Urutan Tanda-Tanda Kiamat Menurut Hadits Shahih dan Perkiraan Rentang Waktunya

Hari Kiamat

Hari kiamat adalah hari akhir yang wajib di imani bagi umat Islam, untuk itu umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri untuk memperbanyak amal ibadah sebelum terjadi hari yang paling menakutkan tersebut.

Kali ini penulis ingin menjelaskan awal mula tanda-tanda kiamat yang bermula dari beberapa tanda kecil hingga tanda besar hari kiamat.

Berdasarkan beberapa hadits shahih, awal kiamat diawali dengan:

  1. 7 tahun terjadinya perang saudara di Arab
  2. 7 tahun Imam Mahdi berkuasa
  3. Allah akan mengurangi curah hujan selama 3 tahun
  4. Allah akan menurunkan Nabi Isa kembali selama 7 tahun
  5. Allah akan menghidupkan manusia selama 100 tahun setelah meniupkan Angin lembut
  6. Allah masih menghidupkan manusia kembali selama 120 tahun setelah matahari terbit dari barat.

Artinya, jika seluruh rentang waktunya dijumlahkan, maka jarak menuju hari kiamat diperkirakan membutuhkan sekitar **244 tahun** (7 + 7 + 3 + 7 + 100 + 120), terhitung sejak tanda-tanda kiamat kecil yang hingga kini belum terjadi sampai munculnya tanda-tanda kiamat kubra sebelum ditiupnya sangkakala.

Dengan demikian, anggapan bahwa umur umat Islam tinggal 1.500 tahun lagi jelas tidak tepat. Sebagai contoh, saat ini kita berada pada tahun 1447 Hijriah. Jika 1.500 dikurangi 1.447, maka tersisa sekitar 52 tahun lagi. Padahal, rangkaian tanda-tanda kiamat yang akan dijelaskan di bawah ini saja diperkirakan berlangsung selama 244 tahun, dan hingga saat ini belum satu pun di antaranya terjadi.

Sebenarnya masih banyak tanda-tanda kiamat kecil (sugra) lainnya yang tidak dicantumkan dalam pembahasan ini sebelum rangkaian peristiwa tersebut berlangsung. Namun, dalam tulisan ini penulis hanya memfokuskan pembahasan pada perkiraan tahun dimulainya kiamat berdasarkan perhitungan durasi terjadinya tanda-tanda tersebut hingga ditiupnya sangkakala.


Terjadi Perang Saudara Antar 3 Anak Khalifah

Perang antar Khalifah

Tanda kiamat dimulai dengan salah satu tanda yaitu dengan terjadinya peperangan saudara diantara 3 anak khalifah. Peperangan saudara ini terjadi selama 7 tahun dan tidak ada satupun yang menang atau kalah, hingga datanglah khalifah Al Mahdi.

Dari Abu Asma Ar Rahabi dari Tsauban dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلاَثَةٌ؛ كُلُّهُمْ اِبْنُ خَلِيْفَةٍ، ثُمَّ لاَ يَصِيْرُ إِلَـى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ قِتْلاً لَمْ يَقْتُلْهُ قَوْمٌ… (ثُمَّ ذكر شَيْئًا لاَ أَحْفَظُهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ.

"Kelak tiga orang akan berperang di dekat perbendaharaan kalian ini (yaitu Ka’bah), dan kesemuanya adalah anak khalifah. Dan tidak ada yang menang melainkan satu orang, lalu muncullah bendera-bendera hitam dari wilayah timur, mereka lantas memerangi kalian dengan peperangan sengit yang sama sekali belum pernah dilakukan kaum manapun. Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.” (HR: Ibnu Majah).

Mengenai kemunculan Imam Mahdi tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjelaskan tanda-tanda di dalam hadits tersebut diatas. Di antara tanda-tanda tersebut ialah terjadinya kezhaliman dan kejahatan di dunia ini selama tujuh tahun yang disebabkan perang saudara antar 3 anak khalifah di tanah Arab (yaitu Ka'bah).Setelah tanah Arab hancur karena perang saudara tersebut, maka saat itu di bai'atlah imam Mahdi yang membawa bendera hitam dari wilayah timur sebagai khalifah Allah yang baru.


Dibai'atnya Imam Mahdi

Setelah peperangan saudara di Arab selama 7 tahun yang berakhir tidak ada satupun yang menang, hingga diangkatlah Imam Mahdi dari keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai khalifah Allah yang baru yang akan berkuasa selama 7 tahun pula.

Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata,

نَصُّ الْحَدِيثِ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى الْأَنْفِ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ.

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Al Mahdi itu dari keturunanku, dahinya lebar dan hidungnya mancung, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi pernah dipenuhi dengan kejahatan dan kezhaliman. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun.” (HR: Abu Daud).

Imam Mahdi dibai'at setelah sebelumnya terjadinya kerusakan di tanah Arab. Beliau mempunyai nama seperti nama Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wassalam, Muhammad bin Abdillah dan dia berasal dari keturunan Nabi shalallahu'alaihi wassalam melalui jalur Fathimah binti Muhammad dari anaknya Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu anhum, bukan dari Husain, yang juga bertinggal di Madinah. Di antara ciri-ciri fisiknya adalah lebar dahinya, dan mancung hidungnya.

اَلْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي، مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ.

“Al-Mahdi berasal dari keturunanku, dari anak Fathimah.”[ HR. Abu Dawud (no. 4284), Ibnu Majah (no. 4086), al-Hakim (IV/557)]

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ، لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رَجُلًا مِنِّي — أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي — يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا»

“Sekiranya dunia ini hanya tersisa satu hari, Allah akan memperpanjang hari itu hingga Dia mengutus seorang laki-laki dari keluargaku—atau dari keluargaku—yang namanya sama dengan namaku, dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesetaraan sebagaimana bumi dipenuhi dengan ketidakadilan dan penindasan.” [ HR. At-Tirmidzi (no. 2230), Abu Dawud (no. 4282) dan Ahmad (I/377, 430) dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu]

Dengan dibai'atnya Imam Al Mahdi ini maka kembalilah pemerintahan di tanah suci Baitul Maqdis (Palestina/Jerusalem) menjadi kekhalifanan seperti sabda Rasulullah ini:

يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتِ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

“Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis, maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan dan peristiwa-peristiwa besar bagi umat manusia. Kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepala mu ini." (HR Ahmad : 5/288, Abu Dawud : 3/19 dishahihkan oleh Imam Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih Sunan Abu Dawud : 2210 Dishahihkan pula oleh Syaikh Hamud At-Tuwaijiri di dalam kitab Ithaful Jama’ah : 2/178).

Sebagian ulama di antaranya Syaikh Hamud At-Tuwaijiri menyatakan bahwa kekhilafahan yang dimaksud dalam hadits ini adalah kekhalifahan yang akan muncul bersama dengan kemunculan Al-Mahdi di akhir zaman dari Bumi Al-Maqdis (Palestina/Jerusalem). Goncangan dan peristiwa besar tersebut adalah perebutan kekuasaan antar anak khalifah di Arab Saudi.

Dari Malik bin Yukhamir dari Mu’adz bin Jabal ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ مَعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «عِمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ، وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ، وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ، وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ»

"Kejayaan Baitul Maqdis (Palestina/Jerusalem) akan diikuti kehancuran kota Madinah (Yathrib), hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal.” (HR: Abu Daud).

