Amalan Ringan yang Dijanjikan Rumah di Surga : Berdasarkan Hadits Shahih
Salam hangat untuk para sahabat blogger! Di dunia ini, tak sedikit dari kita yang memimpikan hunian megah nan indah. Bahkan, rasa kagum—atau kadang iri—muncul saat melihat rumah para hartawan yang menyerupai istana.
Namun, tahukah kita bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa usia manusia umumnya hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya segelintir yang diberi umur lebih panjang?
Jika demikian, seberapa berharganya rumah mewah di dunia ini, bila tak bisa dinikmati selamanya? Justru ada kabar gembira dari Rasulullah ﷺ tentang amalan-amalan yang dapat membuat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى membangunkan rumah abadi untuk kita di surga kelak.
Daftar Amalan yang Dijanjikan Allah Akan Dibangunkan Rumah di Surga
1. Membangun Masjid karena Allah
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun kontribusi kita kecil dalam membangun masjid walaupun sebesar lubang tempat burung bertelur ( مَفْحَصِ قَطَاة ) bahkan lebih kecil lagi, jika ikhlas karena Allah, maka balasannya sangat besar: rumah di surga.
Hadits lain diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menyebutkan:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450; Muslim no. 533)
Hadits dari Utsman tersebut juga menunjukkan keutamaan membangun masjid dengan niat ikhlas karena Allah. Balasannya adalah rumah di surga yang “semisal itu”—yakni jauh lebih indah dan kekal.
Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut secara tekstual. Maksudnya, siapa membangun masjid dengan menambah bagian kecil saja yang dibutuhkan misalnya memberi beberapa ribu rupiah yang hanya bisa dibelikan sebuah batu bata atau beberapa butir paku, tambahan tersebut seukuran tempat burung bertelur; atau bisa jadi caranya, para jama’ah bekerja sama untuk membangun masjid dan setiap orang punya bagian kecil seukuran tempat burung bertelur; ini semua masuk dalam istilah membangun masjid. Karena bentuk akhirnya adalah suatu masjid dalam benak kita, yaitu tempat untuk kita shalat.
2. Membaca Surat Al-Ikhlas Sepuluh Kali
Amalan yang satu ini begitu ringan, namun pahalanya luar biasa bagi siapa pun yang benar-benar mengharap rumah di surga. Cukup dengan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali setiap hari, Allah ﷻ menjanjikan balasan berupa rumah di surga yang kekal dan penuh kenikmatan. Daripada waktu kita habis untuk membaca berita di internet atau berselancar di media sosial, alangkah indahnya jika kita luangkan sejenak untuk amalan ini. Mari kita berlomba-lomba meraih pahala besar dengan hati yang ikhlas dan harapan yang tulus.
Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang membaca qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (surat Al-Ikhlas, pen.) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguat)
3. Menjaga Lisan dari Perdebatan, Dusta, dan Berakhlak Mulia
Sobat blogger yang dirahmati Allah, tahukah kamu bahwa Allah sangat membenci orang yang gemar berdebat, apalagi jika dilakukan dengan keras dan penuh amarah? Sifat ini bukan hanya merusak akhlak, tapi juga menjauhkan dari rahmat-Nya.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari, no. 4523; Muslim, no. 2668)
Karena besarnya bahaya dari sikap suka berdebat, Rasulullah ﷺ menganjurkan kita untuk meninggalkan segala bentuk perdebatan—baik saat kita berada di pihak yang salah maupun saat kita benar. Sikap ini menunjukkan kematangan iman dan akhlak yang luhur.
Begitupun dengan orang yang berdusta yang dengannya membuat orang lain tertawa, hal ini pula dilaknat oleh Rasulullah ﷺ. Sering kali kita terhibur dengan adanya komedian dan guyonan di televisi, akan tetapi terkadang kita tidak tahu apakah cerita tersebut benar atau bohong, apabila ternyata cerita lelucon tersebut adalah bohong maka celakalah orang yang membuat lelucon supaya orang lain tertawa tersebut, seperti yang disampaikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dibawah ini.
Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin rumah di surga bagi mereka yang meninggalkan berkata dusta walaupun dalam hal bercanda. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa Allah akan membangunkan istana bagi orang yang meninggalkan dusta, meninggalkan perdebatan dan yang baik akhlaknya:
مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ لَهُ بُنِيَ قَصْرٌ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِيْ أَعْلاهَا
“Barangsiapa yang meninggalkan dusta (dalam debat) sementara dia berada diatas kebatilan, maka akan dibangunkan baginya istana di pinggiran Surga. Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka akan dibangunkan baginya istana di tengah Surga. Dan barangsiapa yang membaguskan akhlaknya maka akan dibangunkan baginya istana di atas Surga.” HR Ibnu Majah (51), serta at-Tirmidzi (1993). Syaikh al-Albani menghasankan lafazh ini. Lihat Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138.
4. Mengerjakan Shalat Sunnah Rawatib (12 Rakaat Sehari Semalam)
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira yang luar biasa bagi siapa saja yang menjaga amalan ringan namun penuh berkah ini: shalat sunnah rawatib. Dalam dua hadits yang diriwayatkan dari Ummu Habibah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa siapa pun yang mengerjakan 12 raka’at shalat sunnah dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah di surga untuknya.
Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728)
Untuk mendapatkan ganjaran dibangun sebuah rumah di surga tersebut ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i tersebut merinci bentuk amalan tersebut, yaitu:
- 🕋 4 raka’at sebelum Zhuhur
- 🕋 2 raka’at setelah Zhuhur
- 🕋 2 raka’at setelah Maghrib
- 🕋 2 raka’at setelah ‘Isya
- 🕋 2 raka’at sebelum Shubuh
Amalan ini dikenal sebagai shalat sunnah rawatib muakkadah—shalat sunnah yang sangat dianjurkan dan senantiasa dijaga oleh Nabi ﷺ.
5. Menjaga shalat Dhuha empat rakaat dan sebelum Zhuhur empat rakaat
Salah satu bentuk penghormatan dari Allah bagi hamba yang rutin menjaga ibadah sunnah dengan istiqamah yaitu dengan mengerjakan sholat sunnah Dhuha empat rakaat dan sunnah sebelum Zhuhur empat rakaat maka Allah akan membrikannya rumah di surga yang menggambarkan kemuliaan, ketenangan, dan balasan abadi untuk amal kecil namun penuh keikhlasan.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang shalat Dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadits ini hasan)
6. Mengucap Alhamdulillah dan Istirja’ Saat Kehilangan Anak
Dalam kehidupan, tidak ada ujian yang lebih berat bagi seorang hamba dibanding kehilangan orang yang dicintainya, terutama seorang anak. Namun Islam mengajarkan bahwa di balik setiap musibah, terdapat hikmah besar dan pahala yang agung bagi hamba yang tetap bersabar dan ridha terhadap ketentuan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bagi mereka yang menghadapi ujian ini dengan penuh keimanan dan pujian kepada Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujiMu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Penjelasan hadits diatas maksud "anak seorang hamba" disini yaitu anak yang belum baligh. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ
“Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, yang belum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Bukhari 1248 dan Nasai 1884)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh, maka anak itu akan menjadi hijab (tameng) baginya dari neraka, atau dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari – bab 91)
Sementara penjelasan kata "Ia memujiMu" artinya mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah).
7. Menutup Celah Shaf dalam Shalat
Dalam shalat berjamaah, sering kali kita melihat barisan shaf yang masih renggang, sementara sebagian jamaah enggan melangkah maju karena merasa nyaman di tempatnya. Padahal, meluruskan dan menutup celah dalam shaf bukan perkara sepele. Di balik amalan sederhana itu, tersimpan janji agung dari Allah — balasan surga bagi mereka yang menyempurnakan shaf.
Menutup celah berarti menjaga kesatuan hati dalam ibadah, menandakan ketaatan, dan mencerminkan indahnya persaudaraan di antara kaum Muslimin.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)
8. Beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Wujud keimanan sejati kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan kepada sunnah-sunnah beliau. Seorang mukmin yang benar-benar mencintai Nabi akan berusaha mengikuti setiap ajaran dan teladan beliau, serta menjauhi segala bentuk amalan yang tidak pernah dicontohkan (bid‘ah).
Dengan meneladani sunnah Rasul, kita bukan hanya meniti jalan kebenaran, tetapi juga menunjukkan cinta sejati kepada beliau dan harapan untuk bersama beliau di surga kelak.
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ
“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan, ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Kesimpulan
Amalan-amalan di atas menunjukkan bahwa surga bukan hanya untuk mereka yang melakukan ibadah besar, tetapi juga bagi yang konsisten dalam amalan ringan namun ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah bangunkan rumah di surga melalui amalan-amalan tersebut. Aamiiin
Comments
Post a Comment