Pintu Gerbang Alam Ghaib: Panduan Perlindungan dari Gangguan Jin

Gerbang Ghjoib

Halo sahabat blogger yang selalu setia berkunjung. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengulas tentang pembahasan yang cukup menarik dan sering menimbulkan rasa penasaran, yaitu mengenai pintu gerbang menuju alam jin. Benarkah gerbang ghaib ini memang ada? Ataukah hanya sebatas cerita sensasi yang dibuat oleh konten kreator demi menaikkan jumlah penonton? Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai keberadaan alam ghaib tersebut? Yuk, kita simak pembahasannya berikut ini.

Pada tahun 2006 silam, publik sempat digemparkan oleh kisah seorang pendaki bernama Awe yang hilang di Gunung Slamet. Setelah sembilan hari menghilang, ia kembali dan menceritakan pengalamannya memasuki sebuah wilayah misterius yang disebut sebagai Kampung Rawuh. Awe menuturkan bahwa saat perjalanan turun melalui jalur Bambangan, ia memilih jalur yang melewati dua pohon pinus yang dahannya saling bertemu dan membentuk seolah-olah sebuah gerbang. Menurut ceritanya, ia merasa hanya berada di tempat itu selama tiga hari, padahal di dunia nyata ia menghilang selama sembilan hari.

Kisah lain muncul pada tahun 2019 dari seorang warga Palu, Sulawesi Tengah, bernama Jemmy Lenglo. Ia mengaku pernah masuk ke sebuah kerajaan ghaib bernama Wentira, yang terletak di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dekat sebuah jembatan peninggalan Belanda dengan penanda tugu kuning. Kata Wentira sendiri berasal dari istilah Ngata Uwentira yang berarti “kota tak kasat mata”. Jemmy menggambarkan bahwa kota tersebut penuh dengan nuansa keemasan dan diyakini menyimpan banyak harta karun yang dijaga oleh sembilan sosok dari bangsa jin.

Selain dua kisah tersebut, kita juga sering mendengar cerita para pendaki yang hilang di gunung-gunung tertentu. Beberapa di antaranya kembali setelah beberapa waktu dan menceritakan bahwa mereka seolah berada di tempat lain. Ada yang mengaku bisa melihat dan berteriak kepada tim pencari, namun justru tim tersebut tidak dapat melihat atau mendengar mereka. Seolah ada batas tipis yang memisahkan dunia manusia dan dunia yang lain.

Dari beberapa kisah tersebut, dapat kita pahami bahwa keberadaan alam jin memang diakui dalam ajaran Islam, dan bukan suatu hal yang mustahil apabila terdapat tempat-tempat tertentu yang menjadi pintu masuk menuju alam mereka. Namun keberadaan lokasi tersebut tentu tidak diketahui oleh semua manusia, mungkin hanya orang-orang tertentu atau bangsa jin itu sendiri yang paham letaknya.

Pintu Gerbang Alam Ghaib

Sebenarnya, pintu gerbang menuju alam jin bisa berada di mana saja. Hal ini karena manusia tidak mampu melihat keberadaan mereka, sementara bangsa jin dapat melihat manusia dengan jelas. Allah ‘azza wa jalla telah menegaskan hal tersebut dalam Al-Qur'an:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A’raf : 27)

Menurut sebagian riwayat, bangsa jin akan keluar secara berkelompok dari alam mereka menuju alam manusia pada waktu sore hari melalui gerbang- gerbang tersebut, kemudian menyebar ke berbagai tempat di bumi. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Apabila datang gelap malam (sore hari), maka halangilah anak-anakmu dari keluar rumah karena setan ketika itu berkeliaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam (waktu Isya), maka lepaskanlah mereka lagi. Hendaklah kalian menutup pintu dan berdzikir kepada Allah karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup.” (HR. Bukhari, no. 3304 dan Muslim, no. 2012)

Dari sini dapat dipahami bahwa rumah seorang muslim yang ketika menutup pintunya menyebut nama Allah, insyaAllah akan terhindar dari gangguan bangsa jin yang ingin memasuki rumah tersebut.

Keberadaan pintu gerbang menuju alam jin bukan hanya dibuktikan oleh kisah-kisah modern, namun di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah terjadi peristiwa yang menunjukkan adanya batas antara alam manusia dan alam jin. Seperti yang diriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai kisah Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menemani Rasulullah:

وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَوَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!” Maka ketika telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." (QS Al Ahqaf :46, ayat 29)

Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan Surat Al Ahqaf ayat 29 tersebut tentang kisah Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu secara detil:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Mamar, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan As-Saqafi bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Mas'ud radiallahu 'anha, "Aku mendengar berita bahwa engkau bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di malam delegasi jin." Ibnu Mas'ud menjawab, "Benar." Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan bertanya, "Bagaimanakah ceritanya?" Maka Abdullah ibnu Mas'ud menceritakan hadis ini dan menyebutkan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wassalam membuat pembatas untuknya berupa sebuah garis seraya bersabda: "Jangan kamu tinggalkan tempat ini! Lalu ibnu Mas'ud radiallahu 'anha menyebutkan bahwa ia melihat sekumpulan debu yang berwarna hitam, lalu menutupi diri Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dan kumpulan debu itu disingkirkannya sebanyak tiga kali.

Ketika waktu sudah dekat fajar, Nabi shalallahu 'alaihi wassalam mendatanginya dan bertanya, "Apakah engkau tidur?" Aku menjawab, "Tidak, demi Allah, sesungguhnya aku berkali-kali berniat akan meminta tolong kepada orang lain, hingga aku mendengar engkau memukul mereka dengan tongkatmu seraya berkata, "Duduklah kalian!" Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Seandainya kamu keluar dari garis ini, aku tidak dapat menjamin keselamatanmu bila ada sebagian dari mereka yang menyambarmu". Kemudian Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bertanya, "Apakah engkau melihat sesuatu?" Aku menjawab, "Ya, aku melihat banyak kaum lelaki yang hitam mengenakan pakaian yang putih-putih." Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Mereka adalah jin dari Nasibin, mereka meminta kepadaku perbekalan, maka aku beri mereka bekal dengan tulang yang menghalang-halangi (jalan) atau kotoran (kambing) atau kotoran (unta)". Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu dapat mencukupi kebutuhan mereka?" Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menjawab: "Sesungguhnya mereka tidaklah menemukan tulang, melainkan mereka menemukan daging padanya saat memakannya; dan tidaklah pula kotoran hewan, melainkan mereka menemukan padanya biji-bijian sebagaimana yang dimakan oleh hewan itu".

Dalam riwayat tersebut dikisahkan bahwa Rasulullah membuat sebuah garis sebagai batas agar Abdullah bin Mas‘ud tidak melangkah melewati batas tersebut. Rasulullah memperingatkan bahwa jika ia keluar dari garis itu, maka keselamatannya tidak dapat dijamin karena berpotensi masuk pintu gerbang ke wilayah bangsa jin.

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa keberadaan alam jin adalah nyata, dan ada tempat-tempat tertentu yang dapat menjadi penghubung antara dunia kita dan dunia mereka. Namun, karena keterbatasan penglihatan manusia, lokasi tersebut tidak dapat dikenali dengan pasti.

Karena itu, bila seseorang mengetahui atau menduga suatu tempat memiliki keterkaitan dengan alam jin, maka sebaiknya menghindarinya. Dikhawatirkan tanpa sengaja seseorang dapat melewati batas tersebut dan terseret masuk ke alam lain yang tidak bisa ia kendalikan.

Tetaplah berlindung kepada Allah, memperbanyak dzikir, dan menjaga adab-adab yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya dengan pertolongan-Nya lah kita terjaga dari hal-hal yang tidak terlihat.

Doa Perlindungan dari Gangguan Jin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar senantiasa memohon perlindungan kepada Allah, terutama saat hendak keluar dari rumah. Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah sebagai berikut:

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ قَالَ « يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ ».

“Jika seseorang keluar rumah lalu mengucapkan: ‘Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah’, maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi.’ Setan pun menjauh darinya. Lalu setan lain berkata, ‘Bagaimana mungkin engkau dapat mengganggu seseorang yang telah diberi petunjuk, kecukupan, dan perlindungan?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Doa Perlindungan Saat di Alam Bebas / Pegunungan

Bagi sahabat yang gemar mendaki atau melakukan perjalanan ke kawasan hutan dan pegunungan, sangat dianjurkan untuk membaca dua doa berikut agar terhindar dari gangguan makhluk yang tidak terlihat:

  1. A’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq
  2. Bismillahiladzi laa yadhurru ma'asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa' wahuwas samii'ul 'alim

Diriwayatkan dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu mengucapkan ‘A’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq’, maka ia tidak akan terkena bahaya apa pun sampai ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim no. 2708)

Sedangkan doa kedua dijelaskan dalam hadits berikut dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ ))

“Tidaklah seorang hamba membaca setiap pagi dan setiap petang: ‘Bismillahiladzi laa yadhurru ma'asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa' wahuwas samii'ul 'alim’ sebanyak tiga kali, kecuali ia akan terhindar dari segala bahaya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi; Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih)

Ketika Berada di Alam Ghaib

Alam Ghaib

Ada kalanya seseorang lupa membaca doa perlindungan sebelum memasuki hutan, pegunungan, atau tempat sunyi lainnya. Atau bisa jadi walaupun sudah membaca doa, namun dengan kehendak Allah seseorang tetap berada dalam keadaan yang tidak terlihat (alam ghaib). Jika hal tersebut terjadi, maka apa yang sebaiknya dilakukan?

1. Membaca Syahadat

Ucapan syahadat merupakan pengakuan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mengucapkannya akan mendapatkan perlindungan atas darah dan hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوْا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذٰلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى.

“Aku diperintah memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali karena sebab hukum Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 25; Muslim no. 22)

Dalam salah satu kisah nyata, empat orang pencari ikan di Pantai Oka-oka, Kalimantan Selatan, dikabarkan memasuki alam ghaib Saranjana. Mereka berulang kali terlempar antara alam nyata dan alam tersebut, namun setiap kali salah satu dari mereka mengingatkan untuk mengucap syahadat, mereka pun kembali ke dunia nyata. Hal ini menunjukkan pentingnya syahadat sebagai pegangan keyakinan dan perlindungan.

Bacaan syahadat yang benar:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasuluh".

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. (HR. Muslim no. 902)

2. Membaca Shalawat

Membaca shalawat akan mendatangkan rahmat dan perlindungan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali". (HR. Muslim no. 408)

Di antara shalawat yang diajarkan:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

3. Membaca Doa Nabi Dzun Nun (Nabi Yunus)

Doa ini mengandung pengakuan akan keesaan Allah dan penyesalan atas kesalahan diri. Rasulullah menjelaskan keutamaan doa ini:

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ ... لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ...

Doa Nabi Dzun Nun (Nabi Yunus): La ilaha illa anta subḥanaka innī kuntu minaz-zalimin

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu kesulitan, kecuali Allah akan mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3505; shahih menurut Al-Albani)

4. Mengerjakan Shalat Sunnah

Shalat sunnah dapat menjadi perantara mendekatkan diri kepada Allah dan menghapus dosa.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ...

Wa aqimiṣ-ṣalāta ṭarafayi an-nahāri wa zulafan mina al-layl

Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada bagian-bagian permulaan dari malam… (QS. Hud: 114)

Sebelum shalat, berwudhu terlebih dahulu. Jika tidak ada air, bertayamumlah. Setelah itu bermunajatlah kepada Allah, memohon agar dikembalikan ke alam nyata dalam keadaan selamat.


Kesimpulan

Dari berbagai kisah dan pengalaman yang tersebar di tengah masyarakat, dapat kita pahami bahwa keberadaan alam jin dan pintu gerbang menuju alam ghaib bukanlah hal yang mustahil. Islam mengakui keberadaan bangsa jin sebagai makhluk ciptaan Allah yang hidup di dimensi berbeda dari manusia. Namun, bagaimana cara seseorang bisa memasuki alam mereka, kapan dan dimana lokasinya, tetap menjadi rahasia yang tidak seluruhnya diketahui manusia.

Jika suatu saat tanpa sengaja seseorang memasuki wilayah tersebut, Islam telah memberikan panduan perlindungan, yaitu dengan:

  1. Mengucapkan Syahadat sebagai bukti keimanan dan penyerahan diri kepada Allah.
  2. Membaca sholawat
  3. Membaca Doa Nabi Yunus untuk memohon pertolongan dan pengampunan.
  4. Mendirikan Shalat Sunnah sebagai bentuk permohonan kembali ke alam nyata dan memohon ampunan Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Urutan Tanda-Tanda Kiamat Menurut Hadits Shahih dan Perkiraan Rentang Waktunya

Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih