Puasa Sunnah dalam Islam: Dalil Shahih dan Keutamaannya

Puasa Ramadhan

Puasa sunnah adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menambah pahala, puasa sunnah juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan meneladani sunnah Rasulullah ﷺ. Banyak hadits shahih yang menjelaskan jenis-jenis puasa sunnah beserta keutamaannya, sehingga amalan ini memiliki dasar yang kuat dalam syariat.

Artikel ini akan membahas puasa sunnah berdasarkan hadits shahih, lengkap dengan dalil dan penjelasan ulama.

Puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’ (HR. Muslim no. 1151).

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa, termasuk puasa sunnah, memiliki pahala khusus yang langsung Allah ﷻ yang menentukannya.

Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)

1. Puasa Senin dan Kamis

Puasa Senin dan Kamis merupakan puasa sunnah yang paling sering dilakukan Rasulullah ﷺ.

Pada hari Senin dan Kamis semua amal diperlihatkan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, dan aku ingin amalku diperlihatkan dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi no. 747 hasan shahih)

Pada hari Senin dan Kamis juga dimana pintu surga dibukakan dan mukmin yang tidak mensekutukan Allah dosanya diampunkan kecuali kedua orang yang bermusuhan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.  Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”[Shahih Muslim Bab IV no. 1987]

Puasa ini dianjurkan bagi siapa saja yang mampu, tanpa syarat harus dilakukan terus-menerus.


2. Puasa Ayyāmul Bīḍ

Rasulullah ﷺ juga menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan hijriyah, khususnya pada tanggal 13, 14, dan 15 yang dikenal sebagai Ayyāmul Bīḍ.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)

Puasa tiga hari setiap bulan memiliki pahala besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1162)

Para ulama menjelaskan bahwa pahala tersebut karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.


Apakah Harus Puasa Tiga Hari Penuh?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah:

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih)

Puasa tiga hari setiap bulan hukumnya sunnah, bukan wajib. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan puasa ini dapat diraih dengan puasa tiga hari apa saja, dan Ayyāmul Bīḍ adalah yang paling utama. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 8, Bab Puasa Tiga Hari Setiap Bulan).

Jika seseorang hanya mampu berpuasa satu atau dua hari, maka ia tetap mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang ia kerjakan, karena setiap puasa sunnah berdiri sendiri pahalanya.


3. Puasa Sya’ban

Berpuasa pada bulan Sya’ban adalah sunah, memperbanyak puasa di bulan itu juga merupakan sunah sampai-sampai Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertutur:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka; dan pernah beliau senantiasa berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa. Aisyah Radhiyallahu anhuma melanjutkan,

…وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِـيْ شَعْبَانَ.

“Aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan, kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan yang lain melainkan pada bulan Sya’ban.”[HR. Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156-1175]

Artinya dibulan sya'ban kita dianjurkan perbanyak puasa sunah, karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam mengerjakan puasa di bulan Sya'ban hampir penuh dibandingkan bulan lainnya tapi tidak sepenuh di bulan Ramadhan


4. Puasa Syawal

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal setelah hari raya Idul Fitri. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim No. 1164)

Dari riwayat Tsauban maula menjelaskan:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه :

Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun.” (HR. Ibnu Majah No. 1705)

Kenapa pahala puasa syawal ibawat puasa setahun?

Allah berfirman didalam Al Qur'an surat Al An'am ayat 160:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya“[Al An’am 6:160]

Sehingga makna “seperti puasa setahun” dijelaskan oleh para ulama karena:

Puasa Ramadhan = 30 hari × 10 pahala = 300 hari

Puasa Syawal 6 hari = 6 × 10 pahala = 60 hari

Total = 360 hari (± satu tahun)


5. Puasa Dzulhijjah

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling utama dibanding dengan hari-hari yang lainnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa sepuluh hari tersebut adalah hari-hari yang paling utama di dunia, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan untuk memperbanyak amalan shâlih pada hari-hari tersebut. Semua amalan shâlih yang dikerjakan pada sepuluh hari ini lebih dicintai oleh Allâh dari pada amalan-amalan shalih yang dikerjakan pada selain hari-hari tersebut. Ini menunjukkan betapa utamanya amalan shâlih pada hari tersebut dan betapa banyak pahalanya. Amalan-amalan shâlih yang dikerjakan pada sepuluh hari tersebut akan berlipat ganda pahalanya, tanpa terkecuali.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih).

Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa puasa, shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.


6. Puasa Arofah

Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah dianjurkan bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibawah haji, biasanya dilakukan sehari sebelum hari raya Idul Adha. Pahala puasa Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Seperti yang dijelaskan Abu Qotadah Al Anshoriy dibawah ini:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).

7. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram, sementara puasa Tasu'ah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram yang bertujuan sebagai pembeda ibadah puasa yang menjadi kebiasaan puasa orang Yahudi pada tanggal 10 Muharram. Keutamaan kedua puasa ini yaitu menghapuskan dosa setahun yang lalu. Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[ Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55]

Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas yaitu menghapus dosa setahun yang lalu. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa Tasu’a pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab (Yahudi).

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Kedua puasa Asyura dan Tasu’a ini dilakukan berurutan, namun jika hanya mampu satu hari, sebaiknya dianjurkan melaksanakan puasa Asyura (10 Muharram).


8. Puasa Daud

Puasa sunnah yang paling utama adalah puasa Daud ‘alaihis salam, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”[ Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H]

Puasa Ramadhan

Ketentuan dalam Melaksanakan Puasa Sunnah yang Perlu Diketahui

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain memiliki keutamaan besar, pelaksanaannya juga memiliki beberapa ketentuan yang penting untuk diperhatikan agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

Berikut ini adalah beberapa ketentuan puasa sunnah yang perlu dipahami oleh setiap muslim.


1. Niat boleh kapan saja

Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah terbit fajar, selama seseorang belum makan, minum, dan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Hal ini didasarkan pada hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154).

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Shahih Muslim memberi judul bab hadits ini:

“Bolehnya berniat puasa sunnah di siang hari sebelum zawal (matahari bergeser ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah tanpa udzur.”

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa puasa sunnah memiliki kelonggaran dalam niat, selama syarat-syaratnya terpenuhi.


2. Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah

Seseorang yang telah berniat puasa sunnah diberi pilihan untuk menyempurnakan atau membatalkannya. Hal ini juga didasarkan pada hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Puasa sunnah bersifat pilihan, baik saat memulainya maupun saat meneruskannya. Pendapat ini dianut oleh sejumlah sahabat, Imam Ahmad, Ishaq, dan para ulama lainnya. Meskipun demikian, para ulama sepakat bahwa menyempurnakan puasa sunnah lebih dianjurkan, termasuk menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Dengan kata lain, meskipun boleh dibatalkan, menyempurnakan puasa sunnah tetap lebih utama dan berpahala lebih besar.


3. Istri harus izin suami

Dalam Islam, seorang istri tidak diperbolehkan berpuasa sunnah tanpa izin suami apabila suaminya berada di rumah. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini khusus untuk puasa sunnah yang tidak terikat waktu tertentu. Larangan tersebut bersifat haram menurut mayoritas ulama Syafi’iyah, karena suami memiliki hak untuk berhubungan dengan istrinya kapan saja, dan hak tersebut wajib dipenuhi segera.

Namun, jika suami sedang bepergian (safar), maka istri diperbolehkan berpuasa sunnah tanpa izin, karena hak tersebut tidak dapat ditunaikan ketika suami tidak berada di rumah.


Kesimpulan

Puasa sunnah merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam karena memiliki keutamaan besar dan didukung oleh dalil-dalil shahih dari Al-Qur’an dan hadits Rasulullah ﷺ.

Selain bernilai pahala yang langsung Allah ﷻ balas, puasa sunnah juga berfungsi menyempurnakan kekurangan ibadah wajib serta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunnah.

Beragam bentuk puasa sunnah seperti puasa Senin dan Kamis, Ayyāmul Bīḍ, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Arafah, Asyura dan Tasu’a, awal Dzulhijjah, hingga puasa Daud menunjukkan bahwa Islam memberikan banyak pilihan ibadah sesuai kemampuan setiap muslim.

Dengan memahami dalil dan penjelasan para ulama, diharapkan umat Islam dapat mengamalkan puasa sunnah dengan niat yang ikhlas, sesuai tuntunan syariat, serta tetap menjaga keseimbangan dengan kewajiban lainnya. Semoga amalan puasa sunnah menjadi jalan untuk meningkatkan ketakwaan dan mendapatkan ridha Allah ﷻ.

Comments

Popular posts from this blog

Urutan Tanda-Tanda Kiamat Menurut Hadits Shahih dan Perkiraan Rentang Waktunya

Doa Perlindungan Diri Menurut Hadits Shahih