Syekh Ismail al-Muqaddam dalam Fiqih Asy-Rati as-Sa’ah menggaris-bawahi bahwa Imam al-Mahdi tidak akan muncul bila khilafah belum tegak di Baitul Maqdis (Palestina/Jerusalem). Khilafah tidak akan tegak jika Baitul Maqdis masih terjajah oleh Israel. Maka bagi beliau, kemerdekaan Baitul Maqdis suatu keharusan sebelum fase al-Mahdi. Lebih jauh beliau menukil perkataan Syekh Sa’id Hawa, “negeri kaum Yuhudi sekarang ini (‘Israel’) akan berakhir, berakhirnya itu bukan setelah Nabi Isa AS turun melainkan setelah imam Mahdi di bai’at.”


Penaklukan Konstatinopel

Constatinople

Selama masa kepemimpinan Imam Mahdi, beliau bersama pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Romawi, yang dalam sejumlah riwayat disebut sebagai peristiwa penaklukan kota Konstantinopel (sekarang kota Istanbul Turki), yang dimungkinkan merujuk pada kekuatan Eropa beserta sekutunya. Adapun peperangan tersebut terjadi di wilayah Syam (kawasan Suriah/Syria).

Al-Mustaurid al-Qurasy berkata di hadapan ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَقُومُ السَّاعَةُ وَالرُّومُ أَكْثَرُ النَّاسِ فَقَالَ لَهُ عَمْرٌو: أَبْصِرْ مَا تَقُولُ. قَالَ: أَقُولُ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

"Kiamat akan tegak sementara bangsa Romawi adalah yang paling banyak jumlahnya. Lalu ‘Amr berkata (kepada al-Mustaurid), Jelaskan apa yang engkau ucapkan itu! Dia berkata, Aku mengatakan apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/22, Syarh an-Nawawi)]

Suatu saat sebelum turunnya dajjal akan terjadi peperangan hebat antara kaum Muslimin dan bangsa Romawi (keturunan Bani Ashfar) sebanyak 960,000 pasukan (terdiri dari 80 panji/negara x 12,000 pasukan) yang merupakan kaum kafir.

Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik al-Asyja’i Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ … (فذكر منها) ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الأَصْفَرِ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

"Ingatlah tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat (lalu beliau menyebutkan, di antaranya:) … kemudian perdamaian di antara kalian dan Bani Ashfar (Bangsa Romawi), lalu mereka berkhianat. Mereka mendatangi kalian dengan membawa 80 panji perang, untuk setiap panji ada 12.000 (pasukan).” [HR Imam Bukhari]

Dari peperangan yang tidak berimbang tersebut Allah beri kemenangan kepada pihak Muslimin seperti dijelaskan didalam Hadits berikut:

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah dari Nafi’ bin ‘Utbah, beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam… lalu kami hafal darinya empat hal yang aku hitung dengan tanganku, beliau bersabda:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللهُ، قَالَ: فَقَالَ نَافِعٌ: يَا جَابِرُ لاَ نَرَى الدَّجَّالَ يَخْرُجُ حَتَّى تُفْتَحَ الرُّومُ.

“Kalian akan memerangi Jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya, ke-mudian Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian akan me-merangi Romawi lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian akan memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya.” Dia (Jabir) berkata, selanjutnya Nafi’ berkata, “Wahai Jabir, kita tidak akan melihat Dajjal keluar hingga bangsa Romawi ditaklukkan.” [Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/26, Syarh an-Nawawi)]

Peperangan hebat tersebut terjadi di Syam (daerah Suriah) tepatnya antara kota A’maq² dan Dabiq hingga ke Damaskus ibukota Suriah pada akhir zaman sebelum kedatangan Dajjal, sebagaimana difahami dari berbagai hadits. Dan kemenangan kaum muslimin atas bangsa Romawi merupakan pintu pembuka atas penaklukan Konstantinopel (yang kedua).

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hu-rairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ الرُّومُ بِاْلأَعْمَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ، فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنَ الْمَدِينَةِ، مِنْ خِيَارِ أَهْلِ اْلأَرْضِ يَوْمَئِذٍ، فَإِذَا تَصَافُّوا، قَالَتِ الرُّومُ: خَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ سَبَوْا مِنَّا نُقَاتِلْهُمْ. فَيَقُولُ الْمُسْلِمُونَ: لاَ وَاللهِ لاَ نُخَلِّي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا، فَيُقَاتِلُونَهُمْ، فَيَهْزُمُ ثُلُثٌ لاَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ أَبَدًا، وَيُقْتَلُ ثُلُثُهُمْ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللهِ، وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لاَ يُفْتَنُونَ أَبَدًا، فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ، فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ، قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ، إِذْ صَاحَ فِيهِمُ الشَّيْطَانُ: إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِـي أَهْلِيكُمْ، فَيَخْرُجُونَ، وَذَلِكَ بَاطِلٌ، فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ، خَرَجَ فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ، إِذْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga bangsa Romawi datang ke A’maq² dan Dabiq, lalu pasukan dari Madinah datang menghadang mereka. Mereka termasuk penduduk bumi yang terbaik waktu itu. Ketika mereka telah berbaris, bangsa Romawi berkata, “Biarkanlah antara kami dan orang yang tertawan dari kalangan kami sehingga kami dapat membunuh mereka.” Kemudian kaum muslimin berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan antara kalian dengan saudara-saudara kami (tawan dari bangsa Romawi yang telah masuk Islam),” lalu (kaum muslimin) memerangi mereka. Sepertiga dari mereka kalah dan lari kocar-kacir, Allah tidak menerima taubat mereka selamanya, sepertiga dari mereka terbunuh, mereka adalah sebaik-baiknya syuhada di sisi Allah, sepertiganya melakukan penaklukan, mereka tidak akan terkena fitnah untuk selamanya. Akhirnya mereka dapat menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang membagikan harta rampasan perang dan menggantung-kan pedang-pedang mereka di atas pohon zaitun, tiba-tiba saja syaitan berteriak, ‘Sesungguhnnya al-Masih (ad-Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian,’ kemudian mereka keluar, akan tetapi hal itu tidak benar. Selanjutnya mereka datang ke Syam, ternyata dia (Dajjal) keluar. Ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang, mereka meluruskan barisan, tiba-tiba iqamat untuk shalat dikumandangkan, saat itulah ‘Isa bin Maryam Alaihissallam turun.” [Shahiih Muslim no 2897, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/21-22, Syarh an-Nawawi)]

Kisah itu menunjukkan bahwa peristiwa tersebut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin yang dibawah pimpinan Imam Mahdi bersamaan dengan banyaknya pasukan itu dan kabar gembira bahwa jumlah pasukan kaum muslimin akan lebih banyak lagi dengan jumlah yang berlipat-lipat (dengan masuk Islamnya tawanan bangsa Romawi).”


Tiga Tahun Kemarau dan Paceklik

Bersamaan waktu dengan diangkatnya Imam Mahdi tersebut maka Allah tahan hujan selama 3 tahun berturut, hal ini membuat bumi mengalami kekeringan dan paceklik yang sangat sulit. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

وَإِنَّ قَبْلَ خُرُوجِ الدَّجَّالِ ثَلاَثَ سَنَوَاتٍ شِدَادٍ يُصِيبُ النَّاسَ فِيهَا جُوعٌ شَدِيدٌ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الأُولَى أَنْ تَحْبِسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فَتَحْبِسُ ثُلُثَىْ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَىْ نَبَاتِهَا ثُمَّ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الثَّالِثَةِ فَتَحْبِسُ مَطَرَهَا كُلَّهُ فَلاَ تَقْطُرُ قَطْرَةٌ وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ نَبَاتَهَا كُلَّهُ فَلاَ تُنْبِتُ خَضْرَاءَ فَلاَ تَبْقَى ذَاتُ ظِلْفٍ إِلاَّ هَلَكَتْ إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ ». قِيلَ فَمَا يُعِيشُ النَّاسَ فِى ذَلِكَ الزَّمَانِ قَالَ « التَّهْلِيلُ وَالتَّكْبِيرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّحْمِيدُ وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مَجْرَى الطَّعَامِ

“Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu tiga tahun yang sangat sulit, pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat.
"Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan 1/3 dari hujannya dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya."
"Kemudian Allah memerintahkan pada langit pada tahun kedua agar menahan 2/3 dari hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya."
"Kemudian pada tahun ketiga Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujannya, sehingga ia tidak meneteskan setitik airpun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya, maka setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijau pun, dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang tidak dikehendaki oleh Allah."
"Para Sahabat bertanya, “Dengan apa manusia akan hidup pada masa itu?” Beliau menjawab, “Tahlil, Takbir, Tasbih dan Tahmid, akan sama artinya bagi mereka dengan makanan.” (H.R Ibnu Majah, Al-Hakim dan Adh-Dhiya Al-Maqdisi)

Pada masa itu bumi semakin panas, sehingga mengakibatkan kacaunya perubahan iklim dan cuaca. Tangan-tangan jahat manusia telah menyebabkan kerusakan di daratan, lautan, dan udara yang merusak keseimbangan alam. Memicu global warming, diikuti krisis air, bencana kelaparan masal, diperparah dengan kesenjangan ekonomi, sehingga manusia berebut sumber pangan.

Kekeringan ekstrim sebelum kemunculan Dajjal ini barangkali adalah bagian hukuman yang disegerakan di dunia. Boleh jadi di akhir zaman hujan akan diturunkan dalam kadar yang lebih besar dari biasanya, sehingga mengakibatkan banjir & bencana alam. Kemudian secara berangsur selama tiga tahun, kadar hujan dikurangi hingga akhirnya tidak turun sama sekali.


Mengeringnya Sungai Eufrat dan Muncul Gunung Emas

Eufrat River

Bersamaan dengan tidak turunnya hujang sehingga membuat mengeringnya sungai Efrat di Irak, dan muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو

“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا

“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)

Mengeringnya Air Danau Tiberias

Tiberias River

Setelah sungai Eufrat, kekeringanpun terjadi di danau Tiberias yang terletak di wilayah Palestina dan Suriah. Namun, saat ini sudah dikuasai oleh Israel. Danau ini mewakili fenomena alam yang menandai kemunculan Dajjal. Kedatangan makhluk bernama Dajjal itu ditandai dengan menyusutnya Danau Tiberias. Sungai yang disebut juga dengan sungai Galilee ini kini digunakan oleh penduduk Israel untuk pertanian, perkebunan, air minum dan sanitasi.

Ironisnya, sungai ini debitnya sekarang kian menyusut. Hal ini disebabkan rendahnya curah hujan di wilayah tersebut, serta populasi warga Israel yang justru mengalami peningkatan. Hal ini tentu bukan menjadi bencana bagi warga Israel saja yang menyebabkan kekeringan dan kelaparan. Namun juga umat Islam, pasalnya dengan keringnya Danau Tiberias, menjadi tanda bahwa sosok yang tidak diinginkan akan segera muncul.

Hadist Riwayat Imam Muslim dari Fatimah binti Qais bahwa beliau radhiallahu ‘anhu berkata bahwa seorang yang bernama Tamim ad-Dari mendatangi Nabi menceritakan tentang pertemuannya dengan Dajjal. Tamim berlayar selama 30 hari dan terdampar di sebuah pulau di arah timur matahari.

Di Pulau tersebut Tamim bertemu dengan sosok yang bernama Dajjal dan mempertanyakan perihal danau Tiberias.

نَصُّ الْحَدِيثِ (بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ): قَالَ: أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ. قُلْنَا: عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ؟ قَالَ: هَلْ فِيهَا مَاءٌ؟ قَالُوا: هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ. قَالَ: أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ.

“Beritakan kepadaku tentang danau Tiberias!’ Kami pun berkata, ‘Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?’ Dia berkata, Apakah di sana ada airnya?’ Kami menjawab, ‘Danau itu banyak airnya,’ Dia berkata, ‘Ketahuilah airnya tak lama lagi akan habis.” (Shahiih Muslim no 2942, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah No. XVIII/82, Syarh an-Nawawi).

Longsor Besar di Timur, Barat dan Jazirah Arab

Setelah kemarau 3 tahun berturut tersebut kemudian datang tanda-tanda kiamat selanjutnya secara beruntut yaitu longsor besar atau penenggelaman bumi di timur, di barat dan Jazirah Arab, ini tanda-tanda kiamat terjadi serentak. Amblasnya bumi di tiga lokasi tersebut diawali dengan gempa bersekala besar, sehingga terjadi amblas yang sangat besar yang sulit dan tidak mungkin ditimbun dan tidak bisa diperbaiki. Saat terjadi longsor besar tersebut dimana bisa disaksikan baik oleh umat Islam maupun yang non muslim dan kafir disaat maksiat merajalela.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُونُ بَعْدِي خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُخْسَفُ بِالْأَرْضِ وَفِيهِمُ الصَّالِحُونَ؟ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِذَا كَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْخَبَثِ

“Akan ada setelahku (peristiwa) longsor di daerah timur, longsor di daerah barat dan longsor di daerah jazirah Arab, lalu aku berkata, ’Wahai Rasulullah, apakah bumi akan dilongsorkan, sedangkan di dalamnya ada orang-orang shalih? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iya, apabila penghuni buminya lebih banyak melakukan kemaksiatan.” (HR. Ath-Thabrani no. 3647 di dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Ausath)

Apabila sudah banyak kemaksiatan, maka akan terjadi peristiwa longsor besar yang menjadi tanda-tanda hari kiamat walaupun saat itu masih ada orang shalih. Terkadang orang-orang saleh pun tertimpa dampak dari peristiwa tersebut, karena mereka tinggal di sekitar orang-orang yang berbuat kemaksiatan, namun mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing. Akhirnya, ketika terjadi peristiwa itu, orang-orang yang berbuat maksiat tenggelam dalam peristiwa tersebut disertai orang-orang shalih di antara mereka.

Longsor yang terjadi bukanlah bencana longsor biasa, akan tetapi kejadian yang sangat dahsyat dan menggemparkan dunia, sehingga semua orang mengetahuinya, baik yang terjadi di daerah timur, barat atau jazirah Arab. Bisa jadi dalam satu kota atau daerah hilang akibat bencana longsor tersebut. Manusia beserta tempat tinggalnya akhirnya terbenam. Adapun bencana longsor yang terjadi pada zaman sekarang adalah bencana kecil yang bukan termasuk di antara tanda-tanda hari kiamat.

Selain manusia ditenggelamkan kedalam perut bumi, ada juga yang dirubah raut wajahnya dan dilempari dengan batu seperti hadits yang diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu anha, beliau berkata:

يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ: قُلْتُ، يَا رَسُولَ اللهِ! أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ.

“Akan ada pada akhir umatku (orang-orang) yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah raut wajahnya dan dilempari (batu).” ‘Aisyah berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang shalih di tengah-tengah kami?’ Beliau menjawab, ‘Betul, ketika kemaksiatan telah merajalela.” [Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Fitan, bab Maa Jaa-a fil Khasaf (VI/418). Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/358, no. 8012]

Keluar Kabut Asap (Dukhan)

Dukhan

Setelah terjadi longsor besar di bagian timur, barat dan jazirah Arab, tiba-tiba turun kabut asap (Dukhan) dari langit selama 40 hari dan 40 malam, dunia akan gelap gulita karena tidak ada matahari, listrik, ekonomi hancur, teknologi musnah, makanan susah, dan airpun susah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ السَّاعَةَ لا تَكُونُ حتَّى تَكُونَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بالمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بالمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ في جَزِيرَةِ العَرَبِ وَالدُّخَانُ وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ الأرْضِ، وَيَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، وَطُلُوعُ الشَّمْسِ مِن مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِن قُعْرَةِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda: bencana penenggelaman manusia ke tanah di negeri barat, negeri timur dan di jazirah Arab, terjadi ad dukhan, munculnya dajjal, munculnya dabbah, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, munculnya api yang keluar cekungan Aden yang mengusir manusia” (HR. Muslim no.2901).

