلُوْنَ١٣ قَالُوْا لَىِٕنْ اَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ اِنَّآ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ١٤ فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ١٥
12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya. 13. Dia (Yakub) berkata, "Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya. 14. Sesungguhnya mereka berkata, "Jika dia dimakan serigala, padahal kami kelompok (yang kuat), maka tentu kami menjadi orang-orang yang merugi. 15. Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, "Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari. [Al Qur'an Surah Yusuf (111) ayat 12-15]
Salah satu kisah penting dalam sejarah Bani Israil adalah kisah Nabi Yusuf, putra Nabi Ya’qub.
Beliau sempat dibuang oleh saudara-saudaranya, namun akhirnya menjadi pejabat penting di Mesir. Karena kondisi kelaparan, keluarga Nabi Ya’qub akhirnya pindah ke Mesir dan menetap di sana.
Ini menjadi awal berkembangnya Bani Israil sebagai komunitas besar.
2. Penindasan di Mesir
وَاِذۡ نَجَّيۡنٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ يَسُوۡمُوۡنَكُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ يُذَبِّحُوۡنَ اَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُوۡنَ نِسَآءَكُمۡؕ وَفِىۡ ذٰلِكُمۡ بَلَاۤءٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ عَظِيۡمٌ ٤٩
Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu. [Al Qur'an Surah Al Baqarah (2) ayat 49]
Setelah wafatnya Nabi Yusuf, generasi pun berganti, dan Bani Israil mengalami masa-masa sulit. Raja Mesir yang berkuasa pada saat itu adalah Fir'aun (Ramses II), yang memerintah sekitar tahun 1279–1213 SM. Raja tersebut tidak lagi mengenal keturunan Nabi Yusuf, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri di Kerajaan Mesir. Fir'aun merasa khawatir karena jumlah Bani Israil semakin banyak dan dikhawatirkan dapat menjadi ancaman politik. Oleh karena itu, mereka diperbudak, dipaksa melakukan pekerjaan berat, serta mengalami berbagai bentuk penindasan.
Penindasan tersebut kemudian semakin meningkat. Bahkan, muncul perintah untuk membunuh bayi laki-laki dari Bani Israil, sementara bayi perempuan dibiarkan hidup. Firaun mendapat informasi (berupa mimpi atau kabar dari ahli nujum) bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan tumbuh menjadi seorang pria yang menghancurkan kerajaan Mesir dan menjatuhkan kekuasaannya. Peristiwa ini juga sejalan dengan narasi dalam Al-Qur'an tentang Fir'aun yang “menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan perempuan-perempuan mereka hidup.”
Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah mereka yang merupakan kehancuran pertama Bani Isra'il.
3. Pembebasan oleh Nabi Musa
فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ٦٠ فَلَمَّا تَرَآءَ الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَۚ٦١ قَالَ كَلَّاۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ٦٢ فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِۚ٦٣ وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَۚ٦٤ وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَۚ٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ٦٦
60. Lalu (Fir'aun dan bala tentaranya) dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit. 61 Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Kita benar-benar akan tersusul". 62. Dia (Musa) menjawab, "Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." 63. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. 64. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. 65. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. 66. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.[Surah Asy-Syu’ara (26) ayat 60–66]
Allah mengutus Nabi Musa untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan. Dengan berbagai mukjizat, Nabi Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir. Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu kejadian besar dalam sejarah agama. Namun dalam perjalanan, Bani Israil sering kali membangkang dan tidak taat. Nabi Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir, meskipun dalam perjalanan mereka sering membangkang.
4. Kembali ke Tanah Kanaan
قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۚ يَتِيْهُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَࣖ ٢٦
(Allah) berfirman, “(Jika demikian,) sesungguhnya (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih atas (nasib) kaum yang fasik itu.” [Al Qur'an Surah Al Maidah (5) ayat 26]
Penjelasan ayat di atas adalah setelah menerima pengaduan Nabi Musa, Allah berfirman, “Jika memang demikian sikap mereka, maka negeri atau daerah Kana’an (wilayah Palestina saat ini), yang sekarang dikenal dengan daerah Gurun Sinai sampai tepi Sungai Yordan, itu terlarang buat mereka, dan mereka tidak akan memasukinya selama empat puluh tahun. Selanjutnya, selama kurun waktu yang panjang itu, sebagai hukumannya mereka akan mengembara kebingungan, karena tidak memiliki tempat yang tetap di bumi sekitar Kana’an. Kemudiana Allah berfirman, "Maka janganlah engkau, wahai Musa, bersedih hati karena memikirkan nasib orang-orang yang fasik itu."
Ayat lain di dalam Al Qur'an menjelaskan
ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡڪَرَّةَ عَلَيۡہِمۡ وَأَمۡدَدۡنَـٰكُم بِأَمۡوَٲلٍ۬ وَبَنِينَ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ أَڪۡثَرَ نَفِيرًا
Artinya: “Kemudian kami berikan giliran padamu untuk mengalahkan mereka kembali, dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak (keturunan), dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”. (Q.S. Al-Isra [17]: 6).
Penjelasan ayat diatas yaitu setelah keluar dari Mesir, atas takdir Allah, Bani Israil kembali menuju Tanah Kana'an. Di sana, mereka membangun kehidupan baru dan berkembang menjadi sebuah bangsa yang besar.
Dengan demikian, keberadaan kaum Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru dunia (diaspora), kemudian menguasai Palestina, telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 26 dan Surah Al-Isra ayat 6. Allah juga memberikan pertolongan kepada kaum Yahudi tersebut sehingga mereka dapat hidup dengan kekayaan serta menjadi kelompok yang besar dan kuat. Hal ini, menurut sebagian pandangan, terlihat dari dukungan yang diterima negara Israel pada masa sekarang.
5. Janji Kehancuran Yahudi
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. [Al Qur'an Surah Al Isra (6) ayat 7]
Berdasarkan penjelasan Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 7 tersebut, hukuman atau kehancuran terhadap kaum Yahudi terjadi dua kali. Pertama, pada zaman Fir'aun, ketika Bani Israil diperbudak, dipaksa bekerja keras, dibunuh anak-anak laki-lakinya, serta diusir dari Kerajaan Mesir, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 49. Adapun kehancuran yang kedua, kita perlu memahami bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, sekitar tahun 610 M. Oleh karena itu, kita perlu memahami kalimat dalam Surah Al-Isra ayat 7, yaitu "dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua". Kalimat ini menunjukkan bahwa hukuman tersebut belum terjadi pada saat Al-Qur'an diturunkan pada tahun 610 M, sehingga peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, meskipun kita tidak mengetahui kapan waktunya.
Sebagian orang beranggapan bahwa kedua hukuman tersebut telah terjadi, yaitu yang pertama pada saat serangan bangsa Babilonia sekitar tahun 586 SM, ketika terjadi kehancuran bangsa Yahudi disertai pembantaian oleh Raja Nebukadnezar II, dan yang kedua pada saat penaklukan oleh Romawi pada tahun 70 M. Namun, pandangan ini dianggap bertentangan dengan Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 7, karena Al-Qur'an diturunkan sekitar tahun 610 M, yaitu jauh setelah penaklukan Romawi pada tahun 70 M. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman "apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua", yang dipahami menunjukkan bahwa peristiwa tersebut belum terjadi pada saat Al-Qur'an diturunkan.
Penjelasan ayat Al Qur'an tersebut diatas dipertegas dalam hadits shahih dibawah ini:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum muslimin membunuh mereka, sampai-sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, kemudian batu dan pohon berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon Gharqad, karena ia adalah pohon Yahudi." (HR. Muslim no. 2922, Bukhari no. 2926).
