Manfaat Sholat Dhuha dan Niatnya: Rahasia Rezeki Lancar dan Pahala Berlimpah
Hai sahabat blogger! Pada kesempatan kali ini, penulis ingin berbagi sedikit ilmu mengenai keutamaan dan manfaat dari sholat dhuha. Banyak di antara kita yang menunaikan sholat dhuha semata-mata agar rezekinya dimudahkan. Padahal, jika sholat dhuha dilakukan dengan niat tulus karena mengharap ridha dan pahala dari Allah, maka keutamaannya akan jauh lebih besar dan penuh berkah.
Lantas, apa saja sebenarnya manfaat sholat dhuha itu? Mari kita simak penjelasan berikut ini.
Hukum Sholat Dhuha
Berdasarkan pendapat yang paling kuat, sholat Dhuha termasuk sunnah mutlak dan dianjurkan untuk dapat dirutinkan. Hadits Imam Muslim meriwayatkan:
وَلَهُ عَنْهَا: أَنَّها سُئِلَتْ: «هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يُصَلِّي الضُّحَى؟»، قَالَتْ: «لاَ، إلاَّ أَنْ يَجيء مِنْ مَغِيبِهِ».
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia ditanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukan shalat Dhuha?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali apabila beliau pulang dari safarnya.” [HR. Muslim, no. 717]
Hadits Imam Muslim tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ jarang menunaikan sholat Dhuha, kecuali ketika beliau kembali dari perjalanan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat ini kepada Abu Hurairah untuk diamalkan, dan pesan mulia ini pun berlaku bagi seluruh umat. Abu Hurairah bersaksi:
أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga nasehat padaku: 1. Berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2. Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan 3. Berwitir sebelum tidur.” [HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721]
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim no. 783]
Untuk sobat Blogger, meskipun Rasulullah ﷺ tidak menjadikan sholat Dhuha sebagai kebiasaan harian, kita tetap diperbolehkan untuk merutinkannya, meski hanya dua raka’at, karena sholat ini termasuk amalan yang dicintai Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim no. 783. Sholat Dhuha pun dapat menjadi rutinitas apabila kita menambah amalan lain setiap hari, seperti bersedekah pada tiap persendian, berzikir, membersihkan masjid, dan menyingkirkan gangguan di jalan, sesuai penjelasan hadits riwayat Imam Ahmad No. 5/354 dan Muslim no. 720.
Niat Sholat Dhuha
Perlu kita renungkan, ketika seseorang meniatkan sholat dhuha hanya demi kelancaran rezeki, maka Allah akan memberikan kelancaran itu sesuai kehendak-Nya, namun tanpa disertai pahala di sisi-Nya. Sebaliknya, bila sholat dhuha dilakukan dengan niat mencari pahala dan keridhaan Allah semata, maka Allah akan memudahkan rezekinya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
Renungkan sejenak: bila sholat Dhuha hanya dikerjakan untuk kelancaran rezeki semata, Allah mungkin memberikannya sesuai kehendak-Nya, tetapi pahala di sisi-Nya belum tentu didapatkan. Namun, jika sholat Dhuha dilakukan dengan niat tulus mencari keridhaan Allah, maka Allah akan memudahkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Indahnya, sholat Dhuha di pagi hari ini berpadu harmonis dengan sholat Tahajud di malam hari; keduanya bagai dua sayap yang menuntun jiwa menuju kedekatan dengan Allah, menyeimbangkan ibadah antara malam dan pagi, dan mendatangkan keberkahan serta rahmat dalam setiap langkah hidup kita.
Firman Allah Ta’ala:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.” (QS Huud: 15–16)
Kemuliaan ayat ini dijelaskan lebih lanjut oleh firman Allah Ta’ala dalam ayat lainnya:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia yang segera (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan. Kemudian Kami sediakan untuknya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isra’: 18)
Dalam surat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq: 2–3)
Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barangsiapa tujuan hidupnya hanyalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan ia tidak akan memperoleh dunia kecuali sesuai takdir yang telah ditetapkan baginya. Namun, barangsiapa yang niat hidupnya adalah untuk akhirat, maka Allah akan memudahkan segala urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)
Berdasarkan kandungan makna dari dalil Al-Qur’an dan hadits shahih di atas, dapat disimpulkan bahwa siapa pun yang beramal shaleh dengan tujuan semata-mata untuk memperoleh ganjaran duniawi, maka Allah Ta’ala hanya akan memberinya sesuai dengan kehendak-Nya. Bisa jadi keinginannya tercapai, namun tak jarang pula tidak dikabulkan, bahkan urusannya menjadi berantakan karena tidak mendapat keberkahan dari Allah.