Maka bersukurlah bagi orang yang beriman dengan turunnya ad dukhan ini hanya membuatnya merasakan seperti pilek, sebaliknya bagi orang-orang yang tidak beriman saat itu hanya ada 2 pilihan apakah bunuh diri ataukah menjadi brutal. Dan wajah-wajah orang munafik akan menjadi hitam akibat panasnya dukhan.

Firman Allah yang menyatakan bahwa adanya asap menjadi tanda kiamat terdapat dalam Al Quran surat Ad Dukhan ayat 10-12.

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ . رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman." (QS. Ad-Dukhan: 10 – 12)

Ibnu Umar mengatakan,

يخرج الدخان، فيأخذ المؤمن كهيئة الزكمة، ويدخل في مسامع الكافر والمنافق، حتى يكون كالرأس الحنيذ

“Akan keluar dukhan, lalu orang mukmin terkena imbasnya hingga seperti orang pilek. Lalu asap ini masuk ke telinga orang kafir dan munafik sehingga kepala mereka seperti kepala hewan panggang.” (Tafsir at-Thabari, 22/17).

Orang kafir dan Yahudi yang ada di Khurasan (Afghanistan-Iran-Tajikistan-Uzbekistan). akan mengalami bengkak dari kepala hingga ke kaki akibat dukhan.


Keluar Dajjal

Seperti yang dijelaskan hadits dari Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu dalam HR. Muslim no. 2901, Dajjal keluar atas izin Allah. Mengenai waktu keluarnya Dajjal tersebut tidak ada sumber yang jelas apakah bersamaan dengan turunnya Ad-Dukhan atau berbeda waktu. Karena seperti dijelaskan di atas, lamanya kabut asap dukhan sama halnya dengan lamanya Dajjal hidup di dunia setelah keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu selama 40 hari.

Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiyallahu ‘anhu, ia meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا لَبْثُهُ فِي الْأَرْضِ؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ يَوْمًا، يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ»

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia (Dajjal) tinggal di bumi?” Beliau menjawab, “Empat puluh hari: satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari-hari kalian.” (HR. Shahih Muslim no. 2937)

Kata Dajjal diambil dari bahasa “dajala” yang berarti kekacauan. Dia menyebut dirinya dengan Al-Masih, maka kita jangan terkecoh dengan perkataannya yang mengaku-ngaku sebagai Isa Al-Masih. Sesungguhnya dia adalah Al-Masih Dajjal. Ciri-ciri Dajjal disebutkan dalam banyak hadits yang shahih adalah mata kanannya yang paling pertama rusak seperti anggur kering.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ الْكَذَّابَ: أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: ك ف ر (يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ).

“Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya tentang Dajjal yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwa Dajjal matanya buta sebelah sedangkan Allah tidak buta sebelah. Tertulis di antara kedua matanya: ك ف ر / كافر (kafir) -yang mampu dibaca oleh setiap Muslim-.” (HR. Al-Bukhari no. 7131, 7408 dan Muslim no. 2933)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ رَجُلٌ قَصِيرٌ، أَفْحَجُ السَّاقَيْنِ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَا نَاتِئَةٌ وَلَا حَجْرَاءُ، فَإِنِ الْتَبَسَ عَلَيْكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal seorang laki-laki pendek, berkaki bengkok, keriting rambutnya, buta sebelah matanya, dan matanya kabur tidak menonjol dan tidak juga cekung. Jika ia memperdayai kalian maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ahmad no. 23144 dan Abu Dawud no. 4320)

Rambutnya keriting dan orangnya tinggi besar. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kalian dengan Dajjal keluar di satu lokasi yang sama maka sebaiknya menghindarlah dan cari jalan lain.

Dajjal memiliki dua pengawal yang bernama Al-Jassasah. Yang pertama adalah seekor binatang melata berbulu sangat lebat, saking banyaknya bulunya mereka tidak tahu mana bagian depan dan bagian belakangnya. Sedangkan Al-Jassasah yang kedua adalah seorang wanita. Ada kemungkinan juga bahwa Al-Jassasah adalah setan yang kadang menyerupai seekor binatang melata dan kadang menyerupai seorang wanita. Dan setan memiliki kemampuan untuk merubah bentuk dalam bentuk apa saja yang dia inginkan. Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).

Sebab Keluarnya Dajjal

Ummul Mukminin Hafshah bintu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, “Tidakkah kau tahu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا يَخْرُجُ مِنْ غَضْبَةٍ يَغْضَبُهَا

“Dia keluar hanyalah karena satu amarah yang ia rasakan.” (HR. Muslim no. 2932)

Amarah di sini pada hakikatnya adalah sebuah kiasan yang sebenarnya sudah Allah janjikan dengan berbagai tanda-tanda sebelumnya seperti keringnya Sungai Tiberias, tiga tahun kekeringan dan paceklik, terjadinya perang saudara di tanah Arab terutama di daerah Palestina selama tujuh tahun dan tanda-tanda kiamat lainnya.

Dari Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا خُرَاسَانُ يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ

“Dajjal itu keluar dari bumi sebelah timur yang disebut Khurasan (Afghanistan-Iran-Tajikistan-Uzbekistan). Dajjal akan diikuti oleh kaum yang wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit.” (HR. Tirmidzi no. 2337 dan Ibnu Majah no. 4072. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Anas:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Dajjal akan diikuti oleh 70.000 Yahudi Ashbahan, semuanya memakai jubah yang khas.” (HR. Muslim no. 2944 dan Ahmad no. 13277)

Khurasan merupakan tempat awal Dajjal muncul dan belum berbuat kerusakan serta menebar fitnah. Dajjal saat ini sudah ada di tempat persembunyiannya di sebuah pulau di arah timur matahari. Tidak disebutkan dengan jelas di mana, hanya Allah dan orang-orang yang diberi izin oleh Allah yang tahu. Sedangkan tempat awal di mana ia berbuat kerusakan dan menyebarkan fitnah adalah di sebuah tempat di antara Syam (Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon) dan Irak. Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an yang marfu’ (sampai kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam) disebutkan:

إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّأْمِ وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمَالاً يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا

“Dajjal itu keluar di antara Syam dan Irak. Dia lantas merusak kanan dan kiri. Wahai para hamba Allah, tetap teguhlah.” (HR. Muslim no. 2937)

Walaupun kalian harus lari ke gunung, dia akan keluar membuat kerusakan selama 40 hari. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 40 hari itu sehari seperti setahun, sehari lagi yang kedua seperti sebulan, hari yang ketiga seperti sepekan dan sisa harinya seperti hari kalian. Dia akan keliling muka bumi semuanya dan kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruh bumi ini akan dimasuki oleh Dajjal, tidak tertinggal satu lorong atau gang, jangankan kota atau desa, kecuali Dajjal akan masuk ke dalamnya, kecuali Madinah dan Makkah tidak bisa dimasuki oleh Dajjal. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, karena di setiap pintu gerbang Makkah dan Madinah malaikat menghunuskan pedangnya dan menghalau Dajjal sehingga Dajjal tidak bisa masuk. Pada saat dia tiba di Palestina, waktu yang bersamaan di kota Madinah berkecamuk. Kaum Muslimin sepakat semua keluar untuk mengejar Dajjal dan membunuhnya, keluarlah mereka dari kota Madinah.