Hadits ini merupakan nubuat (prediksi) Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam tentang peristiwa akhir zaman, yang menandakan bahwa peperangan ini akan terjadi ketika kebenaran (Islam) berhadapan langsung dengan kebatilan yang merupakan kehancuran Bani Israil (Yahudi) yang kedua sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
Sejarah Negara Israel
Secara historis dan teologis, Negara Israel (modern saat ini) tidak sama dengan keturunan Bani Israil (klasik). Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya'qub Alaihissalam, sedangkan Negara Israel yang bersebelahan dengan Palestina saat ini adalah entitas politik modern yang didirikan oleh imigran Yahudi dari berbagai belahan dunia (Eropa, Asia, Afrika) melalui gerakan Zionisme pada tahun 1948, di mana banyak di antaranya diyakini tidak memiliki pertalian darah langsung dengan Bani Israil kuno. Keduanya berbeda dalam konteks, waktu, dan komposisi etnis. Memang agama para imigran sama-sama Yahudi dengan agama Nabi Ya'kub, akan tetapi mereka tidak ada pertalian darah langsung dari keturunan Bani Israil keturunannya Nabi Ya'kub.
Jika kita tarik cerita jauh sebelum terbentuknya negara Israel tahun 1948, dimana orang Yahudi sejak zaman dulu bertempat tinggal secara menyebar di seluruh dunia (diaspora), mereka selalu menjadi kaum yang terdiskriminasi dimanapun mereka tinggal, pada tahun 1917 mereka diperbolehkan untuk menempati di daerah yang bersebelahan dengan Palestina melalui Deklarasi Balfaur, karena saat itu Palestina dibawah jajahan Inggris setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah) di Turki. Pada saat itu mulailah terjadi migrasi kaum Yahudi dari seluruh pelosok dunia berpindah ke Palestina, tapi mereka belum membentuk sebuah negara akan tetapi hanya sebagai penampungan sementara saja. Sejak penempatan kaum Yahudi tersebut, banyak mendapatkan pertentangan dari bangsa Arab karena perebutan tanah dan pertentangan politik.
Saat perang dunia kedua tepatnya antara tahun 1939–1945 terjadilah tragedi besar yang disebuta Holocaust yaitu pengusiran dan pembantaian oleh Adolf Hitler penguasa Nazi saat itu. Tragedi yang merenggut nyawa sekitar 6 juta orang Yahudi tersebut didasarkan bahwa Adolf Hitler sangat benci dengan kaum Yahudi yang dianggap sebagai penghianat akibat kekalahan Jerman pada perang dunia pertama.
Pada tahun 1945 Nazi menyerah kalah dan berakhirlkah perang dunia kedua, akan tetapi saat itu Palestina masih di jajah Inggris, sehingga semakin meningkatnya imigran Yahudi memasuki daerah Palestina yang mengakibatkan dari tahun 1945 sampai 1947 sering kali terjadi konflik di perbatasan Palestina dan pemukiman Yahudi. Dikarenakan saat itu masih kekuasaan Inggris, sehingga untuk menghentikan konflik tersebut Inggris menyerahkannya kepada perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang berencana membagi dua Palestina yaitu negara Yahudi dan negara Arab. Rencana tersebut di terima oleh orang Yahudi dan ditolak keras oleh orang Arab. Alhasil pada tanggal 14 Mei 1948 PBB menyetujui terbentuknya negara Israel walaupun ditentang oleh orang Arab. Dari sinilah sejarah berdirinya negara Israel.
Kesimpulan
Dari pembahasan tentang asal usul Israel dan sejarah Bani Israil, dapat disimpulkan bahwa:
- Israel adalah nama lain dari Nabi Ya’qub
- Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub yang selalu membangkang dan fasik
- Mereka berasal dari garis keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ishaq
- Sejarah mereka panjang dan melibatkan banyak nabi
- Negara Israel saat ini dan Bani Israil memiliki arti yang berbeda
- Negara Israel yang mayoritas orang Yahudi sudah ditakdirkan tinggal di Kana'an/Palestina
- Janji Allah tentang kehancuran orang Yahudi kali kedua di akhir zaman
Memahami hal ini penting agar kita tidak salah dalam memahami sejarah dan istilah yang sering digunakan saat ini.
Comments
Post a Comment