Sebaliknya, apabila seseorang beramal shaleh dengan niat tulus karena mengharapkan ridha dan balasan dari Allah semata, maka Allah akan membukakan jalan keluar baginya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, menanamkan rasa cukup di hatinya, dan dunia akan menghampirinya dalam keadaan hina — artinya segala kebutuhan duniawi akan datang dengan mudah tanpa ia mengejarnya.
Oleh karena itu, mulai saat ini ketika kita menunaikan sholat dhuha, niatkanlah semata-mata untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala. Laksanakanlah sholat dhuha karena mengikuti wasiat dan perintah Rasulullah ﷺ, bukan demi urusan dunia, melainkan demi kemuliaan di sisi Allah.
Faedah Sholat Dhuha
Berikut beberapa faedah sholat Dhuha yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk kita amalkan:
1. Pahala Haji dan Umrah yang Sempurna
Diceritakan oleh Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
"Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk – dalam riwayat lain: ia menetap di masjid – untuk berzikir kepada Allâh sampai matahari terbit, kemudian ia shalat dua raka’at, maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." [HR at-Tirmidzi, II/481 no.586 dan dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîtsish Shahîhah, IX/189 no.3403, dan Misykatul Mashâbîh, I/212 no.971, dan Shahîhut Targhîb wat Tarhîb, I/111 no.464].
Sholat dua rakaat yang dimaksud di sini adalah sholat Isyroq, yakni sholat Dhuha yang dikerjakan di awal waktu Dhuha. Bagi sobat Blogger yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji dan umrah, marilah kita berlomba-lomba meraih pahala haji dan umrah yang sempurna, cukup dengan berdiam diri setelah sholat Subuh hingga awal waktu Dhuha sambil menunaikan sholat Isyroq tersebut.
2. Bersedekah untuk 360 persendian tubuh
Perlu kita ketahui, tubuh manusia memiliki 360 persendian, sebagaimana disebutkan dalam hadits dan juga dibuktikan oleh ilmu kesehatan. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” [HR. Muslim no. 1007]
Hadits ini menjadi bukti keabsahan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sedekah untuk 360 persendian tersebut bisa digantikan dengan menunaikan sholat Dhuha, sebagaimana dijelaskan pula dalam hadits berikut:
أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ »
“Dari Abu Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” [HR. Ahmad No 5/354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi]
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no. 720).
Perlu dicatat, sobat Blogger, bahwa setiap hari seluruh 360 persendian tubuh kita dianjurkan untuk “bersedekah” melalui berbagai amalan, seperti membersihkan kotoran di masjid, menyingkirkan gangguan di jalan, berdzikir dengan ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, atau menunaikan sholat Dhuha dua rakaat.
3. Mencukupi kebutuhan, menghindari bahaya, dan menjauhi dosa
Hadits riwayat Imam Ahmad menyatakan:
عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ الْغَطَفَانِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ ».
Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” [HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih]
Hadits ini mengandung makna bahwa dengan menunaikan empat rakaat sholat Dhuha, segala kebutuhan seseorang akan tercukupi dan ia akan terlindungi dari berbagai bahaya. Selain itu, sholat Dhuha juga dapat menjaga pelakunya dari terjerumus dalam dosa, atau jika terjerumus, Allah akan memberikan ampunan. Maknanya bahkan bisa lebih luas lagi dari itu.
4. Lebih banyak hartanya dari rampasan perang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بعَث رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم سَرِيَّةً فغنِموا وأَسرَعوا الرَّجعَةَ فتحَدَّث الناسُ بقُربِ مَغزاهم وكثرَةِ غَنيمَتِهم وسُرعَةِ رَجعَتِهم فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ألَا أدُلُّكم على أقرَبَ منه مَغزًى وأكثرَ غَنيمَةً وأَوشَكَ رَجعَةً مَن توَضَّأ ثم غَدا إلى المَسجِدِ لِسُبحَةِ الضُّحَى فهو أقرَبُ مَغزًى وأكثَرُغَنيمَةً وأَوشَكُ رَجعَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan perang kemudian pasukan itu mendapatkan harta rampasan dan pulang cepat. Maka, para sahabat banyak yang membicarakan tentang pasukan tersebut yang tujuannya dekat, rampasan perangnya banyak, dan cepat kembali.
Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih dekat tempat perangnya, lebih banyak harta rampasan perangnya, dan lebih cepat kembali?"
Beliau melanjutkan, "Barangsiapa yang berwudu lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Dhuha, maka itulah yang lebih dekat tempat perangnya, lebih banyak harta rampasan perangnya, dan lebih cepat kepulangannya." (HR. Ahmad no. 6638 dan Thabrani no. 14684)
Meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut pahala salat Dhuha lebih besar dari harta rampasan perang, penting bagi sobat semua untuk selalu menjaga niat. Sholat Dhuha jangan hanya dilakukan untuk mengharap rezeki atau keuntungan dunia semata, melainkan arahkan hati hanya untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah bagi akhirat kelak.
5. Termasuk Golongan Orang yang Kembali Taat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1224 dan dihasankan oleh Syekh Albani dalam kitabnya, Shahih Al-Jami’ no. 7628)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Sebagian ulama menambahkan, maknanya juga mencakup orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6:30).
Bagi sobat blogger yang rajin menunaikan sholat dhuha, semoga kita termasuk golongan yang senantiasa kembali taat kepada Allah. ‘Kembali taat’ di sini berarti bertaubat dan memperbaiki diri di hadapan-Nya. Aamiiin.
Jumlah Rakaat Sholat Dhuha
Salat Dhuha minimal dua rakaat, sedangkan jumlah maksimalnya menurut pendapat yang paling kuat tidak terbatas. Jadi, boleh hanya dua rakaat, empat rakaat, atau lebih, asalkan jumlahnya genap. Jika ingin melaksanakan lebih dari dua rakaat, lakukan setiap dua rakaat dengan salam.
Dalil mengenai minimalnya salat Dhuha dua rakaat terdapat dalam hadits Imam Ahmad (No. 5/354) dan Imam Muslim (No. 720) di atas.
Sementara itu, dalil yang menunjukkan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan salat Dhuha lebih dari dua rakaat dan bahwa jumlah maksimalnya tidak terbatas, juga terdapat dalam berbagai hadits shahih.
مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.
Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.”[HR Muslim No. 719]
Dari hadits di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menunaikan empat rakaat sholat Dhuha, yang dilakukan tiap dua rakaat, dan jumlah rakaatnya bisa dilanjutkan sesuai kehendak beliau tanpa batasan tertentu.
Waktu Sholat Dhuha
Sholat Dhuha dimulai ketika matahari mulai meninggi hingga menjelang waktu zawal (saat matahari bergeser ke barat). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, waktu sholat Dhuha dimulai saat matahari setinggi tombak jika dilihat dengan mata telanjang, yaitu kira-kira 20 menit setelah matahari terbit, hingga 5–10 menit sebelum matahari benar-benar bergeser ke barat.
Sedangkan waktu yang paling utama untuk menunaikan sholat Dhuha adalah di akhir waktu, saat cuaca mulai terasa panas. Dalilnya adalah:
أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».
Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk taat) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.”(HR. Muslim no. 748).
KESIMPULAN
Sholat Dhuha adalah ibadah sunnah yang mendatangkan pahala besar, menggantikan sedekah untuk 360 persendian, mencukupi kebutuhan, melindungi dari bahaya dan dosa, setara pahala haji dan umrah, menjadikan pelakunya awwab, serta lebih bernilai dari harta rampasan perang; mari sobat pembaca istiqamah menunaikannya setiap hari dengan niat ikhlas hanya untuk Allah, agar hidup penuh berkah dan hati selalu tenang.
Demikian beberapa ilmu dan faedah seputar sholat Dhuha yang bisa penulis bagikan. Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya, mengamalkannya dalam keseharian, dan menunaikannya dengan niat tulus hanya untuk meraih pahala serta keridhaan Allah di akhirat. Wallahu 'alam bissawab.
Comments
Post a Comment