Apakah Berbuat Baik Tanpa Sholat Bisa Masuk Surga? Inilah Penjelasannya Menurut Islam
Sahabat blogger yang dirahmati Allah, penulis ingin mengulas sebuah pertanyaan menarik yang sering muncul di tengah kaum muslimin: “Apakah seseorang yang berbuat baik kepada sesama makhluk, namun tidak melaksanakan sholat, tetap bisa masuk surga?” Mari kita simak bersama penjelasan mengenai pertanyaan tersebut di bawah ini.
Pendahuluan
Sebelum menjawab secara langsung, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna dari berbuat baik kepada sesama makhluk.Sebagaimana kita ketahui, berbuat baik adalah salah satu akhlak terpuji yang ditujukan kepada semua makhluk ciptaan Allah — baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.
Secara umum, akhlak terpuji terbagi menjadi dua bagian utama:
- Akhlak kepada Allah, yaitu dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Akhlak kepada sesama makhluk, yaitu menebar kebaikan lewat ucapan maupun perbuatan kepada makhluk hidup lainnya.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa akhlak yang baik merupakan tanda kesempurnaan iman seorang mukmin. Sebagaimana sabda beliau dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162, sanad hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Abu Thahir)
Perlu kita ketahui bahwa tidaklah cukup dengan akhlak kebaikan yang kita lakukan kepada sesama makhluk hidup tanpa berbuat akhlak baik kepada Allah yang notabene sebagai pencipta kita. Dan juga tidak lah cukup dengan amal kebaikan yang kita lakukan kepada sesama makhluk untuk memasukkan kita kedalam surga kalau bukan karunia dan rahmat dari Allah semata walaupun itu seorang rasulullah seperti penjelasan dalam hadits shahih dibawah ini:
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)
Sedangkan firman Allah Ta’ala,
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21). Dalam ayat ini dinyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti ada amalan.
Kewajiban Seorang Muslim
Sejalan dengan akhlak terpuji kepada Allah, setiap muslim diwajibkan melaksanakan perintah-Nya yang tercantum dalam rukun Islam. Hal ini dijelaskan secara indah dalam kumpulan hadits Arbain An-Nawawiyah berikut ini.
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadhan.” [HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16]
Hadits ini menjelaskan bahwa Islam memiliki lima pilar utama sebagai fondasi keimanan dan amalan seorang muslim.
Kelima pilar tersebut adalah:
- Syahadat – mengakui keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.
- Sholat – melaksanakan ibadah wajib lima waktu sebagai tiang agama.
- Zakat – menunaikan kewajiban berbagi harta kepada yang berhak.
- Puasa Ramadhan – menahan diri selama bulan suci sebagai bentuk ketaatan.
- Haji – melaksanakan ibadah ke Baitullah bagi yang mampu.
Hadits ini menegaskan bahwa kelima rukun tersebut adalah pondasi utama yang membangun keislaman seseorang, dan tanpa salah satunya, bangunan keimanan bisa menjadi tidak sempurna. Seseorang tidak disebut berislam hingga ia mengimani lima rukun Islam yang ada. Siapa yang mengingkari salah satunya, ia kafir. Siapa yang meninggalkannya dalam rangka meremehkan, ia termasuk orang fajir (durhaka pada Allah).
Sementara Allah berfirman didalam Al Qur'an:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
Untuk meraih surga Allah, setiap muslim diperintahkan untuk memperbanyak amal kebaikan melalui akhlak terpuji — baik kepada Allah maupun kepada sesama makhluk. Pada hakikatnya, akhlak terpuji kepada Allah juga mencakup akhlak terpuji kepada makhluk ciptaan-Nya. Sebab di dalam Al-Qur’an, banyak perintah Allah yang menegaskan pentingnya berbuat baik kepada sesama. Maka dari itu, apabila seseorang tidak berakhlak baik kepada manusia, secara tidak langsung ia pun telah mengabaikan akhlak yang baik kepada Allah, Rabbul ‘Alamin.
Larangan Meninggalkan Sholat
Beberapa orang muslim diantara kita ada yang berkata sesungguhnya apalah artinya sholat kalau tidak berbuat baik kepada semama makhluk, sehingga dia meremehkan untuk tidak melaksanakan sholat dalam kesehariannya. Astaghfirullah, perkataan seperti inilah yang sangat dimurkai Allah dan Rasulnya, dan orang-orang seperti inilah yang termasuk orang fajir (durhaka pada Allah). Perlu kita ketahui bahwa orang yang meninggalkan sholatnya dengan sengaja maka Rasulullah menghukumnya sebagai orang kafir seperti pada penjelasan hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Akan tetapi orang yang lupa atau tidak sadar akan sholat maka dia wajib mengerjakannya saat ingat dan sadar selama tidak menjadi kebiasaan.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ
“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari, no. 597; Muslim, no. 684)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim, no. 684)
Sholatlah Sebagaimana Kalian Melihatku Sholat
Perintah shalat dalam Islam bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk nyata kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang Muslim sejati akan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam setiap ibadah, termasuk dalam pelaksanaan shalat. Mengabaikan sunnah Nabi dalam beribadah berarti menyimpang dari tuntunan yang benar dan bisa termasuk dalam perbuatan bid’ah yang harus dihindari.
Allah berfirman didalam Al Qur'an:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali 'Imran Ayat 31)
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bagaimana cara kita melakukan sholat seperti yang beliau lakukan dalam hadits dibawah ini:
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]
Kesimpulan
Merupakan kesalahan besar apabila seseorang hanya berbuat baik kepada sesama makhluk tetapi mengabaikan kewajiban shalat lima waktu yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kita harus ingat bahwa surga adalah milik Allah, dan mustahil seseorang yang enggan bersujud kepada-Nya mendapatkan balasan surga.
Di dunia, Allah mungkin membalas kebaikan kita terhadap sesama dengan kebaikan pula. Namun, amal tersebut tidak akan bernilai di akhirat jika tidak disertai dengan ibadah utama lainnya seperti bersyahadat, shalat lima waktu yang menjadi tiang agama, berzakat bagi yang sudah mencapai haul dan nisab, puasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke tanah suci Makkah bagi yang mampu.
Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan untuk menegakkan mengerjakan kelima kewajiban sebagai muslim tersebut terkhusus shalat lima waktu tepat waktu bagi kaum pria di masjid, dan bagi wanita di rumah — serta menambahkannya dengan shalat sunnah yang akan mengantarkan kita menuju surga Allah Rabbul ‘Alamin. Aamiin. 🤲
Comments
Post a Comment