Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih
Setiap muslim tentu ingin merasa aman dan terlindungi — baik dari bahaya yang tampak seperti kejahatan manusia dan kejahatan hewan maupun yang tersembunyi seperti kejahatan 'ain atau mata hasad, kejahatan jin, dan setan. Dalam ajaran Islam, selain berusaha secara fisik, salah satu jalan utama adalah dengan doa memohon perlindungan (al-isti’adzah) diri yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadits-shahih. Artikel ini akan membahas alasan, contoh doa, keutamaannya, dan cara mengamalkannya secara konsisten.
Mengapa Doa Perlindungan Itu Penting?
Sebagai tanda bahwa meminta perlindungan (isti’adzah) termasuk ibadah karena di dalamnya berisi permintaan. Dan setiap permintaan adalah do’a (Lihat At Tamhid, hal. 168).
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Fushilat: 36).
Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa‘id al-Khudri radiallahu'anhu juga menjelaskan,
«كانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يتعوَّذُ من الجانِّ، وعينِ الإنسانِ، حتى نزلتِ المعوَّذَتانِ، فلما نزلتا أخذَ بهما، وتركَ ما سواهما».
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan supaya umatnya senantiasa memohon perlindungan dari berbagai macam bahaya, baik yang tampak maupun yang tak tampak (jin, setan, mata hasad atau 'ain, dan lain-lain). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2058,dan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan al-Kubra no. 7804, dari sahabat Abu Sa‘id al-Khudri ra. Dinyatakan shahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 4902.
Dengan membaca dan mengamalkan doa-perlindungan, seseorang meneguhkan kebergantungannya hanya kepada Allah, sekaligus menjaga diri dari ketergantungan pada sesuatu yang lain.
Contoh Doa Perlindungan dari Hadits dan Al-Qur’an
Berikut beberapa contoh doa yang diajarkan melalui sunnah atau ayat Qur’an yang populer dijadikan amalan perlindungan:
1. Berlindung kepada Allah dari Gangguan Setan
Ta’awudz atau biasa disebut “pagar spiritual” adalah perlindungan kepada Allah dari gangguan setan terkutuk sebelum membaca Al-Qur’an, dengan memastikan hati kita aman dari gangguan setan dan siap menerima petunjuk Allah. Ta'awuz dibaca setiap kali mulai membaca Al-Qur’an, terutama jika membaca ayat-ayat panjang atau surah baru. Tidak dibaca di tengah-tengah membaca Al-Qur’an, kecuali jika mulai membaca surah baru. Allah berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: ayat 98). (Lihat Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 101).
Bacaan ta'awuz yaitu:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"'A'udzubillahiminas syaitonir rojiim" (artinya: aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
Setelah membaca ta’awudz, biasanya disambung dengan bacaan Basmalah sebelum memulai ayat sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana berikut:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Dari Anas (bin Mâlik), dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah kami (di dalam riwayat lain ada tambahan: di dalam masjid), beliau tidur sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan keadaan tersenyum. Maka kami bertanya: “Apa yang telah menjadikanmu tersenyum wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. Beliau menjawab: “Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surat”. Lalu berlau membaca: Bismillahirrahmanir rahiim (artinya: dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kamu, apakah al-Kautsar itu?”. Kami menjawab: “Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Itu adalah sebuah sungai yang Rabbku Azza wa Jalla menjanjikannya kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Itu juga merupakan telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat. Wadah minumnya sebanyak bilangan bintang-bintang. Kemudian seorang hamba di antara mereka akan ditarik, maka akan akan berkata: “Wahai Rabbku, dia adalah umatku”. Allah Azza wa Jalla menjawab: :”Engkau tidak mengetahui perkara baru yang dibuat oleh umatmu setelahmu”. [HR. Muslim, no. 400]
Tujuan Membaca Ta’awudz
- Melindungi hati dari gangguan setan: Agar hati fokus dan pikiran tenang saat membaca Al-Qur’an.
- Memperkuat kekhusyukan: Membaca Al-Qur’an dengan hati yang tenang dan bersih dari gangguan.
- Menghindari kesalahan dalam membaca: Setan bisa menimbulkan lupa atau salah membaca ayat.
2. Berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar Lagi Mengetahui dari Godaan Setan
A'udzu billahi as-Sami'il 'Alim minasy-syaithanir-rajim berarti: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk." Bacaan ini merupakan variasi dari ta'awudz (isti'adzah), yang digunakan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan sebelum membaca Al-Qur'an atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan perlindungan.
Redaksi hadits shahih aslinya seperti dibawah ini:
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“A‘ūdzu billahis samii'il 'alim, minasy syaithonir rojiim, min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih (artinya: aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela–atau syair atau sihirnya–).” (HR. Abu Daud, no. 775 dan Tirmidzi, no. 242. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini hasan. Pengertian “min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih“, lihat KitabShifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 104. Lihat pula catatan kaki dalam Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:212).
3. Berlindung kepada Kalimat Allah dari Kejahatan Makhluk
Do'a ini termasuk salah satu dzikir sore hari yang dibaca 3x, doa ini berguna untuk melindungu diri dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua makhluk ciptaanNya baik itu manusia, jin, hewan, tumbuhan dan setan yang membahayakan. Membaca doa ini secara rutin di pagi dan sore hari, sangatlah dianjurkan sebagai bagian dari dzikir harian untuk memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah. Doa ini tidak hanya di khususnya pada sore hari, akan tetapi bisa dibaca kapanpun saat kita memerlukan perlindungan dari kejahatan makhluk, misalnya apabila memasuki daerah yang sekiranya berbahaya atau angker, ada baiknya kita baca doa ini.
Redaksi hadits shahih aslinya seperti dibawah ini:
Kholwah binti Hakim As Sulamiyyah berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” (artinya: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”, maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708).
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِى ثَلاَثَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ حُمَةٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ
“Barang siapa mengucapkan ketika masa’ (waktu sore) “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” (artinya: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya) sebanyak tiga kali, maka tidak ada racun yang akan membahayakannya.” Suhail berkata, “Keluarga kami biasa mengamalkan bacaan ini, kami mengucapkannya setiap malam.” Ternyata anak perempuan dari keluarga tadi tidak mendapati sakit apa-apa. (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan).
Dari ‘Khaulah bintu Hakim as-Sulamiyyah rahimahullah beliau berkata:
عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: ((أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)) لَمْ يَضُرَّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ … رواه مسلم.
Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang singgah/menempati suatu tempat lalu dia membaca (dzikir) “A’udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaqa“ (artinya: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna dari kejahatan yang ada pada makhluk-Nya), maka tidak ada sesuatupun yang akan mengganggu/membahayakannya sampai dia pergi dari tempat itu. HSR Muslim (no. 2708).
4. Berlindung kepada Nama Allah dari Segala Kejelekan
Hendaklah seorang muslim meminta perlindungan kepada Allah dan menjadikan nama Allah untuk memudahkan aktivitasnya. Dengan nama Allah akan melindungi kita dari kejelekan secara makna, kejelekan ‘ain, terlindung dari hewan jahat, terlindung dari jin, terlindung dari setan, karena Allah Maha Mendengar keadaan hamba dan Maha Mengetahui segala kondisinya pada setiap waktunya. Tidaklah suatu kejelekan menimpa kita melainkan dengan izin Allah.
Do'a ini sebaiknya dibaca setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya sebanyak 3x untuk melindungi diri dari segala kejahatan baik kejahatan 'ain, manusia, jin, setan maupun hewan.
Redaksi hadits shahih aslinya seperti dibawah ini:
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : ((حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ))
Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: "Bismillahiladzi laa yadhurru ma'ashmihi syai'un fil ardhi, wa laa fis samaa'i, wa huwas samii'ul 'aliim (artinya: dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].
Dalam akhir hadits di atas disebutkan bahwa Aban bin ‘Utsman menderita lumpuh sebagian. Lantas ada seseorang yang mendengar hadits dari Aban lalu memperhatikan dirinya. Aban berkata:
مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ ؟ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ وَلاَ كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ولَكِنَّ اليَوْمَ الَّذِي أَصَابَني فِيْهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فنَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَهَا
“Demi Allah, kenapa engkau terus memperhatikan aku seperti itu? Aku tidaklah mendustakan hadits dari ‘Utsman, ‘Utsman pun tidak mungkin berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi hari ini terjadi apa yang sudah terjadi. Aku sedang marah, lantas aku lupa membaca dzikir di atas.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388).
5. Berlindung kepada Allah dari Kejahatan Seseorang
Doa ini diambil dari hadits shahih riwayat Muslim Bab 73 halaman 3005 atau Bab 4 halaman 2300: Tentang Kisah Kaum Parit, Penyihir, Pendeta, dan Anak Laki-laki. Hadits ini diceritakan oleh Haddab bin Khalid tentang kejahatan seorang raja yang menyuruh anak buahnya untuk menyiksa seorang anak laki-laki yang menganggap ada tuhan selain raja. Anak laki-laki ini sebelumnya akan dijadikan pewaris ilmu sihir oleh seorang penyihir kerajaan yang sudah tua, akan tetapi sebelum diajarkan sihir dia malah belajar agama dengan seorang pendeta, sehingga dia menjadi seorang yang bisa menyembuhkan buta dan kusta. Setiap kali akan disiksa dan dibunuh oleh orang suruhan raja, anak tersebut selalu membaca doa ini, maka orang suruhan raja tersebut mengalami nasib yang na'as dan tewas. Akhirnya sang raja kebingungan untuk membunuh anak tersebut, dan pada akhirnya anak tersebut menyuruh raja mengakui tuhannya yaitu Allah Tuhan semesta alam supaya dia bisa dibunuh.
Berikut kutipan doa yang dibaca anak laki-laki tersebut:
اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ
“Allāhumma ikfinīhim bimā syi’ta” (artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mereka dengan cara apa pun yang Engkau kehendaki).
Dibawah ini redaksi asli hadits tersebut:
باب قصة أصحاب الأخدود والساحر والراهب والغلام
3005 حدثنا هداب بن خالد حدثنا حماد بن سلمة حدثنا ثابت عن عبد الرحمن بن أبي ليلى عن صهيب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كان ملك فيمن كان قبلكم وكان له ساحر فلما كبر قال للملك إني قد كبرت فابعث إلي غلاما أعلمه السحر فبعث إليه غلاما يعلمه فكان في طريقه إذا سلك راهب فقعد إليه وسمع كلامه فأعجبه فكان إذا أتى الساحر مر بالراهب وقعد إليه فإذا أتى الساحر ضربه فشكا ذلك إلى الراهب فقال إذا خشيت الساحر فقل حبسني أهلي وإذا خشيت أهلك فقل حبسني الساحر فبينما هو كذلك إذ أتى على دابة عظيمة قد حبست الناس فقال اليوم أعلم آلساحر أفضل أم الراهب أفضل فأخذ حجرا فقال اللهم إن كان أمر الراهب أحب إليك من أمر الساحر فاقتل هذه الدابة حتى يمضي الناس فرماها فقتلها ومضى الناس فأتى الراهب فأخبره فقال له الراهب أي بني أنت اليوم أفضل مني قد بلغ من أمرك ما أرى وإنك ستبتلى فإن ابتليت فلا تدل علي وكان الغلام يبرئ الأكمه والأبرص ويداوي الناس من سائر الأدواء فسمع جليس للملك كان قد عمي فأتاه بهدايا كثيرة فقال ما هاهنا لك أجمع إن أنت شفيتني فقال إني لا أشفي أحدا إنما يشفي الله فإن أنت آمنت بالله دعوت الله فشفاك فآمن بالله فشفاه الله فأتى الملك فجلس إليه كما كان يجلس فقال له الملك من رد عليك بصرك قال ربي قال ولك رب غيري قال ربي وربك الله فأخذه فلم يزل يعذبه حتى دل على الغلام فجيء بالغلام فقال له الملك أي بني قد بلغ من سحرك ما تبرئ الأكمه والأبرص وتفعل وتفعل فقال إني لا أشفي أحدا إنما يشفي الله فأخذه فلم يزل يعذبه [ ص: 2300 ] حتى دل على الراهب فجيء بالراهب فقيل له ارجع عن دينك فأبى فدعا بالمئشار فوضع المئشار في مفرق رأسه فشقه حتى وقع شقاه ثم جيء بجليس الملك فقيل له ارجع عن دينك فأبى فوضع المئشار في مفرق رأسه فشقه به حتى وقع شقاه ثم جيء بالغلام فقيل له ارجع عن دينك فأبى فدفعه إلى نفر من أصحابه فقال اذهبوا به إلى جبل كذا وكذا فاصعدوا به الجبل فإذا بلغتم ذروته فإن رجع عن دينه وإلا فاطرحوه فذهبوا به فصعدوا به الجبل فقال اللهم اكفنيهم بما شئت فرجف بهم الجبل فسقطوا وجاء يمشي إلى الملك فقال له الملك ما فعل أصحابك قال كفانيهم الله فدفعه إلى نفر من أصحابه فقال اذهبوا به فاحملوه في قرقور فتوسطوا به البحر فإن رجع عن دينه وإلا فاقذفوه فذهبوا به فقال اللهم اكفنيهم بما شئت فانكفأت بهم السفينة فغرقوا وجاء يمشي إلى الملك فقال له الملك ما فعل أصحابك قال كفانيهم الله فقال للملك إنك لست بقاتلي حتى تفعل ما آمرك به قال وما هو قال تجمع الناس في صعيد واحد وتصلبني على جذع ثم خذ سهما من كنانتي ثم ضع السهم في كبد القوس ثم قل باسم الله رب الغلام ثم ارمني فإنك إذا فعلت ذلك قتلتني فجمع الناس في صعيد واحد وصلبه على جذع ثم أخذ سهما من كنانته ثم وضع السهم في كبد القوس ثم قال باسم الله رب الغلام ثم رماه فوقع السهم في صدغه فوضع يده في صدغه في موضع السهم فمات فقال الناس آمنا برب الغلام آمنا برب الغلام آمنا برب الغلام فأتي الملك فقيل له أرأيت ما كنت [ ص: 2301 ] تحذر قد والله نزل بك حذرك قد آمن الناس فأمر بالأخدود في أفواه السكك فخدت وأضرم النيران وقال من لم يرجع عن دينه فأحموه فيها أو قيل له اقتحم ففعلوا حتى جاءت امرأة ومعها صبي لها فتقاعست أن تقع فيها فقال لها الغلام يا أمه اصبري فإنك على الحق
Bab: Kisah Para Sahabat di Parit, Penyihir, Pendeta, dan Anak Laki-laki
3005 Haddab bin Khalid meriwayatkan kepada kami, Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami, Tsabit meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abi Layla, dari Suhaib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada seorang raja di antara orang-orang sebelum kalian, dan ia memiliki seorang penyihir. Ketika penyihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja, “Aku sudah tua, maka kirimkanlah kepadaku seorang anak laki-laki untuk kuajari sihir.” Maka ia mengirim seorang anak laki-laki untuk mengajarinya. Dalam perjalanannya, setiap kali seorang pendeta lewat, ia akan duduk di sampingnya dan mendengarkan ceramahnya, dan ia pun merasa senang. Ketika ia sampai di tempat penyihir itu, ia akan melewati pendeta itu dan duduk di sampingnya. Ketika ia sampai di tempat penyihir itu, ia akan memukulnya. Maka ia mengadukan hal itu kepada pendeta itu, yang berkata, "Jika engkau takut pada tukang sihir, katakanlah, 'Keluargaku telah menghalangiku.' Dan jika engkau takut pada keluargamu, katakanlah, 'Tukang sihir telah menghalangiku.' Ketika ia seperti itu, ia bertemu seekor binatang besar yang telah menghalangi manusia. Maka ia berkata, 'Hari ini aku akan tahu apakah tukang sihir itu lebih baik atau pendeta.' Ia mengambil batu dan berdoa, 'Ya Allah, jika urusan pendeta lebih Engkau cintai daripada urusan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar manusia dapat pergi.' Maka ia melemparkan batu itu dan membunuhnya, dan manusia pun pergi. Kemudian ia datang kepada pendeta itu dan menceritakannya. Pendeta itu berkata, 'Siapakah di antara putra-putramu yang sekarang?'" Ia lebih baik dariku. Apa yang kulihat dari urusanmu telah sampai kepadamu. Jika engkau diuji, janganlah engkau memberiku petunjuk. Anak laki-laki itu biasa menyembuhkan orang buta dan orang kusta, dan mengobati orang-orang dari segala penyakit. Kemudian seorang sahabat raja yang telah buta mendengar tentang hal itu dan datang kepadanya dengan banyak hadiah. Ia berkata, "Semua yang ada di sini adalah untukmu jika kau menyembuhkanku." Ia berkata, "Aku tidak menyembuhkan siapa pun; hanya Tuhan yang menyembuhkan. Jika kau percaya kepada Tuhan, aku akan berseru kepada Tuhan dan Dia akan menyembuhkanmu." Maka ia percaya kepada Tuhan dan Tuhan menyembuhkannya. Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di sampingnya seperti biasa. Raja bertanya kepadanya, "Siapa yang memulihkan penglihatanmu?" Ia berkata, "Tuanku." Ia bertanya, "Apakah kau memiliki tuhan selain aku?" Ia berkata, "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhan." Maka ia menangkapnya dan terus menyiksanya sampai ia mengarahkannya kepada anak laki-laki itu. Kemudian anak laki-laki itu dibawa dan raja berkata kepadanya, "Wahai anakku, sihirmu telah mencapai titik sedemikian rupa sehingga kau menyembuhkan orang buta dan orang kusta, dan kau melakukannya dan melakukannya." Ia berkata, "Aku tidak menyembuhkan siapa pun; hanya Tuhan yang menyembuhkan." Maka ia menangkapnya dan terus menyiksanya sampai ia mengarahkannya kepada pendeta. Kemudian pendeta itu dibawa dan dikatakan kepadanya, "Mundurlah dari agamamu," tetapi ia menolak. Kemudian ia memanggil gergaji dan meletakkan gergaji itu di Kemudian sahabat raja dibawa dan dikatakan kepadanya, "Bertobatlah dari agamamu," tetapi ia menolak. Maka gergaji itu ditempatkan di belahan kepalanya dan ia membelahnya dengan itu sampai jatuh menjadi dua bagian. Kemudian anak laki-laki itu dibawa dan dikatakan kepadanya, "Bertobatlah dari agamamu," tetapi ia menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok sahabat anak-laki-laki tersebut dan berkata, "Bawa dia ke gunung ini dan itu dan naiki gunung itu bersamanya. Ketika kalian mencapai puncaknya, jika dia mengingkari agamanya, maka berbuat baiklah, jika tidak, jatuhkan dia." Maka mereka membawanya dan naik ke gunung bersamanya. Anak laki-laki itu berkata, “Allāhumma ikfinīhim bimā syi’ta” (artinya "Ya Tuhan, lindungi aku dari mereka sesuka-Mu"). Gunung itu berguncang dan mereka jatuh. Kemudian anak laki-laki tersebut datang berjalan kepada raja. Raja bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi pada sahabat-sahabatmu?" Dia berkata, "Tuhan melindungiku dari mereka." Kemudian raja menyerahkannya kembali kepada sekelompok sahabat lainnya dari anak laki-laki tersebut. Dia berkata, “Allāhumma ikfinīhim bimā syi’ta” (artinya "Ya Tuhan, lindungi aku dari mereka sesuka-Mu"). Kapal itu terbalik dan mereka tenggelam. Kemudian dia berjalan ke raja. Raja bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi pada teman-temanmu?" Dia berkata, "Tuhan melindungiku dari mereka." Kemudian anak laki-laki tersebut berkata kepada raja, "Kamu tidak akan membunuhku sampai kamu melakukan apa yang kuperintahkan kepadamu." Raja bertanya, "Apa itu?" Dia berkata, "Kumpulkan orang-orang di satu tempat dan salibkan aku di kayu salib." Kemudian ambillah anak panah dari tabung panahku dan masukkan anak panah itu ke tali busur dan katakan, "Dalam nama Tuhan, Tuhan anak itu," lalu tembaklah aku, karena jika kamu melakukan itu, kamu akan membunuhku. Jadi dia mengumpulkan orang-orang di satu tempat dan menyalibkannya di sebuah peti. Kemudian dia mengambil anak panah dari tabung panahnya dan memasukkan anak panah itu ke tali busur dan berkata, "Dalam nama Tuhan, Tuhan anak itu," lalu dia menembaknya, dan anak panah itu mengenai pelipisnya. Dia meletakkan tangannya ke pelipisnya di tempat anak panah itu dan mati. Orang-orang berkata, "Kami percaya kepada Tuhan anak itu, kami percaya kepada Tuhan anak itu, kami percaya kepada Tuhan anak itu." Maka raja pun dibawa dan dikatakan kepadanya, "Sudahkah kaulihat apa yang kau peringatkan? Demi Allah, peringatanmu telah datang kepadamu, dan rakyat telah percaya." Maka ia memerintahkan agar parit digali di mulut-mulut gang dan api dinyalakan. Ia berkata, "Barangsiapa tidak meninggalkan agamanya, lemparkanlah dia ke dalamnya." Atau dikatakan kepadanya, "Doronglah." Demikianlah mereka melakukannya hingga seorang wanita datang membawa anaknya dan ia ragu untuk jatuh ke dalamnya. Anak laki-laki itu berkata kepadanya, "Wahai ibu, bersabarlah, karena engkau berada di atas kebenaran." (HR Muslim 4/2300-2301 atau Muslim 73/3005)
Selain cerita anak laki-laki (ghulam) diatas do'a tersebut juga pernah diamalkan oleh seorang ulama bernama Imam Atha’ al-Azraq saat menghadapi perampok yang diceritakan oleh Ummul Malik bintu Hisyam dari kitab at-Tawwabin, Ibnu Qudamah, hlm. 167. Ceritanya begini:
Suatu ketika Imam Atha’ al-Azraq keluar menuju tanah lapang dan melakukan shalat malam. Tiba-tiba dia dihadang perampok. Beliau pun berdoa,
اللهم اكفنيه
“Allāhumma ikfinīhi” (artinya: “Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatannya").
Tiba-tiba tangan dan kaki perampok itu menjadi kaku. Dia pun menangis dan berteriak, ’Demi Allah, saya tidak akan merampok lagi.’
Kemudian Imam Atha’ mendoakannya, sehingga dia bisa lepas.
Ketika beliau pergi, perampok itu selalu ikut. ’Saya mohon dengan sangat, siapakah kisanak?’ tanya perampok.
’Saya Atha’.’ Jawab sang imam.
Kemudian keduanya berpisah. Sementara perampok itu belum mengenali wajah sang Imam Atha al-Azraq.
Di pagi harinya, perampok taubat itu bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar.
’Kalian tahu, siapa orang soleh yang keluar ke tanah lapang melakukan shalat malam?’
’Kami tahu, dia Atha’ as-Sulami.’ Jawab penduduk.
Orang inipun segera menemui Atha as-Sulami.
’Aku menemui anda untuk bertaubat dari perbuatan burukku.’ Mantan perampok itu mulai cerita kejadiannya.
Kemudian Atha as-Sulami mengangkat tangannya ke atas dan berdoa. Beliau menangis, kemudian menyampaikan kepada si mantan perampok,
’Kamu salah. Itu bukan saya. Itu Atha al-Azraq.’
6. Berlindung kepada Allah dari Beratnya Cobaan, Kesengsaraan, Takdir Jelek, dan Kegembiraan Musuh
Hadis ini termasuk al-Jawāmi‘, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang singkat namun penuh makna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dari empat hal besar, dan siapa pun yang dijaga darinya akan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat — itulah kemenangan sejati.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء )) متفق عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ سُفْيَانُ : أَشُكُّ أَنِّي زِدْتُ وَاحِدَةً مِنْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Al-Bukhari, no. 6347 dan Muslim, no. 2707]Doa yang harus dibaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Allahumma innī a‘udzu bika min zawali ni‘matika, wa taḥawwuli ‘afiyatika, wa fuja’ati niqmatika, wa jamī‘i sakhathika." (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesehatan (atau keselamatan) yang telah Engkau anugerahkan, datangnya azab-Mu secara tiba-tiba, dan dari segala bentuk kemurkaan-Mu.)
Beliau berlindung dari beratnya cobaan, karena ujian yang terlalu berat dapat menggoyahkan kesabaran dan membuat seseorang mengeluh terhadap takdir Allah. Kemudian dari kesengsaraan yang terus-menerus, terutama penderitaan akhirat yang tiada akhir, berbeda dengan kesedihan dunia yang silih berganti dengan kebahagiaan. Selanjutnya dari takdir yang buruk, yaitu ketentuan yang terasa menyakitkan bagi seorang hamba. Namun sesungguhnya semua takdir Allah penuh dengan hikmah dan kebaikan. Dan terakhir dari kegembiraan musuh atas musibah yang menimpa kita, sebab tidak ada luka yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang membenci kita merasa senang atas penderitaan kita.
7. Berlindung kepada Allah dari Penyakit
Doa ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Penyakit adalah gangguan fungsi tubuh yang bisa disebabkan oleh benda asing atau faktor lingkungan seperti panas dan dingin. Allah سُبْحَانَ اللَّهُ وَتَعَالَى tidak menurunkan penyakit tanpa menurunkan pula obatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Karena itu, seorang Muslim harus meyakini bahwa Allah-lah sumber penyakit dan kesembuhan; hanya di tangan-Nya segala kebaikan.
Ada beberapa cara untuk berlindung dari penyakit ini, diantaranya:
1. Dengan meletakkan telapak tangan pada tubuh yang sakit
Dalam proses pengobatan, hati seorang mukmin hendaknya selalu bergantung kepada Allah, berharap kesembuhan dan perlindungan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan agar ketika sakit, seseorang meletakkan telapak tangan di bagian yang sakit sambil membaca Bismillah tiga kali, lalu berdoa memohon perlindungan Allah. Gerakan ini diyakini membantu menyalurkan energi dan memperkuat daya tubuh, sementara menyebut nama Allah membawa cahaya, berkah, dan penyembuhan.
Pengulangan doa sebanyak tujuh kali memiliki makna penguatan keyakinan dan permohonan. Dalam setiap doa, seorang Muslim harus yakin sepenuhnya bahwa Allah adalah Asy-Syāfī — Sang Maha Penyembuh.
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالاَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ . ثَلاَثًا . وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ " .
Utsman bin Abu al-'As Al-Tsaqafi meriwayatkan bahwa ia mengeluhkan rasa sakit yang dirasakannya di sekujur tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau baru masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Letakkan tanganmu di tempat yang kau rasa sakit di sekujur tubuhmu dan ucapkan Bismillah (artinya: dengan nama Allah) tiga kali dan tujuh kali, A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadhiru (artinya: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang kutemukan dan kutakuti). [Sahih Muslim No 2202]
Cara mengamalkan hadits ini:
- Pegang bagian tubuh yang sakit
- Baca Bismillah (3x)
- Baca A’udzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x)
2. Dengan menggunakan telunjuk dan media tanah
Hadits ini termasuk hadits shahih yang disepakati dua imam besar hadits (Muttafaq ‘alaih). Para ulama menjelaskan bahwa doa ini merupakan bagian dari ruqyah syar’iyyah, yaitu bentuk pengobatan yang menggabungkan dzikir, doa, dan tawakkal kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan simbol tanah dan air liur sebagai bentuk perantara (wasilah), namun inti dari penyembuhan tetap datang “dengan izin Rabb kami". Hadits ini juga mengingatkan bahwa setiap penyakit memiliki obat, dan kesembuhan sepenuhnya berada di tangan Allah. Doa ini dapat diamalkan sebagai bentuk ruqyah, selama tidak dijadikan pengganti total dari pengobatan medis ketika seseorang membutuhkan perawatan profesional. Dengan menggabungkan ikhtiar duniawi dan doa, seorang Muslim tetap berada dalam jalan yang seimbang dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»
Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang yang sakit, Bismillah, turbatu ardina, biriqati ba‘dina, yushfa saqimuna, bi idhni Robbina. (artiunya: Dengan nama Allah, tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Robb kami). [HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194]
Cara mengamalkan hadits ini:
- Basahi telunjuk dengan air liur
- Tempelkan telunjuk yang sudah dibasahi air liur tadi ke tanah
- Usapkan jari telunjuk yang sudah berbalut tanah tersebut ke bagian tubuh yang sakit sambil membaca Bismillah, turbatu ardina, biriqati ba‘dina, yushfa saqimuna, bi idhni Robbina.Tidak ada ketentuan berapa kali doa tersebut dibaca, boleh 1,3 atau 7 kali.
3. Dengan membacakannya kepada media air
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disengat kalajengking saat sedang shalat. Kalajengking tersebut mengganggu beliau, hingga beliau pun mengutuknya karena ia tidak membedakan siapa pun dalam mengganggu — baik orang yang sedang shalat maupun yang tidak. Kutukan ini bukan bentuk emosi pribadi, tetapi menunjukkan betapa berbahayanya hewan tersebut dan besarnya mudarat yang ditimbulkannya. Doa ini tidak hanya untuk tersengat kalajengking, boleh juga karena tersengat hewan lainnya seperti tawon, kelabang, atau ular
Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau berkata :
لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لاَ تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بـ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ)
“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap dengan air tersebut dan membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas” (HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah No. 548)
Cara mengamalkan hadits ini:
- Tidak dijelaskan berapa banyak air yang disiapkan, boleh dengan air satu gelas
- Tidak dijelaskan juga berapa banyak garam yang dicampurkan, boleh larutkan 1 atau 3 sendok makan pada air tersebut
- Masukkan jemari kedalam air garam tersebut lalu usap bagian yang tersengat kalajengking sambil membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas, masing-masing 1 kali
4. Dengan membacakannya kepada orang lain yang sakit
Ada beberapa doa terkait membacakan kepada orang yang sakit ini:
a. Doa malaikat Jibril
Hadits ini menceritakan salah satu bentuk ruqyah syar’iyyah yang diajarkan langsung oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang mengalami sakit.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنهأن جبريل أتى النبي – صلى الله عليه وسلم- فقال: يا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ ؟ قال: ( نعم ) قال: بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ. رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhu, bahwa Jibril mendatangi Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam seraya berkata : “Hai Muhammad, apakah engkau sakit?”, ia bersabda : “Ya”, Jibril mengucapkan doa:
بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ
Bismillahi arqika min kulli shay’in yu’dhika, min sharri kulli nafsin aw ‘aynin hasid, Allahu yashfika, bismillahi arqika. (artinya:Dengan nama Allah, aku memantramu dari segala yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku memantramu.) [HR. Muslim No. 2186]
Cara mengamalkan hadits ini:
- Tidak ada ketentuan apakah tangan ditempelkan ke bagian tubuh yang sakit, boleh ditempelkan dan boleh tidak.
- Jibril hanya menanyakan apakah engkau sakit?
- Bacakan doa ini menghadap orang yang sakit Bismillahi arqika min kulli shay’in yu’dhika, min sharri kulli nafsin aw ‘aynin hasid, Allahu yashfika, bismillahi arqika. Tidak ada ketentuan berapa kali doa tersebut dibaca, boleh 1,3 atau 7 kali.
b. Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Hadits ini menjelaskan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menjenguk orang yang sedang sakit. Hadits ini mengajarkan kepada seorang Muslim bahwa sakit bukan hanya ujian fisik, tetapi juga momen untuk memperkuat iman, memohon pertolongan Allah, dan menghidupkan sunnah Nabi dalam doa-doa yang sederhana namun sarat makna.
نْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»
Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit kepada beliu maka beliau berkata, "Adzhibil ba’sa, Robbannas, isyfi wa antassyafiy, la syifa’a illa syifa’uka, syifa’an la yughodiru saqoma". (artinya: Hilangkanlah penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun). (HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191)
Cara mengamalkan hadits ini:
- Tidak ada ketentuan apakah tangan ditempelkan ke bagian tubuh yang sakit, boleh ditempelkan dan boleh tidak.
- Bacakan doa ini menghadap orang yang sakit Adzhibil ba’sa, Robbannas, isyfi wa antassyafiy, la syifa’a illa syifa’uka, syifa’an la yughodiru saqoma. Tidak ada ketentuan berapa kali doa tersebut dibaca, boleh 1,3 atau 7 kali.
8. Berlindung kepada Allah dari Kemalasan, Usia Tua, Umur Buruk, Dajjal, & Siksa Kubur
Doa ini juga sebagai dzikir pagi petang yang dibaca satu kali. Dari Abdullah ibn Mas‘ud – bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila “asbaḥa” (memasuki pagi) dan apabila “amsā” (memasuki sore), beliau mengucapkan:
كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقولُ إذا أصبَح : ( أصبَحْنا وأصبَح المُلْكُ للهِ والحمدُ للهِ أسأَلُكَ مِن خيرِ هذا اليومِ ومِن خيرِ ما فيه وخيرِ ما بعدَه وأعوذُ بكَ مِن الكسَلِ والهرَمِ وسوءِ العُمُرِ وفتنةِ الدَّجَّالِ وعذابِ القبرِ ) وإذا أمسى قال مِثْلَ ذلكَ قال الحسَنُ بنُ عُبَيدِ اللهِ : وحدَّثني زُبَيدٌ عن إبراهيمَ بنِ سُوَيدٍ عن عبدِ الرَّحمنِ بنِ يزيدَ عن عبدِ اللهِ عنِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّه كان يقولُ فيه : ( لا إلهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شريكَ له له المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كلِّ شيءٍ قديرٌ ) مسلم(2723)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bersabda di pagi hari: “Asbaḥna wa asbaha al-mulku lillahi, wal-hamdu lillah. As’aluka min khayri hadzal-yaumi, wa min khayri ma fīhi, wa khayri ma ba‘dah. Wa a‘udzu bika minal-kasali, wal-harami, wa su’il-‘umuri, wa fitnati ad-dajjal, wa ‘adzabil-qabr". (artinya: Kami telah bangun, dan kerajaan hanyalah milik Allah, dan segala puji bagi Allah. Aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang akan datang setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, usia tua, umur yang buruk, cobaan Dajjal, dan siksa kubur.) Dan di sore hari, beliau mengucapkan hal serupa. Al-Hasan bin ‘Ubaydullah berkata: Zubayd meriwayatkan kepadaku dari Ibrahim bin Suwayd dari ‘Abdulrahman bin Yazid dari ‘Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda di dalamnya: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR Muslim 2723)
9. Berlindung kepada Allah dari Kejahatan Diri
Doa ini juga sebagai salah satu dzikir pagi dan petang maupun sebelum tidur yang dibaca satu kali. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه “Ucapkanlah pagi dan petang dan apabila engkau hendak tidur.”اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
“Allahumma ‘Alimal-ghaibi wasy-syahadah, Fatiras-samawati wal-ard, Rabba kulli syai’in wa malīkahu, Asyhadu an la ilaha illa anta, A‘udzu bika min syarri nafsī, wa min syarri asy-syaytani wa syirkih, wa an aqtarifa ‘ala nafsī su’an, aw ajurrahu ila muslimin". (artinya: Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.) HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 1202, at-Tirmidzi no.3392 dan Abu Daud no. 5067,Lihat Shahih At- Tirmidzi no. 2798, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 914, shahih. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2753
10. Berlindung kepada Allah dari Kejelekan yang Diperbuat
Doa ini merupakan doa permohonan ampunan utama yang biasa disebut Sayyidul Istighfar (Penghulunya Istighfar) dan juga termasuk salah satu dzikir pagi dan petang, yang apabila dibaca satu kali saat pagi dan sore hari, kemudian meninggal diantra waktu bacaan dzikir tersebut, maka orang tersebut akan termasuk penghuni surga. Hadits shahi ini diriwayatkan oleh Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu:
«سيِّدُ الاستغفارِ أنْ تقولَ: اللَّهم أنتَ ربِّي لا إلهَ إلَّا أنتَ، خلقتني وأنا عبدُكَ، وأنا على عهدِكَ ووعدِكَ ما استطعتُ، أعوذُ بك مِن شرِّ ما صنعتُ، أبوءُ لك بنعمتِكَ عليَّ، وأبوءُ لك بذنبي فاغفرْ لي، فإنَّه لا يغفرُ الذُّنوبَ إلَّا أنتَ»، قال: «ومَنْ قالها مِن النَّهارِ مُوقِنًا بها، فماتَ مِن يومِهِ قبلَ أنْ يُمسيَ، فهو مِن أهلِ الجنَّةِ، ومَن قالها مِن الليلِ وهو مُوقِنٌ بها، فماتَ قبلَ أنْ يُصبحَ، فهو مِن أهلِ الجنَّةِ». رواه البخاري برقم: (6306) ورقم: (6323)، من حديث شداد بن أوس -رضي الله عنه-.
Penghulu istighfar (doa memohon ampun yang paling utama) adalah dengan mengucapkan: "Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa‘dika ma istata‘tu, a‘udzu bika min sharri ma sana‘tu, abu’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abu’u laka bidzanbi faghfir li, fa innahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta". (artinya: ‘Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan perbuatanku. Aku mengakui segala nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.’)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barang siapa mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barang siapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.’
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6306 dan 6323, dari hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.
11. Berlindung kepada Allah dari Penyakit, Pendengaran & Pengelihatan Maksiat, Kufur & Fakir, dan Siksa Kubur
Doa ini masih merupakan salah satu dzikir pagi dan petang, yang dibaca 3 kali sebagai pelindung keselamatan tubuh, pendengaran maksiat, pengelihatan maksiat, kekafiran, kemiskinan (fakir) dan siksa kubur.
عبدُ الرَّحمنِ بنُ أبي بَكْرَةَ قالَ قلتُ لأبي يا أبَه إنِّي أسمعُكَ تدعو عندَ كلِّ غداةٍ اللَّهمَّ عافِني في بدَني اللَّهمَّ عافِني في سمعي اللَّهمَّ عافِني في بصري لا إلهَ إلَّا أنت تقولُها حينَ تُمسِي ثلاثًا وحينَ تصبِحُ ثلاثًا وتقولُ اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الكُفْرِ والفقرِ اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بكَ منعبدُ الرَّحمنِ بنُ أبي بَكْرَةَ قالَ قلتُ لأبي يا أبَه إنِّي أسمعُكَ تدعو عندَ كلِّ غداةٍ اللَّهمَّ عافِني في بدَني اللَّهمَّ عافِني في سمعي اللَّهمَّ عافِني في بصري لا إلهَ إلَّا أنت تقولُها حينَ تُمسِي ثلاثًا وحينَ تصبِحُ ثلاثًا وتقولُ اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الكُفْرِ والفقرِ اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بكَ من عذابِ القبرِ لا إلهَ إلَّا أنت تعيدُها ثَلاثَ مرَّاتٍ فقالَ يا بُنيَّ إني سَمِعتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يدعو بِهنَّ فأنا أحبُّ أن أستنَّ بسنَّتِهِ
أخرجه أبو داود (5090)، والطيالسي (909)، وابن أبي شيبة (29184)، والبخاري في ((الأدب المفرد)) (701) واللفظ لهم.
Abdur-Rahman bin Abi Bakrah berkata: Aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, aku mendengarmu berdoa setiap pagi, "Allahumma ‘afinī fī badanī, Allahumma ‘afinī fī sam‘i, Allahumma ‘afinī fī bashari, la ilaha illa anta." (artinya: 'Ya Allah, sehatkanlah tubuhku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau.)' Engkau mengucapkannya tiga kali di waktu petang dan tiga kali di waktu pagi. Dan engkau mengucapkan, "Allahumma inni a‘udzu bika minal-kufri wal-faqri, wa a‘udzu bika min ‘adzabil-qabri, la ilaha illa anta". (artinya: 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan selain Engkau.') Engkau mengulanginya tiga kali." Ia berkata, "Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dengan doa ini, maka aku ingin meneladaninya." Menurut Sunnahnya.
Diriwayatkan oleh Abu Daud (5090), Al-Tayalisi (909), Ibnu Abi Shaybah (29184), dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (701), dan lafadznya adalah lafadz mereka.
12. Berlindung kepada kebesaran Allah dari Dibenamkannya ke dalam Perut Bumi
Doa ini masih merupakan salah satu dzikir pagi dan petang, yang dibaca sekali sebagai pelindung dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atas. Serta berlindung dari disambar dari bawahku (dibenamkan ke dalam perut bumi).
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
“Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyata fī ad-dunya wal-akhirah, Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyata fī dīni wa dunyaya wa ahli wa mali, Allahumma astur ‘awrati wa amin raw‘ati, Allahumma ihfaznī min bayni yadayya, wa min khalfi, wa ‘an yamini, wa ‘an shimali, wa min fauqi, wa a‘udzu bi‘azamatika an ughtala min tahti." (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).)
HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1200, Abu Dawud no. 5074, An-Nasa-i VIII / 282, Ibnu Majah no. 3871, al-Hakim 1/517-518, dan lainnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Shahiih al-Adabul Mufrad no. 912, shahih
Keutamaan & Manfaat Doa Perlindungan
- Doa-perlindungan membantu menumbuhkan rasa tenang karena kita menyerahkan urusan kita kepada Allah.
- Amalan tersebut juga merupakan pengingat bahwa musuh utama bukan hanya manusia atau benda, melainkan terkadang hal ghaib seperti setan dan gangguan-ghaib.
- Dengan konsisten membaca doa perlindungan setiap pagi, malam, atau saat keluar rumah, seseorang meningkatkan perlindungan dirinya dan keluarganya dari mara bahaya.
- Dalam situasi sulit atau di tengah pandemi, doa-perlindungan menjadi pelengkap ikhtiar medis maupun fisik.
Cara Praktis Mengamalkan Doa Perlindungan
- Mulailah hari Anda dengan membaca doa-perlindungan setelah shalat Subuh, atau saat hendak keluar rumah.
- Konsistensi penting: buatlah sebagai rutinitas harian (pagi dan malam) agar tidak mudah terlupakan.
- Baca dengan penghayatan, dan pahami makna yang Anda ucapkan agar hati menjadi tenang.
- Amalkan dalam kondisi yang benar: setelah wudhu, dalam keadaan khusyu’, sambil menyebut nama Allah.
- Selain doa, lengkapi dengan taqwa, menjauhi maksiat, dan memperbanyak dzikir — karena perlindungan terbaik datang dari kombinasi amalan dan keimanan.
Kesimpulan
Doa perlindungan diri bukan sekadar rangkaian kata, melainkan manifestasi iman dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk senantiasa memohon perlindungan, dan Allah menjanjikan bahwa Dia akan menjawab doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Jadikanlah doa-perlindungan sebagai bagian integral dari hidup Anda — karena sesungguhnya kemenangan diri atas bahaya, terdiri dari ikhtiar + doa + penyerahan total kepada Allah.
Comments
Post a Comment