Turunnya Nabi Isa

Menara Putih

Di saat kaum Muslimin keluar untuk mengejar Dajjal maka saat itulah Allah kembali menurunkan Nabi Isa. Allah Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.’” (QS. Ali Imran: 55)

Beliau keluar sebagai tanda-tanda kiamat selanjutnya yang langsung berentetan, tanda-tanda kiamat besar yaitu pada saat pasukan Imam Mahdi dengan pasukan jihad itu tiba di Darul Baidho (Menara Putih) sebelah timur Kota Damaskus, Suriah. Hadits menyebutkan di menara itulah, di masjid itulah Imam Mahdi mampir shalat Ashar bersama pasukannya. Dikatakan Isa ‘alaihissalam akan turun sambil memegang kedua sayap malaikat dan dari rambutnya yang basah meneteskan air. Maka dia pun turun lalu kemudian dia masuk dan orang-orang pada saat itu mengenalnya bahwa dia adalah Isa.

Dari An-Nawwas bin Sam’an berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Dajjal, beliau melirihkan suara dan mengeraskannya hingga kami mengiranya berada di sekelompok pohon kurma.

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ

“Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat. Bila ia menundukkan kepala, air pun menetes. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga.” (HR. Muslim no. 2937)

Setelah semua orang tahu dengan keluarnya Dajjal dan di saat itu pun sudah dibaiatnya Imam Mahdi di Makkah, bahkan dengan turunnya Nabi Isa, maka saat itu pun semua orang berbondong-bondong mengerjakan shalat dan menuju Palestina. Ringkas cerita, Nabi Isa ‘alaihissalam akhirnya tiba bersama pasukan Mujahidin di depan pintu gerbang Babu Ludd, Palestina. Dajjal mengatakan, “Bukakan pintu gerbang, mereka tidak akan mampu melawan kita.” Karena pasukannya memang banyak, maka Dajjal dengan sombongnya menunggu di depan pintu gerbang. Pada saat dibuka, Dajjal kaget melihat ada Nabi Isa ‘alaihissalam dan pada saat itu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dajjal paham kalau sudah tiba ajalnya.

Begitu melihat Isa ‘alaihissalam, dia lari dan badannya meleleh di depan para pengikutnya. Pada saat Dajjal mati, pengikutnya ketakutan semua karena Dajjal yang mereka anggap sebagai Tuhan, mereka anggap orang yang perkasa dan kebal dengan beragam macam kelebihan, ternyata mereka sangat kaget saat Dajjal mati dan badannya meleleh tidak berkutik. Maka bertebaranlah mereka dan akhirnya mereka sembunyi di bawah pohon dan di atas batu. Kemudian batu dan pohon yang menjadi tempat persembunyian pengikut Dajjal saat itu bisa memberikan isyarat, “Hai Muslim, ini Yahudi, bunuhlah!” Maka dibunuhlah pada saat itu mereka.

Lalu Nabi Isa ‘alaihissalam memimpin di muka bumi dan kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu Islam, agama Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk ke semua rumah. Semua rumah di muka bumi tidak tersisa satu pun orang non-Muslim.

قال ﷺ: فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

Sesekali Abu Dawud berkata, “Hingga Dajjal datang (tiba) di Palestina di pintu Ludd, lalu Isa ‘alaihis salam turun dan membunuhnya, kemudian Isa ‘alaihis salam tinggal di bumi selama empat puluh tahun dan menjadi imam yang adil dan hakim yang adil.” (HR. Ahmad 6/75. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanadnya hasan)

Satu dunia ini saat itu semuanya memeluk agama Islam. Hadits shahih menyebutkan Nabi Isa ‘alaihissalam memimpin pada saat itu selama empat puluh tahun dengan ketenangan, menerapkan hukum Islam. Semuanya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi Muslim. Maksud 40 tahun di sini adalah Allah menggenapkan 40 tahun selama hidup Nabi Isa di dunia dari sebelum diangkat ke langit hingga dia turun kembali ke bumi sampai dia meninggal.

Pada hadits riwayat Muslim disebutkan dari Abdullah bin Umar bahwa beliau menetap selama tujuh tahun setelah dia turun kembali ke bumi. Berarti saat beliau diangkat ke langit pada usia 33 tahun dan saat dia turun ke bumi kembali hingga meninggal selama 7 tahun, jadi kalau ditotal selama 40 tahun di dunia dengan ketenangan.


Keluar Ya'juj dan Ma'juj

Tartar Mongolia

Tidak lama dengan kematian Al Masih Dajjal, lalu keluarlah tanda-tanda hari kaimat besar selajutnya berupa keluarnya Ya'juj dan Ma'juj.

Mereka ini adalah kaum yang suka membuat kerusakan dimuka bumi yang karena sifat buruknya, maka mereka dikurung oleh Raja Dzulqarnain di lembah antara dua pegunungan Kaukasus di daerah Georgia yang memisahkan wilayah Rusia dan wilayah Asia Tengah, dengan tembok pembatas berupa besi yang dilapisi tembaga. Hingga suatu saat sebelum hari kiamat tembok pembatas tersebut akan hancur dan mereka akan muncul dengan seizin Allah.

Sampai saat ini Ya'juj dan Ma'juj sudah ada dan mereka terus berusaha keluar dari tembok yang dibikin Raja Dzulqarnain tersebut seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata,

إن يأجوج ومأجوج يحفرون كل يوم ، حتى إذا كادوا يرون شعاع الشمس ، قال الذي عليهم : ارجعوا فسنحفره غداً ، فيعيده الله أشد ما كان

"Yakjuj dan Makjuj selalu menggali (benteng itu) setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka mengatakan, “Mari kita pulang, kita lanjutkan besok.” Lalu Allah mengembalikan bekas lubang itu lebih kuat dari sebelumnya." (HR. Ahmad 10913, Ibnu Majah 4218 dan dishahihkan al-Albani).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ، صِغَارَ الْأَعْيُنِ، حُمْرَ الْوُجُوهِ، ذُلْفَ الْأُنُوفِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطَرَّقَةُ، يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ، وَيَمْشُونَ فِي الشَّعَرِ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslim memerangi kaum ‘Turk’ (Tartar), kaum yang wajahnya (licin dan lebar) seperti perisai/tameng. Mereka akan mengenakan pakaian (yang terbuat) dari bulu, dan mereka berjalan mengenakan (sepatu yang terbuat) dari bulu”. (HR. Muslim no 2912, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Keluarnya Yakjuj dan Makjuj dari tempat mereka merupakan salah satu tanda datangnya hari kiamat. Sebagaimana ucapan Zulkarnain, jika Allah berkehendak maka amatlah mudah dinding tersebut akan hancur. Dengan upaya perobohan dinding tiap hari oleh Yakjuj dan Makjuj, mereka akan berhasil menembusnya saat menjelang hari akhir.

Saat mereka keluar dari sana, jumlah mereka amat banyak. Mereka turun gunung bagaikan air bah. Tak ada yang mereka lewati, kecuali akan hancur lebur. Setiap tanaman dirusak, setiap jiwa akan dibunuh. Demikian, kekejaman Yakjuj dan Makjuj. Bahkan ketika semua jiwa yang dilewatinya dibunuh, mereka dengan sombongnya melempar anak panah ke langit, dan melihat anak panahnya berlumuran darah, padahal Allah yang mengembalikan panah mereka yang telah dilumuri darah. Akan tetapi mereka dengan sombongnya berkata, bahwa mereka sudah mengalahkan penghuni langit.

Berikut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim menceritakannya:

فَيَمُرُّ أَوَّلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ.

ثُمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ الْخَمْرِ، وَهُوَ جَبَلُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَيَقُولُونَ: لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي الْأَرْضِ، هَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

فَيَرْمُونَ بِنِشَابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ، فَيَرُدُّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ نِشَابَهُمْ مُخَضَّبَةً دَمًا.

Setelah mereka merusak apapun dan membunuh manusia yang dilewatinya, “Kemudian mereka berjalan sehingga mereka sampai ke gunung al-khamr, yaitu gunung Baitul Maqdis, lalu mereka berkata, ‘Kita telah membunuh orang-orang yang ada di bumi, marilah kita bunuh makhluk yang ada di langit.’ Lalu mereka melemparkan anak panah mereka ke langit, lalu Allah mengembalikan panah-panah mereka yang telah dilumuri darah.” Shahiih Muslim no 2937, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/70-71, Syarh an-Nawawi).

Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an disebutkan bahwa Allah memberitahukan kepada Isa akan keluarnya Yakjuj dan Makjuj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka, dan Allah memerintahkan Isa untuk menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang ditempuh Yakjuj dan Makjuj seraya berfirman:

“Kumpulkan hamba-hamba-Ku ke gunung Ath-Thur.”[Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 369]

Disebutkan dalam hadits Nawwas bin Sam’an yang amat panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ. وَيُحْصَرُ نَبِىُّ اللَّهُ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهُمُ النَّغَفَ فِى رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِى الأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ فَيُرْسِلُ اللَّهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَطَرًا لاَ يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ فَيَغْسِلُ الأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلأَرْضِ أَنْبِتِى ثَمَرَتَكِ وَرُدِّى بَرَكَتَكِ.

فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنَ الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِى الرِّسْلِ حَتَّى أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنَ الإِبِلِ لَتَكْفِى الْفِئَامَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْبَقَرِ لَتَكْفِى الْقَبِيلَةَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْغَنَمِ

لَتَكْفِى الْفَخِذَ مِنَ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ ».

“Allah mengirim Ya’juj dan Ma’juj, ‘Dari segala penjuru mereka datang dengan cepat.” (Al Anbiyaa`: 96) Lalu yang terdepan melintasi danau Thobari dan minum kemudian yang belakang melintasi, mereka berkata: ‘Tadi disini ada airnya.’ nabi Allah Isa dan para sahabatnya dikepung hingga kepala kerbau milik salah seorang dari mereka lebih baik dari seratus dinar milik salah seorang dari kalian saat ini, lalu nabi Allah Isa dan para sahabatnya menginginkan Allah mengirimkan belatung di leher mereka lalu mereka mati seperti matinya satu jiwa, lalu ‘Isa dan para sahabatnya datang, tidak ada satu sejengkal tempat pun melainkan telah dipenuhi oleh bangkai dan bau busuk darah mereka.
Lalu Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah lalu Allah mengirim burung seperti leher unta. Burung itu membawa mereka dan melemparkan mereka seperti yang dikehendaki Allah, lalu Allah mengirim hujan deras kepada mereka, tidak ada satupun rumah dari bulu atau rumah dari tanah yang tersisa, hujan itu menyapu bersih bumi hingga rata dan meninggalkan genangan banjir dimana-mana. Kemudian Allah berkata kepada bumi tumbuhkanlah buah-buahan dan kembalikan keberkahan berupa kesuburan.
Allah memberkahi kesuburannya hingga hingga sekelompok manusia dicukupkan dengan satu unta perahan, satu kabilah cukup dengan satu sapi perahan dan beberapa kerabat mencukupkan diri dengan satu kambing perahan.
Saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mu`min dan muslim di bawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.” (HR. Muslim no. 2937)

Kematian Ya'juj dan Ma'juj ini membuat dunia saat itu kembali tenang setelah kekacauan yang dibuat Ya'juj dan Ma'juj di muka bumi. Nabi Isa dan semua orang pengikutnya hidup damai, hingga saatnya Nabi Isa meninggal dunia setelah 7 tahun hidup di dunia setelah dari turunnya kembali ke muka bumi.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ

“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun.” (HR. Muslim no. 2940)

Turunnya Angin Lembut

Setelah 7 tahun Nabi Isa turun dimana saat itu perdamaian merebak diseluruh dunia dan tidak ada permusuhan diantara dua orangpun, selanjutnya Allah turunkan angin lembut dengan semerbak wangi yang akan mencabut nyawa setiap mukmin dan muslim yang masih memiliki keimanan di hatinya meskipun itu hanya seberat ukuran biji sawi, sehingga yang tinggal di dunia saat itu adalah orang yang non muslim, yang berlaku seperti hewan dan berbuat kufur dimuka bumi.

Hal ini dijelaskan dari kelanjutan hadits riwayat Muslim nomor 2937 diatas.

لَتَكْفِى الْفَخِذَ مِنَ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ ».

Saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mu`min dan muslim di bawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.” (HR. Muslim no. 2937)

Hal ini juga dijelaskan dari hadits riwayat muslim nomor 2940 dibawah ini, dimana angin lembut tersebut dimulai dari arah Syam hingga keseluruh dunia.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ

“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin lembut dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang dihatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali mencabut nyawanya” (HR. Muslim no. 2940)

Saat itu orang yang tersisa didunia adalah orang yang paling jelek dimuka bumi, yang apabila berdoa maka Allah tolak doanya.

Berdalil dengan keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ، هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَدْعُونَ اللَّهَ بِشَيْءٍ إِلَّا رَدَّهُ عَلَيْهِمْ

"Kiamat hanya akan terjadi pada manusia yang paling jelek. Mereka lebih jelek dibandingkan orang jahiliyah. Setiap doa yang mereka panjatkan, pasti Allah tolak doanya". (HR. Muslim 1924 dan Ibnu Hibban 6836).

Dan bahwasanya manusia akan tetap hidup 100 tahun setelah Allah mengirim angin lembut yang mencabut ruh setiap mukmin, akan tetapi mereka yang masih hidup tersebut tidak mengenal agama apa pun.

Dari [Abu Sa'id] dia berkata:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ تَبُوكَ سَأَلُوهُ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَأْتِي مِائَةُ سَنَةٍ وَعَلَى الْأَرْضِ نَفْسٌ مَنْفُوسَةٌ الْيَوْمَ

Dari [Abu Sa'id] dia berkata: Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari perang Tabuk, para sahabat bertanya kepada beliau tentang hari kiamat. Lalu beliau bersabda: "Tidak akan ada lagi orang-orang yang hidup pada hari ini, setelah seratus tahun yang akan datang." [HR Muslim 4608]

Terbitnya Matahari dari Barat

Matahari akan terbit dari barat ketika semua orang sudah tidak ada yang beriman. Ternyata hal ini pernah Rasulullah ceritakan kepada sahabat, kemana perginya matahari tersebut?

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, bahwasanya pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، فَلاَ تَزَالُ كَذَلِكَ، حَتَّى يُقَالُ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتْرجِعُ فَتَصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجِيءُ حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَـاجِدَةً، فَلاَ تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّـى يُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ، اِرْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَرْجِعُ، فَتَصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُ النَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا، حَتَّـى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ الْعَرْشِِ، فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ، أَصْبَحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ فَتَصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خيْرًا.

“Tahukah kalian ke mana perginya matahari (saat itu)?” Para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan hingga sampai ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia tersungkur sujud, dan senantiasa demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Kembalilah ke tempatmu pertama kali datang.’
Kemudian dia kembali datang di waktu pagi dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan hingga sampai ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia tersungkur sujud, dan senantiasa demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Kembalilah ke tempatmu pertama kali datang.’
Kemudian dia kembali datang waktu pagi dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan lagi sementara manusia tidak mengingkarinya sedikit pun hingga dia kembali ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Terbitlah dari tempamu terbenam.’
Kemudian dia kembali datang di waktu pagi dan terbit dari tempat terbenamnya.’”Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tahu kapan itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”
Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Bayaan az-Zamanul Ladzii laa Yuqbalu fiihil Iimaan (II/195-196, an-Nawawi), dan diriwayatkan pula oleh al-Bukhaari secara ringkas dalam Shahiihnya, kitab at-Tafsiir bab wasy Syamsu Tajrii li Mustaqarrin lahaa (VIII/451, al-Fat-h), dan kitab at-Tauhid, bab wa Kaana ‘Arsyuhu ‘alal Maa’ wa Huwa Rabbul ‘Arsyil Azhiim (XIII/404, al-Fat-h).

Melihat kejadian matahari terbit dari barat tersebut, membuat semua orang teringat akan tanda-tanda kiamat, sehingga mereka berlomba-lomba ingin kembali beriman, akan tetapi sungguh sudah terlambat baik yang belum beriman maupun saat itu dia akan beriman.

Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa-sanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ، فَإِذَا طَلَعَتْ، فَرَآهَا النَّـاسُ؛ آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ، فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا.

“Tidak akan terjadi Kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat, jika ia telah terbit, lalu manusia menyaksikannya, maka semua orang akan beriman, ketika itu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”

Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Raqaaiq (XI/352, dengan al-Fat-h), Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab az-Zamanul Ladzi la Yuqbalu fiihil Iimaan (II/194, Syarh an-Nawawi).

Atsar Abdullah bin Amru bin Ash yang berbunyi:

يبقى الناس بعد طلوع الشمس من مغرهبا مائة وعشرين سنة

“Setelah matahari terbit dari Barat, manusia akan tetap eksis selama 120 tahun“.


Keluar Hewan Melata Dabbah

Keluarnya hewan melata besar (Dabbah) ini disaat waktu pagi (dhuha) setelah matahari muncul dari barat, akan tetapi bisa sebaliknya seperti disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dibawah ini, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا، طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى، وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا، فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيبًا

“Sesungguhnya tanda yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya hewan pada waktu dhuha, mana saja di antara keduanya yang keluar lebih dahulu, maka akan disusul tanda lainnya dengan masa yang sangat dekat.”(HR. Muslim no. 2941)

Bisa jadi yang akan keluar lebih dahulu adalah hewan yang dapat berbicara, kemudian disusul munculnya matahari dari barat atau sebaliknya akan muncul matahari dari barat terlebih dahulu, kemudian pada waktu dhuha muncul hewan tersebut. Ketika matahari muncul dari barat, orang-orang banyak yang beriman, kemudian hewan tersebut muncul dan berbicara, wallahu 'alam.

Sepeninggalan lama Nabi Isa wafat, maka umat manusia di dunia ada yang beriman dan banyak yang kufur, disaat itu Allah turunkanlah dabbah (binatang melata besar) untuk membedakan manusia mana yang masih beriman dan mana yang kufur.

Seperti firman Allah subhanallhu wata'ala dibawah ini:

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِّنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

“Apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan seekor dabbah (binatang melata) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami,” (QS. An-Naml: 82).

Dabbah ini akan keluar yang bisa berbicara seperti manusia dengan membawa tongkat Nabi Musa dan dijarinya mengenakan cincin Nabi Sulaiman. Kemudian dia datangi semua orang, lalu memberikan tanda kepada orang yang kafir dengan cincin pada hidungnya dan tanda bercahaya dengan tongkatnya pada muka orang yang beriman. Bentuk binatang dabbah ini tidak dijelaskan secara pasti yang jelas kita bisa bayangkan bentuknya seukuran manusia karena bisa memagang tongkat Nabi Musa dan memakai cincin Nabi Sulaiman.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تَخْرُجُ الدَّابَّةُ وَمَعَهَا عَصَا مُوْسَـى q وَخَاتَمُ سُلَيْمَانَ q، فَتَخْطِمُ الْكَـافِرَ -قَالَ عَفَّانُ (أَحَدُ رُوَاةِ الْحَدِيْثِ): أَنْفَ الْكَافِرِ- بِالْخَاتَمِ وَتَجْلُوْ وَجْهَ الْمُؤْمِنِ بِالْعَصَا، حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْخِوَانِ لَيَجْتَمِعُوْنَ عَلَى خِوَانِهِمْ فَيَقُوْلُ هَذَا: يَا مُؤْمِنُ! وَيَقُوْلُ هَذَا: يَا كَافِرُ!

“Seekor binatang akan keluar dengan membawa tongkat Musa, dan cincin Sulaiman Alaihissallam, lalu dia akan memberikan tanda (cap tanda pengenal) kepada seorang kafir (seorang perawi hadits bernama Affan menjelaskan tanda tersebut diberikan pada hidung orang kafir) dengan cincin, dan menjadikan bercahaya serta memutihkan wajah seorang mukmin dengan tongkat, se-hingga orang-orang yang sedang berkumpul pada hidangan makanan akan saling menyeru, maka yang ini berkata, ‘Wahai mukmin!’ Sementara yang lain berkata, ‘Wahai Kafir!’”

Musnad Imam Ahmad (XV/79-82, no. 7924) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”

Terus binatang dabbah ini keliling di muka bumi tapi tidak disebutkan berapa lama, lalu kemudian Allah lenyapkan dabbah tersebut.


Keluarnya Dzus-Suwaiqa

Disaat dunia sudah tidak ada orang muslim dan beriman, tidak ada lagi orang yang menyembah Allah dan yang thawaf di ka'bah, maka keluarnya Dhus-Suwaiqatain. Yaitu seorang lelaki botak dari Habasyah (Afrika-Etyopia) dikenal dengan Dzus-Suwaiqa. Dzus-Suwaiqa ini saaq artinya betis, diberikan julukan Dzus-Suwaiqa karena betisnya sangat kecil. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah menjelaskan sifatnya secara cermat, beliau menyebutkan bahwa mereka berkulit hitam, betis kecil, kedua kakinya renggang dan ini termasuk ciri orang-orang Habasyah, beliau juga mencetuskan bahwa mereka rata-rata botak, ubun-ubunnya licin, persendian tulangnya bengkok sebagian keluar dari tempatnya.

Dan diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُخْرِبُ الْكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الْحَبَشَةِ، وَيَسْلُبُهَا حِلْيَتَهَا، وَيُجَرِّدُهَا مِنْ كِسْوَتَهَا، وَلَكَأَنِّـي أَنْظُرُ إِلَيْهِ: أُصَيْلِعَ، أُفَيْدِعَ، يَضْـرِبُ عَلَيْهَا بِمِسْحَاتِهِ وَمِعْوَلِهِ.

‘Ka’bah akan dihancurkan oleh Dzu Suwaqatain dari Habasyah (Ethopia), perhiasannya akan dilepas dan kiswahnya akan dibuka. Seakan-akan aku melihatnya agak botak, agak bengkok tulang betisnya, ia memukul Ka’bah dengan sekop dan cangkulnya.’” (Musnad Ahmad (XII/14-15 no. 7053)

Keluarnya api dari kota Aden Yaman

Ketika telah banyak kerusakan di tengah-tengah manusia dengan kemaksiatan-kemaksiatannya dan keburukan yang tersebar dimana-mana. Akhirnya, keluarlah api menjelang hari kiamat. Sebagaimana hadis,

وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman, mendorong manusia menuju tempat berkumpul mereka.” (HR. Muslim no. 2901)

Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata,

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَآخِرُ ذَٰلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ، تَسُوقُ النَّاسَ إِلَى الْمَحْشَرِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Akan keluar api dari Hadramaut atau laut Hadramaut sebelum hari Kiamat yang akan menggiring manusia.’” Musnad Imam Ahmad (VII/133, no. 5146), Ahmad Syakir berkata, “Sanadnya shahih.” Dan at-Tirmidzi (VI/463-464, Tuhfatul Ahwadzi).

Api yang keluar tersebut yang sangat besar, dan menjalar dengan cepat kesegala penjuru dunia, sehingga membuat orang berlarian menyelamatkan diri yang pada akhirnya menggiring manusia dari timur ke barat.

Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa ‘Abdullah bin Salam ketika masuk Islam bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang beberapa masalah, di antaranya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنْ أَوَّلِ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ.

“Apakah tanda pertama datangnya Kiamat?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Adapun tanda Kiamat yang pertama adalah api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat.” Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Khalqu Adam wa Dzurriyyatuhu (VI/362, al-Fat-h, no. 3329).

Saat manusia berlarian dari timur ke barat tersebut, terbentuklah 3 kelompok manusia. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى ثَلاَثٍ: طَرَائِقَ رَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ، وَاثْنَانِ عَلَى بَعِيْرٍ، وَثَلاَثَةٌ عَلَـى بَعِيْرٍ، وَأَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيْرٍ، وَعَشْرَةٌ عَلَى بَعِيْرٍ، وَيَحْشُرُ بَقِيَّتُهُمُ النَّـارُ، تَقِيْلُ مَعَهُـمْ حَيْثُ قَالُوا، وَتَبِيْتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوْا، وَتُصْبِحُ مَعَهُمْ حَيْثُ أَصْبَحُوْا، وَتَمْسِي مَعَهُمْ حَيْثُ أَمْسَوا.

“Manusia itu dikumpulkan menjadi tiga kelompok: kelompok orang yang bersuka ria, kelompok yang merasa takut, dan kelompok di mana dua orang di atas unta, tiga orang di atas unta, empat orang di atas unta, dan sepuluh orang di atas unta, dan selebihnya digiring oleh api, api ini akan selalu bersama mereka di saat mereka istirahat, di saat mereka bermalam, di waktu pagi, dan di waktu sore hari.” Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab al-Hasyr (XI/377, al-Fat-h, no. 6522), dan Shahiih Muslim, kitab al-Jannah wa Shifatu Na’imihaa, bab Fanaa-ud Dun-yaa wa Bayaanul Hasyri Yaumal Qiyaamah (XVII/194-195, Syarh an-Nawawi).

Api yang keluar ini merupakan tanda-tanda yang terakhir menjelang hari kiamat sebelum ditiupkannya sangkakala. Adapun bagaimana gambaran manusia berkumpul di tempat mereka berkumpul (Mahsyar), ada beberapa golongan.

  1. Kelompok yang semangat dan gembira menuju tempat tersebut, di antara mereka ada yang menaiki kendaraan.
  2. Kelompok yang terkadang berjalan dan terkadang naik kendaraan
  3. Kelompok yang enggan berjalan, bisa jadi mereka adalah para pelaku maksiat. Karena mereka tidak mau beranjak untuk pergi, maka api yang akan mendorong mereka untuk menuju tempat berkumpul.

Tempat berkumpul (Mahsyar) yaitu tempat berkumpulnya manusia karena didorong oleh api sebelum tibanya hari kiamat, bukan padang mahsyar, sebagaimana pendapat yang benar dari para ulama.


Ditiupnya Sangkakala oleh Malaikat Israfil

Setelah semua manusia di dunia tidak ada yang muslim dan semuanya kufur, serta banyaknya kekacauan yang terjadi di dunia, seperti matehari terbit dari barat, terjadinya longsor besar yang tidak mungkin diperbaiki, serta keluarnya api yang membuat banyak manusia mati terbakar dengan menggiringnya dari timur ke barat, pada akhirnya Malaikat Israfil yang selaku pemegang terompet kematian akhir zaman diperintahkan Allah untuk meniupkan sangkakalanya.

Tiupan sangkakala tersebut dilakukan oleh malaikat israfil sebanyak 2 kali.

  1. Tiupan pertama, yaitu tiupan yang menyebabkan kaget, kepanikan, atau terkejutnya seluruh makhluk dan kemudian membuat seluruh makhluk bumi dan dilangit mati kecuali suapa yang Allah kehendaki. Tiupan ini juga menyebabkan perubahan dan rusaknya keteraturan alam dunia, berbenturan semua planet di tata surya.
  2. Tiupan kedua, yaitu tiupan dibangkitkannya seluruh makhluk dari matinya.

Tiupan sangkakala ke pertama dan ke dua ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar [39]: 68)

Tiupan kedua juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.” (QS. Yasin [36]: 51)

Berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang di dalamnya diceritakan,

… ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا، قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ، قَالَ: فَيَصْعَقُ، وَيَصْعَقُ النَّاسُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللهُ – مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوِ الظِّلُّ – نُعْمَانُ الشَّاكُّ – فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى، فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ …

“ … Kemudian ditiuplah sangkakala. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali dia memasang pendengarannya dan menjulurkan lehernya. Beliau bersabda,’Maka orang yang pertama kali mendengarnya adalah seseorang yang memperbaiki telaga untuk untanya.’ Beliau berkata,’Dia pun mati, dan orang-orang pun mati.’ Kemudian Allah mengirim (menurunkan) hujan gerimis atau naungan yang darinya Allah menumbuhkan (membangkitkan) jasad-jasad manusia. Kemudian ditiuplah sangkakala yang ke dua, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) …” (HR. Muslim no. 2940).

Lantas kita bertanya berapakah jarak antara tiupan pertama dan kedua? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ

“(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” Para sahabat bertanya,”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi,”Empat buluh bulan?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi,”Empat puluh tahun?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” (HR. Bukhari no. 4935)

Maksudnya, Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu dengan kata "enggan" untuk menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah bahwa jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini adalah di antara perkara yang tidak diketahui kecuali Allah Ta’ala.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

ومعناه امتنعت من تبيينه لأني لا أعلمه فلا أخوض فيه بالرأي

“Maksudnya, aku tidak bisa menjelaskan, karena aku tidak mengetahuinya. Maka aku tidak berbicara tentang hal itu hanya berdasarkan pendapat (logika).” (Fathul Baari, 11/370)

Kesimpulan

Pembahasan tentang tanda-tanda hari kiamat dalam artikel diatas menunjukkan bahwa peristiwa kiamat bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian tanda yang telah dijelaskan dalam hadits-hadits shahih. Perkiraan total jarak waktu kiamat sesuai hadits shahih tersebut adalah 244 tahun dari sejak tanda terjadinya perang saudara anak khalifah di tanah Arab hingga ditiupnya sangkakala oleh maialkat israfil. Tanda-tanda itu dimulai dari konflik besar dan kekacauan kepemimpinan, munculnya Imam Mahdi, kemudian disusul berbagai tanda besar seperti Dukhan, kemunculan Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, hingga tanda-tanda akhir seperti terbitnya matahari dari barat dan munculnya api yang menggiring manusia.

Artikel diatas juga menekankan bahwa meskipun terdapat perkiraan rentang waktu berdasarkan pemahaman hadits, waktu pasti terjadinya kiamat tetap merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan sangkakala benar-benar ditiup.

Inti dari seluruh pembahasan bukan sekadar mengetahui urutan peristiwa, tetapi agar kaum muslimin mengambil pelajaran, memperkuat iman, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri menghadapi hari akhir. Pengetahuan tentang tanda-tanda kiamat seharusnya menumbuhkan rasa takut kepada Allah, meningkatkan ketaatan, serta menjauhkan diri dari fitnah dan kesesatan di akhir zaman. Wallahu a'lam bish-shawab

Wassalamualaikum Warrahmatullahi wabarakatuhu

DK

Comments

Popular posts from this blog

Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih